MOVE UP vs MOVE ON?

Move up dengan move on sama? Ah, jangan salah!

Sebagai santriwati alias murid yang sehari-harinya melanglang dengan dunia pondok, pasti ada beberapa hal yang lebih kita ketahui dibanding orang lain. Bukannya sombong, namun disinlah letak kelebihan para tilmiyzun maupun tilmiyzatun yang Insya Allah kesehariannya selalu diberkahi Allah.

Salah satunya, yaaa persepsi move on di kalangan para remaja elit dan konsumtif akan suatu hubungan 'ga jelas'  yang akrabnya disapa pacaran.

Beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan seorang teman dari Tangerang yang sedang berlibur di kampung halaman dan kebetulan dia juga adalah ekhemmmm... orang yang pernah menjadi bagian penting dalam hidup saya. Di bertanya kepada saya; Apakah saya sudah move on? Dengan tegas saya menjawab TIDAK! Dia sempat tertegun, tersentak, diam, lalu menatap mata saya dalam-dalam. Saya yang hanya duduk sambil melempar-lempar kaki  tersenyum tipis. Selang beberapa detik, saya kemudian menatap matanya yang seakan penuh tanda tanya lalu berkata pelan sambil mengernyitkan dahi; Saya tidak move on. Saya MOVE UP!

Lalu dia bertanya lagi. Secara kronologis begini dialog singkatnya;
Saya : Nda move on ka. Mauka apa move on! *sambil pasang wajah acuh tak acuh*
'Sebut saja namanya Ali bin Abi Thalib  : Apaji paee?
Saya : Move up ka saya.
Ali : Memang apa bedanya? Bedanya cuma on dengan up!
Saya : Ya jelas bedalah, secara bahasa maupun istilah. Secara etimologi maupun terminologi.
Ali : Jelaskanka pae apa bedanya!

Saya pertama kali mengenal kata MOVE UP dari quotes quotes Mario Teguh di facebook, ditambah dengan penjelasan dari sahabat-sahabat Al Fatah, Lampung ketika melaksanakan study comparative dalam majalah bulanannya.

Move up berasal dari kata 'move' yang artinya pindah atau hijrah, dan 'up' yang artinya di atau ke atas. Secara istilah sendiri, move up diartikan sebagai proses perpindahan menjadi setingkat lebih tinggi atau lebih baik. Lalu, apa bedanya dengan move on?

Kita pakai sistem pengandaian. Ketika kita mengalami suatu pemutusan hubungan kerja atau PHK, maka kita akan mencari kerja seperti dengan pekerjaan sebelumnya. Nah, itu namanya move on. Namun jika kita mencari kerja yang lebih baik lagi atau memulai sesuatu dari nol dan giat membesarkan usaha kita sampai lebih dari pekerjaan sebelumnya, itu namanya move up.
Lebih signifikannya untuk para remaja, seperti begini; ketika putus dengan pacar dan mengalami galau sepanjang abad, maka kita akan berusaha untuk mencari penggantinya. *maksudnya pengganti dari mantan pacar kita*, thats what we called MOVE ON. Namun, ketika dalam kegalauan itu kita berusaha untuk memperbaiki diri sambil bertaubat atas dosa yang telah kita lakukan selama pacaran, plus meneguhkan hati untuk berhenti menjalani hubungan yang tanda kutip 'terlarang' ituuu, nah ini dia yang dikatakan dengan MOVE UP! Move up dalam suatu hubungan bukan berarti mencari yang lebih baik daripada ex kita, melainkan mencari jati diri untuk kebahagiaan hakiki, bukan dengan pacaran yang katanya bisa bikin bahagia. Bikin bahagia? Hellowwww, tidak rasional sekali pemirsa!

Lalu si Ali bin Abi Thalib ini kemudian bertanya lagi kepada saya; Trus caramu move up sendiri bagaimana? Alaymu!. Dikatai alay adalah suatu hal yang wajar, apalagi dengan orang yang sudah hampir 3 tahun mendalami pribadi kita. Saya hanya menghembuskan nafas pelan. Dengan bibir manyun saya jawab dengan hati-hati. Ada 4 cara untuk move up, untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Apa itu?

1. Mujahadatun-nafs, yaitu belajar untuk meninggalkan segala kelakuan buruk sedikit demi sedikit. Okay, it's not an easy matter. Apalagi bagi yang telah terlanjur terkontaminasi oleh virus-virus pacaran kelas kakap. Namun, ini memang prosedur awal. Jangan harap bisa lebih baik kalau tidak bisa mematuhi ketentuan pertama. Cicilan motor saja perlu pakai DP, kan?
2. Riyadhatun-nafs, yaitu melatih diri untuk mengerjalan amalan-amalan yang berat. Gunanya apa? Supaya kita terbiasa dengan yang berat-berat sehingga semuanya terasa ringan. Dengan sesering mungkin melaksanakan ibadah yang panjang-panjang, maka Insya Allah semua kenangan mantan lewat! *eh haha.
3. Muhasabah alias instrospeksi diri. Renungkan kembali, apa kita sudah berubah? Apakah amalan yang selama ini kita laksanakan ikhlas 'lillahi ta'ala? Kalau belum, cobalah perbaiki niat. Niat kita ibadah semata-mata karena Allah, karena kebelet dengan surga-Nya, bukan karena minta doa supaya balikan lagi dengan mantan atau sekalian berdoa supaya mantan mampus!
4. Muraqabah yaitu mengikhlaskan semuanya kepada Allah. Setelah ikhtiar, berdoa, selanjutnya tawakkal 'alallah. Istiqomah alias konsisten dengan perubahan baik yang ada pada diri kita. Jadikan kenangan mantan sebagai hikmah untuk menjadi pribadi yang lebih dari sebelumnya.

Nah, kalau keempat ini sudah kita paksanakan, Insya Allah kita sudah melalui prosedur MOVE UP YANG HAKIKI, the real move up. Kalaupun kita mencintai seseorang lagi, berdoalah kiranya Allah menjaga hati kita dari apa yang namanya zina hati. Selama Allah menyertai langkah kita, segala macam bentuk cinta akan bernilai ibadah di sisi-Nya.

Ali kemudian tersenyum dan berkata pelan; Baguslah kalau begitu :)

Nah dari hasil klasifikasi tersebut, dapat kita simpulkan bahwa proses move itu harus berhijrah layaknya Rasulullah. Hijrahnya bagaimana? Bukan dari satu kota ke kota lain, melainkan berhijrah untuk mencari kebaikan dan rahmat Allah.
bagi teman teman di pondok, hal tersebut melupakan hak prerogatif dan privatif yang mesti kita miliki. Itu sebabnya, berbanggalah jadi anak pondok karena santri itu pasti lebih dari sekedar siswa.
#AkuBanggaJadiSantri

3 komentar:

tinggalkan jejak kamu dengan setidaknya mengeposkan sebuah komentar :)