Pesantren? Nyesekkin? Oh, NO!

Namaku Nadya, umur 16 tahun. Cukup tua, bukan? Jika dilihat dari body-ku yang imut pake ‘b.g.t’ (huahaaha XD), orang-orang pasti gak bakal percaya kalau aku sudah kelas 1 SMA, sudah 16 tahun pula. Namun, beginilah aku. Aku sudah sangat terbiasa mendapatkan ocehan-ocehan yang kadang ‘agak’ mengiris hati. Mau bilang apa lagi coba? Itu sudah kenyataan kok, jadi hadapi saja. Untung aku orangnya bukan tipe pendendam.
Aku juga alhamdulillah tidak pernah berkecil hati dengan itu semua, malah aku bersyukur karena di balik semua kekuranganku terdapat seribu-dua ribu kelebihan yang membuat banyak orang tercengang! (lebay mode on :/)

Berbicara tentang keseharianku, tentunya tidak akan lepas dari kata ma’had alias pesantren. Yah, inilah aku. Seorang peranakan Korea-China (mimpi keterlaluan :p) yang merengkuh pendidikan di pondok pesantren.
Berawal dari mimpi kelas 4 SD yang membuat aku betul-betul terobsesi dengan kata ‘mondok’. Maklum, orangtuaku adalah sepasang guru yang kesehariannya adalah bergelut dengan dunia keagamaan (sementara anaknya? Jauh dari kesan ‘anak ustad’ -_-). Setelah diberi tahu untuk melanjutkan SMP nanti di pesantren, sebagai tipe anak kecil yang acuh tak acuh, ya aku ‘paiyoi’ saja. Sampai tiba hari-H nya, aku tetap paiyoi saja. Dan itulah aku! Sekali lagi. Asal sesuai dengan logika dan sistem yang ada di otakku, jawabanku hanya YA, YA dn YA! tak jarang ummiku bawaannya marah-marah mulu kalau jalan sama aku. Tapi kali ini aku bercerita bukan tentang hobiku, ummiku, maupun persepsi gila-gilaku. Kali ini aku akan bercerita tentang ‘apa itu pesantren’.

Back to the the real topic..

Mendengar kata pesantren, pasti banyak di antara kita yang bilang antara lain; ‘pesantren itu ndesoh, kamseupay!’, ‘pesantren itu tempatnya orang-orang nakal dan tidak mendapatkan perhatian dari orangtua’, ‘pesantren itu cuma bikin habis-habis duit aja’, ataupun ada juga yang bilang kalau ‘hidup di pesantren itu tidak ada perkembangan’.
Emang benar yah? Wah... siapa bilang! Nggak kok. Anak pesantren itu gak kampungan, buktinya anak pesantren juga tahu kok semua lagu indo keluaran terbaru maupun rilis album luar negeri kayak Justin Bieber-My World 2.0,  The Best Damn Thing-nya Avril Lavigne ataupun lagu terbaru SNSD yang liriknya kalau nggak salah ‘bring the boys out’ gituh, baik versi Korean-nya apalagi Englishnya. Jadi, siapa bilang anak pesantren itu kampungan pake badai, pake tsunami? Nggak kan! Masalah teknologi anak pesantren juga ngak pernah ketinggalan.
About  handphone? Ya tahu-lah! Tanyain aja tahu nggak Android? Tahu nggak Samsung Galaxy yang pocket, yang  tab, yang note? Tahu nggak BB Dakota, Davish, Amstrong, Apollo? Tahu nggak Sony yang versi Experia? Tahu nggak Nokia Asha sama Lumia yang baru-baru ini diluncurkan? Dsb dst dll.
Jawabannya? Ya jelas tahu-lah! Kok bisa? Ya karena bisa. Apalagi bagi santri pondok yang berkali-kali berganti hp karena hp-nya selalu didapati; dilempar kayak pelempar mangga gitu, ataupun hp-nya di pukul pake palu kayak paku. Hehe, ngeri kan? Tapi lucu juga. Disinilah salah satu letak ‘keseruan’ mondok di pesantren. Dan tahu apa hikmah yang dapat dipetik? Ya, hikmahnya supaya jangan  melanggar peraturan, supaya belajar berdsiplin, dan supaya dapat hp baru! Hehe, bagus kan? (pemikiran dangkal)

Nah, kita sambung lagi. Dari persepsi ‘pesantren itu tempat orang-orang nakal yang tidak mendapat perhatian dari orangtua’, apa itu persepsi yang bisa diakui kebenarannya? Emangnya sudah di-riset? Emangnya sudah ada vote-nya? Emangnya ada hadisnya? Ada ayatnya? Ok, memang sih banyak anak nakal yang masuk di pesantren karena orangtua mereka sudah tidak tahan lagi mendidik mereka. Mau diapakan bagaimanapun tetap begitu, jadi, orangtua mereka berinisiatif untuk mendidik mereka dalam lingkup pondok pesantren alias boarding school. Tapi tapi, ada tapinya. Jangan dong selalu menuduh semua anak pesantren latar belakangnya begitu semua! Kalaupun iya, ya kita bantu supaya mereka yang ‘katanya’ nakal, bisa berubah. Jangan selalu men-cap semua dengan seenaknya. Ingat lho, perkataan itu do’a, karma masih berlaku! Sempat keturunan kita-kita ntar yang kayak gituan! Wah, jangan deh! (gak bermaksud mendoakan yah, peace :D).

