Cerita dibalik Ketupat Lebaran


        “Ketupat? Hah? Ketupat? Ih, jangan harap gue mau!” Galang memanyunkan bibirnya. Cowok 16 tahun ini masih saja setia dengan handphone Nokia Lumia 610 yang dibelikan maminya kemarin. Di malam lebaran ini, tangannya sudah benar-benar gatal ingin menyambet kunci motor maticnya yang sedari tadi disita oleh maminya. Pantatnya juga turut gatal tak sabaran ingin pawai keliling kota bersama sahabat-sahabatnya, Ari, Yoga dan Lilis. Ya, malam idul fitri begini sudah tak lazim kalau remaja seumurannya hanya tinggal diam di rumah sambil menatapi ketupat dan opor ayam yang sudah menjadi andalan tiap tahunnya. Apalagi Galang begitu benci dengan ketupat. Alasannya? Sesuatu.
Hanya itu yang dikatakannya tiap ditanya mengapa tak suka dengan ketupat. Karena salah satu ‘kegilaannya’ ini, terpaksa maminya harus masak nasi putih lagi. Dan dengan terpaksa pula, ketupat-ketupat di rumah ‘wajib’ dihabiskan oleh papinya. Galang hanya ngacir jika mami dan papinya sudah marah-marah gara-gara ketupat. Sambil tersenyum manja ia pun melirik maminya dan mengerdipkan sebelah matanya. Jurus andalan Galang ketika maminya sudah naik darah, dan lucunya jika sudah melakukan ‘kegilaannya’ itu maminya hanya bisa menghembuskan nafas pelan sambil sesekali berdalih dalam hati. Galang, Galang!
         “Mi, kunci motornya, dong!” Galang memohon kepada maminya, manja.
         “Nggak, Mami gak bakal kasi ini ke kamu. Galang, bahaya di luar sana. Kamu tahukan malam ini semua orang pada pawai keliling kota. Nanti kamu kenapa-kenapa lagi.” Maminya menimpali, dengan alasan yang cukup valid tentunya.
         “Ah, Mami. Kayak aku ini anak kecil aja. Aku udah janjian, Mi.” Galang terus memohon.
         “Janjian sama siapa? Pacarmu?” Kali ini maminya sedikit membelalakkan mata.
         “Ah, nggak! Mami bisa aja. Sejarah baru kalau Galang Aditya Perdana punya pacar!” Galang semakin emosi.
         “Ah, tetap tidak bisa. Mami gak bakalan ngijinin. Titik!” Maminya kemudian menghentak meja. Agak keras rupanya hingga ia sendiripun tak sadar bahwa tangannya sudah merah sehabis berciuman dengan meja. Galang yang melihatnya hanya memanyunkan bibir sambil memendam rasa amarah yang bisa saja membludak sewaktu-waktu.

Lis, tanyain teman-teman. Gue gak jadi otw. Dilarang sama nyokap yang sok protektif :@
Galang mengirimi Lilis sebuah pesan singkat. Tak beberapa lama kemudian, Lilis membalas sms dari Galang.
Waduh, padahal teman-teman dah pada nungguin nih. Okd mas bro, laporan lo siap gue sampein!
Galang hanya menatap sayu inbox-nya. Ingin rasanya handphone yang digenggamnya saat itu dilempar keluar jendela, namun rasa ‘takut rugi’ langsung merayapi hati kecilnya yang begitu tinggi dengan perhitungan yang amat matematis. Dramatis.
         Masih dalam lamunannya yang sudah menjalar ke jalanan yang sedang ikutan pawai keliling kota, Galang kemudian mendengar seseorang mengetok pintu kamarnya.
Tok tok!
         “Ya, masuk!”
         “Aduh, anak papi kenapa?” Ternyata yang mengetuk pintu tadi adalah papinya.
         “Ah, Galang lagi males, Pi.” Galang menjawab pertanyaan papinya, masih sambil  menatapi handphone yang dibolak-baliknya sedari tadi.
         “Papi tahu, kok. Waduh, jangan lemas gitu dong, Lang!”
         “Gimana gak lemes, malam ini kan ceritanya Galang sama teman-teman mau have fun, Pi! Ini kan malam lebaran. Mami gak asyik banget deh.” Galang tak sadar menyampaikan isi hatinya, curhat alias curcol.
