MENIKMATI dunia-dunia SMP, yang kurang lebih
tinggal 5 bulan lagi
Sedu-sedan selama mengenakan seragam
putih biru, mungkin tak akan pernah
terlupakan.
Tangis.
Canda.
Tawa.
Teriakan kelulusan.
Adalah hal terindah yang selalu
terekam dalam memori.
SMP,
di moment ini aku belajar betapa
sulitnya hidup dengan bermalas-malasan
di moment ini aku belajar menghargai
dan menghormati yang lebig tua
di moment ini aku belajar saling
memahami perasaan teman,
saling mendalami isi hatinya,
saling mengerti bahasa tubuhnya,
saling mencocokkan diri dengan
sikapnya
di moment ini aku belajar betapa
indahnya kebersamaan
di moment ini aku belajar, aku
mengetahui
bahwa perjalananku masih begitu
panjang dan masih sangat sangaaat banyak prasasti
prasasti yang mesti kuukir, prasasti
yang diatasnya kutorehkan namaku dengan tinta emas
SMP,
masa peralihan dari anak-anak
menjadi remaja,
hal tersulit untuk mengembangkan
pikiran menjadi dewasa.
Dan ALHAMDULILLAH, itu semua tinggal
selangkah lagi.
Minasa Te’ne, 08 Oktober 2011
di atas ranjangku yang jauh dari hiruk-pikuk serta keramaian Masyitah 2.
Huah!
Masih kuingat jelas apa dan mengapa
aku bisa menulis note di atas. Saat
itu, kami semua sedang berkumpul di atas ranjang Met Yu, Met Ta’, dan Met Dhan
yang mungkin lebih akrab di sapa dengan Ayu, Itha, dan Dhani (hehe, panggilan
lebay untuk mereka yang tidur seranjang bertiga). Kami membicarakan
pengalaman-pengalaman di masa lampau, tepatnya di masa kelas satu dua yang
telah berlalu begitu cepatnya. Sekitar sejam kami ‘bergosip ria’ di atas
ranjang yang lucunya, selalu menjadi tempat peristirahatan hampir untuk semua
penghuni Masyita 2. Tempat paling strategis untuk mendapatkan relaksasi,
apalagi pada waktu-waktu pulang sekolah di mana otak hampir ‘tapputar’ gara-gara
rumus phytagorasnya Bu Murianti, hafalan enzim-enzimnya Bu Hikmah Biologi
(maklum, di sekolahan kami ada 2 Bu Hikmah, ada Bu Nurhikmah ‘Biologi’ dan ada
Bu Hikmawati ‘IPS’), Bahasa Arab-nya Bu Hera (yang aku sendiripun tak mengerti
mengapa pelajaran satu ini terlalu susah masuk di otakku, kebanyakan dosa kali
:D), serta ‘ceramah’ super padat dari Pak Nur, sang Kepala Sekolah terbaik kami
yang merupakan the highest teacher between
all of IMMIM Girl’s teacher. Wuahaha! Sang kepsek yang berhasil membawa
kami menuju kemenangan dalam kancah perang yang akrab kita sebut dengan UAN,
tanpa G. Setelah rasa capek menggerogoti badanku yang habis bercuap-cuap dengan
lincahnya, akupun akhirnya tepar dan mengambil kesimpulan untuk istirahat
sejenak sebelum adzan ashar berkumandang. Namun, baru saja aku mau memejamkan
mataku, tiba-tiba tanganku menyentuh sesuatu yang berada di bawah bantalku
(kebiasaannya Nadya selalu simpan barang ‘berharga’ di bawah bantal –do you not believe it? Silahkan tanya
selengkapnya pada teman tidur setiaku selama SMP, Me’ Whati dan Mem Aulia ‘ct-
termasuk buku cetak IPA yang tebal dan lebarnya tak melebihi dari laptop Compaq
barunya ummiku yang raib di sambet oleh patekkel). Kuraba-raba, eh ternyata
binder! Binder baru yang kubeli di koperasi dengan sampul hijau depan-belakang.
Binder yang lembaran awalnya sudah terpampang jelas gambar rumah masa depanku
(hahay) yang kala itu menjadikan aku arsitek gadungan saking frustasinya. Dan,
kutulislah catatan kecil di atas sambil menuagkan isi otakku yang lagi over.
