
Aku juga alhamdulillah tidak pernah berkecil hati dengan itu semua,
malah aku bersyukur karena di balik semua kekuranganku terdapat seribu-dua ribu
kelebihan yang membuat banyak orang tercengang! (lebay mode on :/)
Berbicara tentang keseharianku,
tentunya tidak akan lepas dari kata ma’had alias pesantren. Yah, inilah aku.
Seorang peranakan Korea-China (mimpi keterlaluan :p) yang merengkuh pendidikan
di pondok pesantren.
Berawal dari mimpi kelas 4 SD
yang membuat aku betul-betul terobsesi dengan kata ‘mondok’. Maklum, orangtuaku
adalah sepasang guru yang kesehariannya adalah bergelut dengan dunia keagamaan
(sementara anaknya? Jauh dari kesan ‘anak ustad’ -_-). Setelah diberi tahu
untuk melanjutkan SMP nanti di pesantren, sebagai tipe anak kecil yang acuh tak
acuh, ya aku ‘paiyoi’ saja. Sampai tiba hari-H nya, aku tetap paiyoi saja. Dan
itulah aku! Sekali lagi. Asal sesuai dengan logika dan sistem yang ada di
otakku, jawabanku hanya YA, YA dn YA! tak jarang ummiku bawaannya marah-marah
mulu kalau jalan sama aku. Tapi kali ini aku bercerita bukan tentang hobiku,
ummiku, maupun persepsi gila-gilaku. Kali ini aku akan bercerita tentang ‘apa
itu pesantren’.
Back to the the real topic..
Mendengar kata pesantren, pasti
banyak di antara kita yang bilang antara lain; ‘pesantren itu ndesoh,
kamseupay!’, ‘pesantren itu tempatnya orang-orang nakal dan tidak mendapatkan
perhatian dari orangtua’, ‘pesantren itu cuma bikin habis-habis duit aja’,
ataupun ada juga yang bilang kalau ‘hidup di pesantren itu tidak ada
perkembangan’.
Emang benar yah? Wah... siapa
bilang! Nggak kok. Anak pesantren itu gak kampungan, buktinya anak pesantren
juga tahu kok semua lagu indo keluaran terbaru maupun rilis album luar negeri
kayak Justin Bieber-My World 2.0, The
Best Damn Thing-nya Avril Lavigne ataupun lagu terbaru SNSD yang liriknya kalau
nggak salah ‘bring the boys out’ gituh, baik versi Korean-nya apalagi
Englishnya. Jadi, siapa bilang anak pesantren itu kampungan pake badai, pake
tsunami? Nggak kan! Masalah teknologi anak pesantren juga ngak pernah
ketinggalan.
About handphone? Ya tahu-lah! Tanyain aja tahu
nggak Android? Tahu nggak Samsung Galaxy yang pocket, yang tab, yang note? Tahu nggak BB Dakota, Davish,
Amstrong, Apollo? Tahu nggak Sony yang versi Experia? Tahu nggak Nokia Asha
sama Lumia yang baru-baru ini diluncurkan? Dsb dst dll.
Jawabannya? Ya jelas tahu-lah!
Kok bisa? Ya karena bisa. Apalagi bagi santri pondok yang berkali-kali berganti
hp karena hp-nya selalu didapati; dilempar kayak pelempar mangga gitu, ataupun
hp-nya di pukul pake palu kayak paku. Hehe, ngeri kan? Tapi lucu juga.
Disinilah salah satu letak ‘keseruan’ mondok di pesantren. Dan tahu apa hikmah
yang dapat dipetik? Ya, hikmahnya supaya jangan
melanggar peraturan, supaya belajar berdsiplin, dan supaya dapat hp
baru! Hehe, bagus kan? (pemikiran dangkal)
Nah, kita sambung lagi. Dari
persepsi ‘pesantren itu tempat orang-orang nakal yang tidak mendapat perhatian
dari orangtua’, apa itu persepsi yang bisa diakui kebenarannya? Emangnya sudah
di-riset? Emangnya sudah ada vote-nya? Emangnya ada hadisnya? Ada ayatnya? Ok,
memang sih banyak anak nakal yang masuk di pesantren karena orangtua mereka
sudah tidak tahan lagi mendidik mereka. Mau diapakan bagaimanapun tetap begitu,
jadi, orangtua mereka berinisiatif untuk mendidik mereka dalam lingkup pondok
pesantren alias boarding school. Tapi tapi, ada tapinya. Jangan dong selalu
menuduh semua anak pesantren latar belakangnya begitu semua! Kalaupun iya, ya
kita bantu supaya mereka yang ‘katanya’ nakal, bisa berubah. Jangan selalu
men-cap semua dengan seenaknya. Ingat lho, perkataan itu do’a, karma masih
berlaku! Sempat keturunan kita-kita ntar yang kayak gituan! Wah, jangan deh!
(gak bermaksud mendoakan yah, peace :D).