         “Hm, gimana kalau malam ini kamu jalan ama Papi aja? Kan kamu juga bisa skaligus ketemu sma temen-temen kamu. Tapi harus sama Papi yah, gak boleh kabur!” Galang langsung terhipnotis oleh kata-kata papinya. Seakan tak percaya.
         “Beneran, Pi?” Mata Galang membelalak.
         “Iya iya, biar mami Papi yang urus.” Papinya semakin meyakinkan.
         “Ihi, Papi baik banget sih ini malam. Kesambet apa, Pi? Hihi.” Baru saja papinya ingin angkat bicara, Galang langsung lari nyerocos untuk berbenah. Papinya hanya bisa garuk-garuk kepala melihat anak semata wayangnya makin hari makin miring otaknya.
***
         “Ok, Mi. Galang sama papi berangkat dulu, yah. Dada mami! Mmmmmaah!” Galang melambaikan tangan ke arah maminya yang sudah was-was tingkat tinggi. Maminya hanya manggut-manggut ‘tak rela’ melihat suaminya yang tak bisa diajak kompromi. Sejenak motor Galang dan papinya kemudian melaju melewati jalan yang sudah ramai dipadati oleh anak-anak muda yang sedang berkencan dengan pacarnya, rata-rata. Selainnya hanya mangkal dengan sobat-sobat karibnya dengan perbincangan yang cukup hangat.
         Sesampai di tempat tujuan (pinggir pantai maksudnya), Galang kemudian berjalan perlahan menuju kumpulan sahabat-sahabatnya yang sedari tadi sudah pesta Coca-Cola.
         “Eh, kirain lo kagak dateng, Lang!” Yoga yang melihat Galang langsung nyerocos.
         “Ya, gue datang. Meskipun mesti pake pengawalan ketat sama bokap gue.” Galang menjelaskan sambil menengadahkan telunjuknya ke arah papinya.
         “Ihi,anak papi!” Ari ngacir.
         “Cukup deh, gue gila sekarang. Eh startnya jam berapa?” Tanya Galang, menimpali.
         “Sepuluh menit lagi, katanya.” Ari menjawab dengan mulut penuh busa karbon Coca-Cola.
         “Oh, yah. Eh, Lilis mana?” Mata Galang berdalih ke kanan dan ke kiri mencari sosok seorang Lilis, sahabat ceweknya yang gak tau kenapa bisa berubah jadi tomboi, padahal dia dulu cewek tulen alias feminin banget!
         “Tahu, masih make-up kali!” Ari menjawab sok tahu.
         “Ah, bisa aja lo, Ri. Lis mau make-up’an? Kagak salah? Hehe” Yoga tertawa cengengesan di samping Galang, masih dengan mulut dipenuhi air berkarbonasi Coca-Cola. Galang yang mendengarnya hanya diam dan mengangkat bahu. Kedua sahabatnya ini tidak pernah lepas dari celotehan yang asal-asalan.
         “Lang, dah mau jalan nih pawainya. Kamu ikut sama Papi!” Papi Galang berteriak dengan lantang.
         “Ih, Galang sama teman-teman aja, Pi!” Galang memohon.
         “Tidak, pokoknya mesti sama Papi, kalau nggak mending kamu pulang aja bantuin mamimu masak daging asap!” Papi Galang memaksa.
         “Iya deh, Pi. Galang ngalah aja.” Galang mengiyakan dengan wajah yang cemberut berpangkat-pangkat.
         “Ayo, jalan!” Galang dan papinya-pun akhirnya berangkat pawai bersama-sama. Masih dengan wajah yang kayak habis ditekuk dan dilipat jadi dua  layaknya origami, Galang dengan terpaksa menikmati atmosfer menyedihkan di malam kemenangan ini. Dilihatnya teman-temannya yang lain dengan asiknya mengitari kota suka-suka tanpa ada yang bercuap-cuap di sampingnya. Mereka dengan asyiknya pula merekahkan kembang api sambil menyetir motor tanpa dihantui rasa ketakutan dan kekhawatiran akan kecelakaan; tabrakan atau jatuh dari motor. Papi Galang yang melihat teman-teman Galang hanya geleng-geleng kepala sambil bersyukur dalam hati, untung aku ikut! Seandainya tidak, mungkin Galang sudah ikut-ikutan kayak mereka.
         “Pi, jangan menghayal!” Galang mengagetkan papinya. Sontak papinya hampir kehilangan kendali dan nyaris menjadi korban lindasan motor-motor pawai yang menggila. Untung saja Allah masih berbaik hati padanya, kalau tidak mungkin pada saat itu juga nyawa Pak Aditya Perdana sudah melayang ke nirwana.
