‘Alkisah ada seorang pemuda yang datang kepada gurunya, kemudian mengeluh tentang semua kejelekan ibunya. Mendengar hal itu sang guru lalu memerintahkan pemuda tersebut untuk menuliskan semua kejelekan ibunya di secarik kertas. Lalu ditulislah semua keburukan dan kejelekan ibunya tersebut, mulai dari ibunya sok tahu, pendengki, pendedam, suka menghina, dan bla bla bla. Setelah itu sang guru kemudian memerintahkan pemuda tersebut untuk menulis semua kebaikan ibunya. Tak lama berpikir, sang pemuda-pun mulai menulis lagi; sewaktu di perut ibu, sembilan bulan aku tak henti-hentinya menghisap darah ibu, saat itu beliau sangat lelah. Jangankan berjalan, berbaring-pun terasa sakit bahkan bernafas-pun sulit, dan seterusnya, dan sebagainya, dan lain-lain.
Lama menulis dengan penuh penghayatan, tak terasa berlinanglah air matanya. Ia mulai sadar bahwa apapun bentuk kejelekan ibunya tersebut, itu tak akan sebanding dengan apa yang telah ibunya lakukan terhadapnya.’