Ok, lanjut!!!!!!!!!!
Hidup di pesantren memang gak
bisa dipisahkan dengan uang alias duit bin fulus bin money. Masuk pesantren?
Pastinya bukan harga yang murah. Sejete, dua jete, sepuluh jete, sampai lima
puluh jete, itu hal yang wajar. Wajarrr banget! Apalagi pada
pesantren-pesantren yang bertaraf internasional atau insan cendekia gituh.
Jadi, kalau mau masuk pesantren, yang seriusan yah! Jangan cuma mau asal-asalan
atau cuma mau dibilang, atau cuma mau bla bla bla.. (kehabisan kata-kata XD).
Belajar di pesantren adalah hal yang sangat bermanfaat bagi kebahagiaan kita,
dunia wal akhirat. Nah, wajar kan kalau mahal? Dunia aja nggak ada yang gratis,
apalagi akhirat! (Brrr... realistis amat mbak!) hehe. Masalah harga yang
mahal-mahal gitu, sebenarnya itu semua tergantung dari individu kita
masing-masing. Jika kita belajar dengan bersungguhsungguh, maka uang ratusan
juta yang telah dikeluarkan selama kita mondok di pesantren itu tentunya gak
bakal terbuang dengan cuma-cuma. Kalau nggak? Ya pikir sendiri! Gitu aja kok repot
:p.
Next, tahu nggak kalau belakangan
ini anak pesantren lho yang mendominasi dunia perolimpiadean dan ajang-ajang
unjuk gigi ternama? Coba deh perhatikan
baik-baik, banyak lho pesantren saat ini yang sering mewakili beberapa provinsi
dalam lomba-lomba tingkat nasional. Contohnya saja lomba pidato Bhs. Indonesia
yang diperuntukkan bagi SMP ‘umum’ yang tahun lalu diselenggarakan tingkat
nasional di Bogor. Tahu siapa yang dapat juara 1-nya? Anak pesanren lho, kak
Ariel Parela namanya. Seorang cowok yang ‘serumpun dan sekampung’ denganku, dan
juga salah satu idola beratku. Bersekolah di DDI Mattoanging Bantaeng yng
sekolahnya bisa dibilang cukup sederhana. Namun, ada bakat terpendam kan di
dalamnya?! Jadi, jangan salah. Hidup di pesantren tidak akan membuat kita tidak
berkembang. Nah, salah satu buktinya seperti yang sudah aku utarakan tadi.
Hidup di dalam naungan pondok pesantren akan membuat kita bekembang, baik itu
dari segi otak maupun akhlak dan perilaku. Sikap dewasa akan terpancar dengan
sendirinya jika kita telah lama bergelut dengan segala hal yang berbau
‘boarding school’. Belajar mandiri, menyelesaikan masalah secara empiris dan
kumulatif serta memperhatikan de facto yang ada, belajar menghargai yang tua
dan menyayangi yang muda, belajar untuk hidup sederhana dan apa adanya, serta
belajar untuk menerapkan dan mengaplikasikan bagaimana cara mengkoordinasi
‘rasa cinta dan perasaan’ yang mulai berkembang dalam lapisan-lapisan epidermis
hati yang kemudian akan menuntun kita sendiri untuk tetap awas dengan segala
pergaulan yang ada. Dan itu semua berjalan dengan sendirinya, bagaikan air
mengalir yang menuju ke hilir. Semua itu akan terasa jika nantinya kita telah tamat atau menjadi alumni
pesantren. Dan itu semua akan indah dan sangat bermanfaat terasa. So, masih mau
bilang kalau di pesantren itu kita gak berkembang? Coba pikir ulang lagi deh!
Wah, capek bercuap-cuap masalah
pesantren dan segala garis miringnya, ‘katanya’... kayaknya sudah jelas sekali
kalau pesantren itu bukan penjara yang nyesekkin, bukan penjara yang bikin kita
kurus bagaikan hidup tinggal tulang dan dosa, bukan penjara yang bikin kita
stres, gila, sampai bunuh diri, tapi pesantren itu adalah langkah awal untuk
sukses ke depannya, baik itu di dunia maupun di akhirat. Pesantren, penjara
suci! Ya, penjara suci. Penjara yang mendidik kita untuk berkembang menjadi
sosok individu yang dewasa dengan segala kesuciannya (haha, suci? Uhm, bisa di
atur!)
Jadi jadi, masih mau bilang kalau
pesantren itu selalu di pandang sebelah mata?
Ya, kayaknya perhitungkan lagi
yah! Ok ok.
Pesantren? Nyesekkin? Oh no!
Habbul ma’had, has wrotten.
bgus bnget tulisannya....
BalasHapusrealistis....:)
Hehe, iy kak.. makasih . :) Mohon kritik dan sarannya yah kak .
HapusPunya temen di pesantren bikin ribet mau komunikasi, mau ketemuan, dll. Mati aja lo pesantren bisanya nyusahin orang
BalasHapus