         “Papi gak papa?” Galang bertanya perlahan setelah menghentikan motornya sesaat.
         “Nggak, Lang. Papi Cuma kaget aja.”Jawab papinya masih sambil mengelus-elus dadanya yang naik turun untuk mengatur nafas.
         “Kalau gitu kita pulang aja yuk, Pi!” Apa? Pulang? Sejak kapan Galang langsung mengeluarkan respon demikian?
         “Apa kamu bilang? Pulang? Kamu yakin? Papi gak mau malam ini kamu semakin kecewa.” Papinya semakin merasa bersalah.
         “Nggak kok, Pi. Yuk!” Galang lalu menyalakan mesin motornya dan mengajak papinya pulang. Akhirnya papinya kemudian menurut meskipun masih dihantui rasa penasaran yang sangat.
***
         “Lho, kok cepat pulang?” Mami Galang bertanya setelah membuka pintu rumah dan dilihatnya suami serta anak tunggalnya yang ‘unyu-unyu’ pulang lebih cepat daripada jadwal yang telah ditentukan. Galang tak merespon. Ia langsung ngacir ke kamarnya dengan mulut yang membisu dan bibir yang terkunci rapat. Maminya lalu menaikkan alisnya tanda bertanya kepada papinya, namun papinya hanya menaikkan bahu tanda tidak tahu seperti biasanya.
         “Pi, kenapa tuh si Galang?” Maminya bertanya, penasaran.
         “Papi juga gak tahu, mami sayang!” Papinya lalu menjawab manja dan langsung melancarkan sebuah ciuman mesra di jidatnya. Maminya hanya memandang sinis dan merespon dengan senyuman penuh cinta. Entah apa yang terjadi selanjutnya hingga keduanya-pun akhirnya masuk kamar. Hihi. Melampiaskan.
***
Dear Galang,
saat kutulis surat ini tak tahu mengapa aku langsung berlinang air mata
kutahu, aku tak pantas. Sama sekali tak pantas dengan apa yang kumiliki sekarang ini
memilikimu,
memiliki orang sepertimu
aku sama sekali tak menyangka mengapa dengan gampangnya kau memilih diriku
aku yang sarat akan begitu banyak kekurangan
aku yang sarat akan begitu banyak kelemahan
aku tak mengerti
dan sampai kapanpun mungkin takkan pernah mengerti
mengapa Tuhan mempertemukan engkau denganku?
kau tahu, semenjak bertemu denganmu aku tahu telah ada gejolak rasa yang membara di hati kita masing-masing
namun aku selalu berdoa semoga Tuhan tak menjadikan rasa itu semakin berlebih
aku tak mau cinta suci itu berakhir dengan kepedihan yang bisa saja menjadi luka tersakit setelah menusuk relung hati terdalam
aku tak mau cinta suci itu harus menjalani semua rintangan yang tak seharusnya
meskipun awalnya lebih indah dan lebih manis dibandingkan kisah cinta Romeo dan Juliet.
Galang,
mungkin ketika kau membaca sepatah dua patah kata ini
kau telah tak menjadi milikku
mungkin kapalku juga telah bersandar di pelabuhan di seberang sana
namun kau tahu,
kau akan selalu ada di sini, di hatiku
tak ada yang bisa menggantikan kedudukanmu
ku mohon jangan kau sia-siakan air matamu hanya untuk menangisi diriku
masih banyak gadis cantik di luar sana yang butuh perhatian khusus darimu
bukan cuma aku!
tolong lupakan aku! Kalau perlu benci diriku!
itu semua agar aku juga tenang, hidup tanpa bayang-bayangmu.
Kumohon,
Vita Adesetyarini.
