*3 tahun bersama 915 tercinta*



      MENIKMATI dunia-dunia SMP, yang kurang lebih tinggal 5 bulan lagi
      Sedu-sedan selama mengenakan seragam putih biru, mungkin tak akan pernah 
      terlupakan.
      Tangis.
      Canda.
      Tawa.
      Teriakan kelulusan.
      Adalah hal terindah yang selalu terekam dalam memori.


      SMP,
      di moment ini aku belajar betapa sulitnya hidup dengan bermalas-malasan
      di moment ini aku belajar menghargai dan menghormati yang lebig tua
      di moment ini aku belajar saling memahami perasaan teman,
      saling mendalami isi hatinya,
      saling mengerti bahasa tubuhnya,
      saling mencocokkan diri dengan sikapnya
      di moment ini aku belajar betapa indahnya kebersamaan
      di moment ini aku belajar, aku mengetahui
      bahwa perjalananku masih begitu panjang dan masih sangat sangaaat banyak prasasti 
      prasasti yang mesti kuukir, prasasti yang diatasnya kutorehkan namaku dengan tinta emas

      SMP,
      masa peralihan dari anak-anak menjadi remaja,
      hal tersulit untuk mengembangkan pikiran menjadi dewasa.
      Dan ALHAMDULILLAH, itu semua tinggal selangkah lagi.

Minasa Te’ne, 08 Oktober 2011
di atas ranjangku yang jauh dari hiruk-pikuk serta keramaian Masyitah 2.