Catatan terakhir yang kudapatkan di dalam dos buku kelas tigaku. Sebenarnya,
masih ada banyak catatan kecil (lebih tepatnya diary) yang telah aku rangkai
sehabis ini. Namun, diary mickey mouse yang selalu kusembunyi di bawah kasurku
itu ternyata telah ikut nyebrang ke Jakarte ! *tepokjidat*. Lupa gue! Baru
inget kalau dah dibawa lari sama ‘si anu’. Hehe, maklumilah saya sebagai
seorang remaja yang lagi mabuk! (Mabuk tugas, maksudnya.*peace*)
Masa-masa lalu
yang begitu menggemaskan ternyata begitu cepat berlalu. Bukannya tak terasa,
tapi malah sangat terasa mengingat dulu, 2009 yang lalu, tepatnya pada tanggal
21 Juli kami semua baru menginjakkan kaki di mahad tercinta dan sama-sama duduk
di bangku kelas 1, sekarang 2012 ini telah duduk bersama-sama lagi di bangku
kelas 1. Namun dengan tingkatan yang beda tentunya. Masih kuingat hari pertama
ketika aku harus mengikhlaskan diri meninggalkan rumah. Jam 08.00 WITA aku tak
henti-hentinya menangis (bangenge). Aku tak rela meninggalkan rumah yang selama
ini menjadi tempat aku berteduh. Aku tak rela meninggalkan ummiku yang selama
ini selalu menghentikan tangisku ketika abah melayangkan sendal jepit di
betisku. Aku tak rela meninggalkan adikku Umam, teman smackdown sejatiku yang paling patotoai dan tidak mau dikalah. Aku
tak rela meninggalkan SD 5 yang telah menjadi saksi buta atas semua prestasiku
(puah!). Pokoknya aku tak rela meninggalkan Bantaeng, my
beloved little town! Namun, mau diapa. Itu semua sudah keputusanku dan aku
harus bertanggung jawab atasnya.
Sesampai di
‘penjara suci’, ummiku lalu mengepak semua perbekalan yang juga telah ikut
travel melewati 4 kabupaten dan 1 kota. Sedangkan abahku sibuk mengurus lemari
dan administrasi. Setelah jam telah menunjukkan pukul 17.00, kedua orangtuaku
lalu memohon pamit untuk pulang. Tak terkira ‘pedisnya’ hatiku ketika mobil
yang mereka tumpangi telah tak terlihat batang hidungnya. Malam-malam
selanjutnya, bantallah yang menjaditumpuan emosiku. Semua tangis kutumpahkan di
atasnya, sampai-sampai bantalku tak pernah kering tiap malamnya. Aku yang saat
itu masih cupu-cupu gituh, tak banyak bergaul dengan teman-teman di sekitarku.
Maklum, the first moment. Sebulan aku
di mahad aku selalu larut dalam kesedihan, sampai-sampai aku sempat sakit
seminggu tanpa diketahui orangtuaku! Seandainya bukan Ummi Melda yang memberi
tahu orangtuaku, mungkin tinggal jika lambu-lambuang di asrama.
Hari demi hari
berlalu. Ternyata statement ummiku
sebelum berangkat yang mengatakan “Nda kau rasaji itu nanti” benar-benar
‘benar’ alias benar-benar betul. Terbukti, selama kelas satu waktu bergulir
begitu cepatnya sehingga waktu setahun itu tak terasa dengan bolak-balik
Bantaeng-Pangkep, kebanyakan. Sebabnya? Berawal dari tifus setelah habis
lebaran, selanjutnya aku selalu dikunjungi sakit perut hebat yang bikin
isi-isinya kayak melilit. Dengan sangat terpaksa, peringkat satu yang tidak
pernah lepas dari kelas 1 SD harus merosot turun ke peringkat 3. Untunglah di
masa satu tahunan ini aku mempunyai seorang kakak kampus yang baik bukan
kepalang. Namanya kak Nadiyah. Hampir sama dengan namaku toh! Orangnya cantik
(kayak saya :/), pintar dan juga ramah. Hampir tiap malam aku dipanggil ke
asramanya atau ke kelas untuk belajar bersama. Namun itu cuma setahun. Kak
Nadiyah yang pada waktu sudah duduk di bangku kelas 3 memilih untuk meneruskan
perjuangannya di Athira. Baru-baru ini aku mendengar kabar bahwa dia lulus
seleksi AFS ke Amerika, namun karena dicurangi dia tak jadi berangkat. Hatiku
miris mendengarnya. (AFS: pertukaran pelajar selama setahun di luar negeri)
Naik kelas 2, di
sinilah semua experiences, start.
Dimulai dari kebangkitan periode kami yang tercinta, Archery 915, hihi,
(narsis). Di sinilah aku mulai mengenal semua teman-teman di sekelilingku dan
juga mulai mengerti sikap dan sifat mereka. Maklum, sebagai seorang ketua
periode *huahaaha* aku begitu dekat dengan semua teman-temanku. Akupun tak tahu
mengapa teman-teman memilih sesosok Nadya yang tidak berdaya ini menjadi ketua,
karena aku beleng kali yah? Aku sebenarnya menolak, tapi karena ini amanah
*ceramah*, ya paiyoimi saja. Selanjutnya aku mulai mengikuti beberapa lomba
seperti olimpiade, story telling¸serta
lomba pidato. Dalam lingkungan kampus akupun sering turut andil dalam porseni
serta lomba malam mingguan (namun, aku hanya menjadi pemain di belakang layar
alias jadi ‘pengajar’ doang). Dan seterusnya begitu. Di masa-masa kelas 2 ini
pulalah, aku mulai mengenal yang namanya ‘hm hm’. (ngerti toh?) sehingga pada
saat itu belajarku agak terganggu. Namun ini tak berlangsung lama. Setelah
bazaar pertama kami diadakan, tak tahu mengapa kesadaran itu timbul dengan
sendirinya.