         Berapa kali dibolak-baliknya kertas lusuh yang sudah dua tahun ini menjadi salah satu penghuni kotak rahasianya. Galang masih termenung sambil sesekali menelan lirih air liurnya. Sudah jam setengah dua belas malam namun suara riuh kendaraan bermotor serta takbir masih menggema melalui sela-sela jendela. Galang tak henti-hentinya menatapi hiasan ketupat yang dipajang maminya di pintu masuk kamarnya. Vita, kenapa kamu mesti jatuh cinta sama ketupat? Mengapa bukan sesuatu yang lain? Kau tahu, sudah 2 tahun ini aku mencoba membenci ketupat, juga agar dapat membencimu namun yang ku dapat hanya perasaan tersiksa dan semakin mengingatmu! Vita, andai kau tahu betapa kangennya aku.Galang memelas dalam hati. Seketika itu pula muncul ide gilanya untuk ‘mencuri’ semua persediaan ketupat maminya. Dan langsung saja, dengan sedikit mengendap-endap ia kemudian melangkahkan kakinya menuju ke dapur. Namun, baru saja akan diraihnya piring berisi ketupat,
GUBRAKKK!
Sebuah piring kaca jatuh dan pecah!
         “Galang!” Tiba-tiba papinya keluar hanya dengan mengenakan sebuah handuk selutut.
         “Astaghfirullahaladzimmm... Galang! Mau kamu apakan ketupat-ketupat mami?” Maminya pun turut keluar dan kaget ketika melihat piringnya pecah dan semua ‘simpanan’ ketupat berada di genggaman Galang.
         “Galang mau buang semua, Mi! Galang frustasi lihat ketupat-ketupat ini! Galang memberontak, penuh dengan tatapan sayu.
         “Hah? Kamu gila!” Maminya kaget bukan kepalang.
         “Nggak, Galang gak gila!” Galang lalu menuju ke tempat pembuangan sampah. Baru saja akan dibuangnya seabrek ketupat yang masih hangat, papinya lalu tiba-tiba muncul dan menampar pipinya dengan keras. Plakkk!
         “Papi?” Mami Galang hanya membelalakkan mata.
         “Kalian gak ngerti, dan mungkin gak bakal pernah ngerti!” Galang mengamuk bak sosok yang sedang kesurupan disinggahi jin yang salah alamat.
         “Ga...” Baru saja maminya akan angkat bicara, Galang langsung ngacir dan berlari masuk ke kamarnya. Maminya ingin mengejar, namun papinya menahannya. “Sudah, biarkan dia sendiri dulu.”
         “KALIAN GAK NGERTIIII!” Galang berteriak dari dalam bilik kamarnya, histeris.
***
Pukul 06.00 pagi
         Semua sudah siap berangkat menuju ke tempat pelaksanaan shalat ‘ied. Dengan memakai baju barunya masing-masing, semua orang sudah ramai pada turun ke jalan untuk bersama-sama menyambut datangnya hari kemenangan. Begitu pula dengan keluarga Pak Aditya Perdana. Istrinya sudah siap memakai gaun tertutup ala Ayu Ting-Ting, dengan balutan jilbab ala hijabers tentunya  sementara ia sudah siap dengan setelan jas hitam serta sarung baru yang halus lembut bagaikan sutera. Namun ada yang kurang. Ya, Galang. Galang masih mengurung diri di kamarnya. Sudah dari sejam yang lalu ia ditawarkan maminya untuk bersama-sama berangkat, namun ia tetap menolak dan memilih hanya berdiam di rumah dengan seribu satu macam alasan. Maminya betul-betul tak tega melihat keadaan yang dialami Galang saat ini. Papinya-pun demikian. Namun, dengan persepsi tak ingin memanjakan anak, ia hanya membiarkan Galang tetap begitu dan begitu. And finally, mereka berdua berangkat dengan menggunakan mobil Rush keluaran baru mereka, tanpa Galang tentunya sebagai penghuni jok belakang. Namun tiba-tiba maminya mengingat sesuatu.
         “Pi, ketupatnya?” Tanyanya, harap-harap cemas.
         “Tenang, udah papi sembunyi kok.” Jawab papinya, woles.
         “Di mana?”
         “Di bawah ranjang kita!” HAH?
         Galang baru saja keluar dari kamar mandi ketika ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya. Bergegas ia-pun mengenakan setelan baju barunya yang dibelikan maminya waktu ke Singapore, tiga hari yang lalu. Dikiranya yang datang seorang atau dua orang tamu agung, ternyata hanya seorang tukang pos yang kasihannya masih bekerja di hari raya nan fitri ini.
         “Dari siapa, Pak?” Tanya Galang ketika pak pos itu menyodorkan sebuah surat.
         “Gak tau, mas. Mungkin ada alamat pengirimnya di belakang. Oh iya, saya berangkat dulu ya, Mas.” Jawab pak pos itu, singkat.