Huah!
      Masih kuingat jelas apa dan mengapa aku bisa menulis note di atas. Saat itu, kami semua sedang berkumpul di atas ranjang Met Yu, Met Ta’, dan Met Dhan yang mungkin lebih akrab di sapa dengan Ayu, Itha, dan Dhani (hehe, panggilan lebay untuk mereka yang tidur seranjang bertiga). Kami membicarakan pengalaman-pengalaman di masa lampau, tepatnya di masa kelas satu dua yang telah berlalu begitu cepatnya. Sekitar sejam kami ‘bergosip ria’ di atas ranjang yang lucunya, selalu menjadi tempat peristirahatan hampir untuk semua penghuni Masyita 2. Tempat paling strategis untuk mendapatkan relaksasi, apalagi pada waktu-waktu pulang sekolah di mana otak hampir ‘tapputar’ gara-gara rumus phytagorasnya Bu Murianti, hafalan enzim-enzimnya Bu Hikmah Biologi (maklum, di sekolahan kami ada 2 Bu Hikmah, ada Bu Nurhikmah ‘Biologi’ dan ada Bu Hikmawati ‘IPS’), Bahasa Arab-nya Bu Hera (yang aku sendiripun tak mengerti mengapa pelajaran satu ini terlalu susah masuk di otakku, kebanyakan dosa kali :D), serta ‘ceramah’ super padat dari Pak Nur, sang Kepala Sekolah terbaik kami yang merupakan the highest teacher between all of IMMIM Girl’s teacher. Wuahaha! Sang kepsek yang berhasil membawa kami menuju kemenangan dalam kancah perang yang akrab kita sebut dengan UAN, tanpa G. Setelah rasa capek menggerogoti badanku yang habis bercuap-cuap dengan lincahnya, akupun akhirnya tepar dan mengambil kesimpulan untuk istirahat sejenak sebelum adzan ashar berkumandang. Namun, baru saja aku mau memejamkan mataku, tiba-tiba tanganku menyentuh sesuatu yang berada di bawah bantalku (kebiasaannya Nadya selalu simpan barang ‘berharga’ di bawah bantal –do you not believe it? Silahkan tanya selengkapnya pada teman tidur setiaku selama SMP, Me’ Whati dan Mem Aulia ‘ct- termasuk buku cetak IPA yang tebal dan lebarnya tak melebihi dari laptop Compaq barunya ummiku yang raib di sambet oleh patekkel). Kuraba-raba, eh ternyata binder! Binder baru yang kubeli di koperasi dengan sampul hijau depan-belakang. Binder yang lembaran awalnya sudah terpampang jelas gambar rumah masa depanku (hahay) yang kala itu menjadikan aku arsitek gadungan saking frustasinya. Dan, kutulislah catatan kecil di atas sambil menuagkan isi otakku yang lagi over. Catatan terakhir yang kudapatkan di dalam dos buku kelas tigaku. Sebenarnya, masih ada banyak catatan kecil (lebih tepatnya diary) yang telah aku rangkai sehabis ini. Namun, diary mickey mouse yang selalu kusembunyi di bawah kasurku itu ternyata telah ikut nyebrang ke Jakarte ! *tepokjidat*. Lupa gue! Baru inget kalau dah dibawa lari sama ‘si anu’. Hehe, maklumilah saya sebagai seorang remaja yang lagi mabuk! (Mabuk tugas, maksudnya.*peace*)
      Masa-masa lalu yang begitu menggemaskan ternyata begitu cepat berlalu. Bukannya tak terasa, tapi malah sangat terasa mengingat dulu, 2009 yang lalu, tepatnya pada tanggal 21 Juli kami semua baru menginjakkan kaki di mahad tercinta dan sama-sama duduk di bangku kelas 1, sekarang 2012 ini telah duduk bersama-sama lagi di bangku kelas 1. Namun dengan tingkatan yang beda tentunya. Masih kuingat hari pertama ketika aku harus mengikhlaskan diri meninggalkan rumah. Jam 08.00 WITA aku tak henti-hentinya menangis (bangenge). Aku tak rela meninggalkan rumah yang selama ini menjadi tempat aku berteduh. Aku tak rela meninggalkan ummiku yang selama ini selalu menghentikan tangisku ketika abah melayangkan sendal jepit di betisku. Aku tak rela meninggalkan adikku Umam, teman smackdown sejatiku yang paling patotoai dan tidak mau dikalah. Aku tak rela meninggalkan SD 5 yang telah menjadi saksi buta atas semua prestasiku (puah!). Pokoknya aku tak rela meninggalkan Bantaeng,  my beloved little town! Namun, mau diapa. Itu semua sudah keputusanku dan aku harus bertanggung jawab atasnya.
      Sesampai di ‘penjara suci’, ummiku lalu mengepak semua perbekalan yang juga telah ikut travel melewati 4 kabupaten dan 1 kota. Sedangkan abahku sibuk mengurus lemari dan administrasi. Setelah jam telah menunjukkan pukul 17.00, kedua orangtuaku lalu memohon pamit untuk pulang. Tak terkira ‘pedisnya’ hatiku ketika mobil yang mereka tumpangi telah tak terlihat batang hidungnya. Malam-malam selanjutnya, bantallah yang menjaditumpuan emosiku. Semua tangis kutumpahkan di atasnya, sampai-sampai bantalku tak pernah kering tiap malamnya. Aku yang saat itu masih cupu-cupu gituh, tak banyak bergaul dengan teman-teman di sekitarku. Maklum, the first moment. Sebulan aku di mahad aku selalu larut dalam kesedihan, sampai-sampai aku sempat sakit seminggu tanpa diketahui orangtuaku! Seandainya bukan Ummi Melda yang memberi tahu orangtuaku, mungkin tinggal jika lambu-lambuang di asrama.