And, zenith of the problem there when you
have a seat in the third grade! Masa di mana canda dan tangis bercampur
aduk menjadi satu. Aku masih ingat ketika masa-masa pergantian OSIS. Kami
seangkatan tidak diberi ‘bebas jasus’ alias ‘free spy’, padahal kami sangat membutuhkan itu mengingat kelas 3
jadwal kami padat: pagi, siang, sore, malam. Kami berkali-kali meeting dengan OSIS dan pembina, dengan
satu tema: KELAS 3, PATOTOAI! Dan yang pertama kali dicari? Tidak lain dan
tidak bukan, Nahdliyati Nur Muhammad as
the chief of periode, ye.....
Kalau begini, dumba’ setengah mati mika itu. Tapi alhamdulillah, semua dapat
terselesaikan dengan lancar car car. Di kelas 3 ini juga, perjuanganku dua
tahun sebelumnya yang menulis berlembar-lembar kertas (gara-gara melanggar
bahasa), akhirnya terbalaskan! Aku dipilih menjadi salah satu personil OSIS
seksi bahasa dan tugasku yang dulu menulis berlembar-lembar, berubah menjadi
memaraf kertas pelanggaran adik kelas! Hebat, bukan? (idihh... bangga
begetoh!). Sampai akhirnya kami menghadapi sebuah problema yang dinamakan ujian
nasional. Saat menegangkan yang membuat otak harus berputar 361 derajat. Namun,
di saat ini pula aku menemukan sosok manusia yang telah membuat aku ‘melayang’
karenanya. Orang yang jago di bidang Matematika dan Bahasa Arab, tapi drop kalau sudah diserang pake English’s speak. Mungkin aku tak perlu
memublikasikan orang tersebut. Yang penting, aku belajar banyak dari dia.
Termasuk belajar apa itu true love J
Dan pemberhentian
terakhir, PENAMATAN. Selasa, 1 Mei 2012 yang lalu, merupakan akhir
kebersamaanku dengan teman-teman. Sedihnya rasanya gundah, namun mau di apa
lagi. Mereka semua punya cita-cita masing-masing. Jujur aku rindu dengan tawa
‘lappo’ Ayu, anaknya Pak Baharuddin yang meskipun lagi serius-serius kagak
pernah bisa ditahan. Aku rindu dengan soul-ku, Shaula yang selalu mau bikin aku
gemes dengan menunjukkan penampakan depan lemariku tiap aku mau shalat. Aku
rindu dengan Puput, yang mentang-mentang badan aku kecil dengan gampangnya aku
sering sekali dimain-maini. Aku rindu berdebat dengan Qalby, sensi-ku yang
paling narsis. Aku rindu diajari Matematika sama Iin, kacang panjang. Aku rindu
nyanyi korea lagi bareng bebz-ku, Idha. Aku rindu jalan sama-sama ke mesjid
sama ke sekolah bareng anak Masyita 1 dan 2, Khadijah 3 juga. Aku rindu dihukum
jalan jongkok bareng, merayap di bawah tempat tidur bareng, di jemur bareng,
termasuk aku juga *nggak rindu maksudnya* ketika didapati di belakang pohon
mangga sama Kak Arham, tukang pos yang paling keren *huah!* gara-gara ketemuan
sama teman lamaku bareng 2 orang temanku yang mungkin tak perlu kusebutkan
namanya.
Aku tahu, aku
masih bisa mendapatkan pengalaman semenarik itu, apalagi jalan bareng ke dapur
sama antrian di kantin with Tante Joho buat beli es keras alias es batu. Nonton
film Korea sampai jam 2 mungkin juga masih bisa, namun pasti itu semua sudah
berbeda sekarang. Masa sekarang bukan masa lampau lagi meskipun kejadiannya
sama persis dengan masa lampau. Huah, biarlah semua ini menjadi memori indah di
hati masing-masing kawan sejatiku.
Kini, ku rindukan dirimu... canda dan
tawamu, yang biasa menghiasi waktuku . *kutipan lagu Ingatanku, Archery’s
akustik*
Pelangi di sana mengingatkanku pada
satu warna, di mana masa-masa senja yang indah berlalu dengan begitu cepatnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
tinggalkan jejak kamu dengan setidaknya mengeposkan sebuah komentar :)