         “Iya, pak. Makasih!” Belum saja Galang berbalik menunggu ucapan terima kasihnya di respon, pak pos itu sudah nyelonong pergi. Apa ya isinya? Tanya Galang dalam hati. Dibolak-baliknya amplop surat tersebut, tak ada alamat pengirimnya. Dengan dihantui rasa penasaran berlebih, ia akhirnya membuka amplop tersebut dan dilihatnya ada sebuah surat berwarna pink keemasan dalamnya.
Galang,
ini aku. Mungkin kamu sudah lupa dengan aku.
namun kau tahu, aku gak bakal lupa semua tentang dirimu.
di hari lebaran ini, aku cuma mau ngucapin “MINAL AIDIN WAL FAIDZIN”
maaf lahir batin ya.
aku janji bakal ziarah ke rumah kamu, trus makan ketupat sama-sama kamu lagi
tunggu aku,ya.
I Still love you
Vi.
Vi? Vita? Ah, nggak mungkin! Galang membetulkan penglihatannya. Ya, Vita! Vita Adesetyarini. Galang senang bukan kepalang. Ingin jingkrak-jingkrak rasanya. Vita? Kamu masih sayang aku? Huaaaaaaa! Galang berteriak kencang. Untung saja seantero kompleks lagi kosong, kalau tidak mungkin semua penghuni kompleks elit ini sudah memanggilnya dengan sebutan “KURANG WARAS”.
Tok tok!
         Terdengar kembali suara pintu rumah diketuk. Dengan wajah kegirangan, Galang lalu berlari menuju ke ruang tamu dan dibukanya pintu tersebut.
         “Lilis?” Galang kaget ketika yang dilihatnya adalah sosok seorang Lilis.
         “Iya, Galang. Ini aku.” Lilis tersenyum manis. Galang masih terbengong-bengong melihat style Lilis yang sungguh, amat cantik!
         “Kenapa, Lang? Apa aku jelek memakai pakaian begini?” tanya Lilis, agak tersinggung.
         “Tidak, kamu... kamu cantik sekali!” Pernyataan Galang membuat pipi Lilis memerah saking malunya. Lalu Galang mempersilahkan Lilis masuk ke ruang tamunya dan menyuguhkan segelas jus dan beberapa toples cookies.
         “Galang, papi mami kamu mana?”
         “Belum pulang dari shalat ‘ied, Lis.” Galang menjawab dengan roman penuh kelembutan. Sejenak mereka berdua-pun di datangi rasa malu-malu. Hening. Yang ada hanya suara khatib yang sedang khutbah ‘ied yang terdengar sampai di rumahnya. Tak sadar Galang menatap Lilis penuh kagum dari atas ke bawah, dan ketika dilihatnya matanya. Mata Vita! Ya, persis sama dengan mata Vi. Galang kaget lalu langsung mengubah arah pandangannya.
         “Kenapa, Lang?” Lilis bertanya, lagi.
         “Hm, nggak. Nggak kok!”
         “Oh iya,aku berangkat dulu yah, Lang. Aku ditunggu sama pacarku di luar.” Lilis memohon pamit.
         “Hehh, iya iya.” Galang mengiyakan. Pacar? Ingin sekali rasanya bertanya kepada Lilis apa betul-betul pacarnya yang mengantarnya. Namun semua terjawab ketika dilihatnya Lilis dijemput oleh seorang cowok yang hampir sebody dengannya, namun lebih kekar sedikit. Galang terbengong. Ia hanya menaikkan bahu. Tak lama kemudian diremasnya ketupat yang diberikan Lilis tadi kepadanya. Apa dia marah? Apa dia tak rela Lilis punya pacar? Tiba-tiba Galang tersadar bahwa Vita masih setia untuknya.
         “Galang!” Kedua orangtuanya berteriak histeris ketika melihat sebuah ketupat berhasil menjadi korban remasan Galang. Galang hanya menoleh, dan tersenyum simpul.
         “Pi, Mi, ketupatnya mana? Aku mau satu dong!” Ha? Sejenak papi maminya melongo mendengar pernyataan Galang. Lalu Galang kembali berkata manja, “Ayo dong, Pi, Mi. Kalau nggak Galang nggak mau sungkeman lo sama kalian berdua!” Kata Galang mengejek. Hening, lalu tawa renyah kembali membahana ke angkasa. Vita, kamu datang di waktu yang tepat. I still wait you, and still love you, too. :*
5 Syawal 1433 H./ 23 Agustus 2012.