      Hari demi hari berlalu. Ternyata statement ummiku sebelum berangkat yang mengatakan “Nda kau rasaji itu nanti” benar-benar ‘benar’ alias benar-benar betul. Terbukti, selama kelas satu waktu bergulir begitu cepatnya sehingga waktu setahun itu tak terasa dengan bolak-balik Bantaeng-Pangkep, kebanyakan. Sebabnya? Berawal dari tifus setelah habis lebaran, selanjutnya aku selalu dikunjungi sakit perut hebat yang bikin isi-isinya kayak melilit. Dengan sangat terpaksa, peringkat satu yang tidak pernah lepas dari kelas 1 SD harus merosot turun ke peringkat 3. Untunglah di masa satu tahunan ini aku mempunyai seorang kakak kampus yang baik bukan kepalang. Namanya kak Nadiyah. Hampir sama dengan namaku toh! Orangnya cantik (kayak saya :/), pintar dan juga ramah. Hampir tiap malam aku dipanggil ke asramanya atau ke kelas untuk belajar bersama. Namun itu cuma setahun. Kak Nadiyah yang pada waktu sudah duduk di bangku kelas 3 memilih untuk meneruskan perjuangannya di Athira. Baru-baru ini aku mendengar kabar bahwa dia lulus seleksi AFS ke Amerika, namun karena dicurangi dia tak jadi berangkat. Hatiku miris mendengarnya. (AFS: pertukaran pelajar selama setahun di luar negeri)
      Naik kelas 2, di sinilah semua experiences, start. Dimulai dari kebangkitan periode kami yang tercinta, Archery 915, hihi, (narsis). Di sinilah aku mulai mengenal semua teman-teman di sekelilingku dan juga mulai mengerti sikap dan sifat mereka. Maklum, sebagai seorang ketua periode *huahaaha* aku begitu dekat dengan semua teman-temanku. Akupun tak tahu mengapa teman-teman memilih sesosok Nadya yang tidak berdaya ini menjadi ketua, karena aku beleng kali yah? Aku sebenarnya menolak, tapi karena ini amanah *ceramah*, ya paiyoimi saja. Selanjutnya aku mulai mengikuti beberapa lomba seperti olimpiade, story telling¸serta lomba pidato. Dalam lingkungan kampus akupun sering turut andil dalam porseni serta lomba malam mingguan (namun, aku hanya menjadi pemain di belakang layar alias jadi ‘pengajar’ doang). Dan seterusnya begitu. Di masa-masa kelas 2 ini pulalah, aku mulai mengenal yang namanya ‘hm hm’. (ngerti toh?) sehingga pada saat itu belajarku agak terganggu. Namun ini tak berlangsung lama. Setelah bazaar pertama kami diadakan, tak tahu mengapa kesadaran itu timbul dengan sendirinya.
      And, zenith of the problem there when you have a seat in the third grade! Masa di mana canda dan tangis bercampur aduk menjadi satu. Aku masih ingat ketika masa-masa pergantian OSIS. Kami seangkatan tidak diberi ‘bebas jasus’ alias ‘free spy’, padahal kami sangat membutuhkan itu mengingat kelas 3 jadwal kami padat: pagi, siang, sore, malam. Kami berkali-kali meeting dengan OSIS dan pembina, dengan satu tema: KELAS 3, PATOTOAI! Dan yang pertama kali dicari? Tidak lain dan tidak bukan, Nahdliyati Nur Muhammad as the chief of periode, ye..... Kalau begini, dumba’ setengah mati mika itu. Tapi alhamdulillah, semua dapat terselesaikan dengan lancar car car. Di kelas 3 ini juga, perjuanganku dua tahun sebelumnya yang menulis berlembar-lembar kertas (gara-gara melanggar bahasa), akhirnya terbalaskan! Aku dipilih menjadi salah satu personil OSIS seksi bahasa dan tugasku yang dulu menulis berlembar-lembar, berubah menjadi memaraf kertas pelanggaran adik kelas! Hebat, bukan? (idihh... bangga begetoh!). Sampai akhirnya kami menghadapi sebuah problema yang dinamakan ujian nasional. Saat menegangkan yang membuat otak harus berputar 361 derajat. Namun, di saat ini pula aku menemukan sosok manusia yang telah membuat aku ‘melayang’ karenanya. Orang yang jago di bidang Matematika dan Bahasa Arab, tapi drop kalau sudah diserang pake English’s speak. Mungkin aku tak perlu memublikasikan orang tersebut. Yang penting, aku belajar banyak dari dia. Termasuk belajar apa itu true love J
      Dan pemberhentian terakhir, PENAMATAN. Selasa, 1 Mei 2012 yang lalu, merupakan akhir kebersamaanku dengan teman-teman. Sedihnya rasanya gundah, namun mau di apa lagi. Mereka semua punya cita-cita masing-masing. Jujur aku rindu dengan tawa ‘lappo’ Ayu, anaknya Pak Baharuddin yang meskipun lagi serius-serius kagak pernah bisa ditahan. Aku rindu dengan soul-ku, Shaula yang selalu mau bikin aku gemes dengan menunjukkan penampakan depan lemariku tiap aku mau shalat. Aku rindu dengan Puput, yang mentang-mentang badan aku kecil dengan gampangnya aku sering sekali dimain-maini. Aku rindu berdebat dengan Qalby, sensi-ku yang paling narsis. Aku rindu diajari Matematika sama Iin, kacang panjang. Aku rindu nyanyi korea lagi bareng bebz-ku, Idha. Aku rindu jalan sama-sama ke mesjid sama ke sekolah bareng anak Masyita 1 dan 2, Khadijah 3 juga. Aku rindu dihukum jalan jongkok bareng, merayap di bawah tempat tidur bareng, di jemur bareng, termasuk aku juga *nggak rindu maksudnya* ketika didapati di belakang pohon mangga sama Kak Arham, tukang pos yang paling keren *huah!* gara-gara ketemuan sama teman lamaku bareng 2 orang temanku yang mungkin tak perlu kusebutkan namanya.
      Aku tahu, aku masih bisa mendapatkan pengalaman semenarik itu, apalagi jalan bareng ke dapur sama antrian di kantin with Tante Joho buat beli es keras alias es batu. Nonton film Korea sampai jam 2 mungkin juga masih bisa, namun pasti itu semua sudah berbeda sekarang. Masa sekarang bukan masa lampau lagi meskipun kejadiannya sama persis dengan masa lampau. Huah, biarlah semua ini menjadi memori indah di hati masing-masing kawan sejatiku.
Kini, ku rindukan dirimu... canda dan tawamu, yang biasa menghiasi waktuku . *kutipan lagu Ingatanku, Archery’s akustik*
Pelangi di sana mengingatkanku pada satu warna, di mana masa-masa senja yang indah berlalu dengan begitu cepatnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tinggalkan jejak kamu dengan setidaknya mengeposkan sebuah komentar :)