Ok, lanjut!!!!!!!!!!

Hidup di pesantren memang gak bisa dipisahkan dengan uang alias duit bin fulus bin money. Masuk pesantren? Pastinya bukan harga yang murah. Sejete, dua jete, sepuluh jete, sampai lima puluh jete, itu hal yang wajar. Wajarrr banget! Apalagi pada pesantren-pesantren yang bertaraf internasional atau insan cendekia gituh. Jadi, kalau mau masuk pesantren, yang seriusan yah! Jangan cuma mau asal-asalan atau cuma mau dibilang, atau cuma mau bla bla bla.. (kehabisan kata-kata XD). Belajar di pesantren adalah hal yang sangat bermanfaat bagi kebahagiaan kita, dunia wal akhirat. Nah, wajar kan kalau mahal? Dunia aja nggak ada yang gratis, apalagi akhirat! (Brrr... realistis amat mbak!) hehe. Masalah harga yang mahal-mahal gitu, sebenarnya itu semua tergantung dari individu kita masing-masing. Jika kita belajar dengan bersungguhsungguh, maka uang ratusan juta yang telah dikeluarkan selama kita mondok di pesantren itu tentunya gak bakal terbuang dengan cuma-cuma. Kalau nggak? Ya pikir sendiri! Gitu aja kok repot :p.

Next, tahu nggak kalau belakangan ini anak pesantren lho yang mendominasi dunia perolimpiadean dan ajang-ajang unjuk gigi ternama?  Coba deh perhatikan baik-baik, banyak lho pesantren saat ini yang sering mewakili beberapa provinsi dalam lomba-lomba tingkat nasional. Contohnya saja lomba pidato Bhs. Indonesia yang diperuntukkan bagi SMP ‘umum’ yang tahun lalu diselenggarakan tingkat nasional di Bogor. Tahu siapa yang dapat juara 1-nya? Anak pesanren lho, kak Ariel Parela namanya. Seorang cowok yang ‘serumpun dan sekampung’ denganku, dan juga salah satu idola beratku. Bersekolah di DDI Mattoanging Bantaeng yng sekolahnya bisa dibilang cukup sederhana. Namun, ada bakat terpendam kan di dalamnya?! Jadi, jangan salah. Hidup di pesantren tidak akan membuat kita tidak berkembang. Nah, salah satu buktinya seperti yang sudah aku utarakan tadi. Hidup di dalam naungan pondok pesantren akan membuat kita bekembang, baik itu dari segi otak maupun akhlak dan perilaku. Sikap dewasa akan terpancar dengan sendirinya jika kita telah lama bergelut dengan segala hal yang berbau ‘boarding school’. Belajar mandiri, menyelesaikan masalah secara empiris dan kumulatif serta memperhatikan de facto yang ada, belajar menghargai yang tua dan menyayangi yang muda, belajar untuk hidup sederhana dan apa adanya, serta belajar untuk menerapkan dan mengaplikasikan bagaimana cara mengkoordinasi ‘rasa cinta dan perasaan’ yang mulai berkembang dalam lapisan-lapisan epidermis hati yang kemudian akan menuntun kita sendiri untuk tetap awas dengan segala pergaulan yang ada. Dan itu semua berjalan dengan sendirinya, bagaikan air mengalir yang menuju ke hilir. Semua itu akan terasa jika  nantinya kita telah tamat atau menjadi alumni pesantren. Dan itu semua akan indah dan sangat bermanfaat terasa. So, masih mau bilang kalau di pesantren itu kita gak berkembang? Coba pikir ulang lagi deh!

Wah, capek bercuap-cuap masalah pesantren dan segala garis miringnya, ‘katanya’... kayaknya sudah jelas sekali kalau pesantren itu bukan penjara yang nyesekkin, bukan penjara yang bikin kita kurus bagaikan hidup tinggal tulang dan dosa, bukan penjara yang bikin kita stres, gila, sampai bunuh diri, tapi pesantren itu adalah langkah awal untuk sukses ke depannya, baik itu di dunia maupun di akhirat. Pesantren, penjara suci! Ya, penjara suci. Penjara yang mendidik kita untuk berkembang menjadi sosok individu yang dewasa dengan segala kesuciannya (haha, suci? Uhm, bisa di atur!)

Jadi jadi, masih mau bilang kalau pesantren itu selalu di pandang sebelah mata?
Ya, kayaknya perhitungkan lagi yah! Ok ok.

Pesantren? Nyesekkin? Oh no!
Habbul ma’had, has wrotten.



3 komentar:

  1. bgus bnget tulisannya....

    realistis....:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, iy kak.. makasih . :) Mohon kritik dan sarannya yah kak .

      Hapus
  2. Punya temen di pesantren bikin ribet mau komunikasi, mau ketemuan, dll. Mati aja lo pesantren bisanya nyusahin orang

    BalasHapus

tinggalkan jejak kamu dengan setidaknya mengeposkan sebuah komentar :)