“Aaaaaa............”
“Kenapa lo, Lang?”
“Lihat nih, di jidat gue!”
“Hahay, lo kena jerawat, Lang! Jerawat cinta tuh!”
“Sumpe, lo?”
Wulang tak henti-hentinya memandangi wajahnya di cermin. Tujuh belas tahun dia hidup di dunia yang ekstream ini (menurutnya), baru kali ini dia kena jerawat super besar yang bisa dibilang besarnya melebihi bisul merah di bokong adik semata wayangnya yang baru berumur enam bulan. Suatu rekor yang pantas direspon dengan kata WOW!, membuat sang pemilik ‘bintil merah’ semakin miris bahkan nyaris, mati!
“Kenapa lo, Lang?”
“Lihat nih, di jidat gue!”
“Hahay, lo kena jerawat, Lang! Jerawat cinta tuh!”
“Sumpe, lo?”
Wulang tak henti-hentinya memandangi wajahnya di cermin. Tujuh belas tahun dia hidup di dunia yang ekstream ini (menurutnya), baru kali ini dia kena jerawat super besar yang bisa dibilang besarnya melebihi bisul merah di bokong adik semata wayangnya yang baru berumur enam bulan. Suatu rekor yang pantas direspon dengan kata WOW!, membuat sang pemilik ‘bintil merah’ semakin miris bahkan nyaris, mati!
“Udah Lang, tuh jerawat kagak usah diganggu-ganggu. Tambah banyak entar lo malah mati di tempat lagi!” Awal menegur Wulang sambil tak hentinya tertawa terbahak-bahak di samping Wulang yang diketahuinya lagi shock berat (contoh sahabat yang patut diacungi jempol, tertawa di atas penderitaan orang lain).
“Ih, Awal! Lo tuh ya, kapan sih bisa berhenti bercanda! Gue dah gile gara-gara si merah jelek ini, lo jangan bikin gue tambah gile lagi! Lama-lama gue jitak lo!” Wulang protes. Interruption.
“Heh, nona imut, sini gue lihat coba!” Awal lalu mendekat kepada Wulang. Tak diketahui secara pasti dalam keadaan sadar apa nggak, Awal memegang dagu Wulang dan memalingkan wajah Wulang dari cermin berputar 95 derajat tepat di depan wajahnya. Refleks tangan kanan Awal menyentuh jidat Wulang-tepatnya di bagian si bintil merah-dan mengusapnya beberapa kali. Satu hal yang membuat Wulang harus memutar otak, ngapain Awal ngusap jerawat gue sambil mulut komat-kamit kayak dukun? Tanya Wulang dalam hati. Ingin rasa hatinya mengungkapkan, namun dia takut pertanyaannya malah membuat konsentrasi Awal buyar dan semua mantra anehnya plong, hilang semua, raib oleh pertanyaan gak penting. Lama berdiam diri bak patung di emperan toko, Wulang lalu merasa lelah. Dilapnya peluh keringat yang membanjiri ubun-ubunnya sedari tadi. Namun, baru saja tangannya bergerak, tangan kiri Awal tiba-tiba saja menahannya. Wulang hanya berdehem, “Hm”. Awal tak merespon apa-apa. Dia malah menurunkan tangan Wulang dan tak lama kemudian Wulang merasakan ada sesuatu yang menyentuh pipi kanannya. Tangan Awal! Jantung Wulang berdetak kencang. Dag dig dug iramanya. Aliran darahnya mengalir lebih deras daripada biasanya. Mulutnya terkunci. Tangan, kaki dan anggota badan lainnya juga susah untuk digerakkan, seperti sudah digembok dengan gembok paling besar sedunia. Wulang hanya menutup mata ketika Awal tak henti-hentinya menatapnya. Jangan sampe lo nafsu, jangan sampe lo nafsu! Hanya kata-kata itu yang terlintas di pikirannya. Semenit, dua menit, “Woi!”. Wulang berteriak kencang. Sontak Awal kaget dan langsung menurunkan kedua tangannya dari wajah Wulang.
“Nape, lo, Lang?” Dimas membentak Wulang karena merasa tidur nyenyaknya diganggu.
“Eh, sori Dim, sori. Gue refleks.” Wulang meminta maaf sambil melirik Awal.
“Lang...” Awal mendesis, lebih mirip ular daripada berbisik.
“Ape lo!” Tak! Wulang mendorong Awal ke belakang. Marahnya saat ini sudah sampai ke ubun-ubun. Wulang pening! Lalu berlari sekencang mungkin meninggalkan kamar kosan yang disulap menjadi markas ‘genk’nya bersama Awal dan Dimas. Tak jelas apa nama genknya, mereka hanya sering dipanggil DAW oleh anak-anak sekolahan. Mungkin singkatan dari nama depan mereka masing-masing.
“Gue keluar dari genk!” Teriak Wulang di tengah rasa sesak dan ngos-ngosannya yang kala itu masih berlari.
Awal hanya duduk diam terpaku. Dipandanginya foto mereka bertiga sewaktu menjadi panitia OSPEK di sekolahan. Awal mentup matanya dalam-dalam. Dipukulnya kepalanya kuat-kuat. Kata-kata “Bodoh lu, Wal. Bodoh!” mungkin sudah seribu kali terucap dari bibirnya.
“Kenape tuh, si
Wulang?” Tanya Dimas penasaran melihat kedua teman se-genknya bertengkar. Awal
hanya diam. Lalu ia beranjak pergi meninggalkan Dimas yang tinggal melongo.
Kapan cewek tomboi kayak lo jatuh cinta, Lang! Kapan?! Tadi gue sama sekali gak mau ngapa-ngapain lo. Sumpah, hal itu gak pernah terlintas di otak gue. Gue hanya sedih, lihat pujaan gue yang sudah 3 tahun ini sama terus ama gue, kena jerawat yang bikin lo terlihat miris. Wulang, gue sayang sama lo! Seandainya tuh jerawat bisa bicara, pasti dia bilang gue ini adalah isi hati dan perasaannya Awal. Sayang, lo nggak ngerti!, Awal bergumam, dalam hati. Sesak memenuhi rongga dadanya. Ia kemudian pergi meninggalkan Dimas yang tentunya, masih melongo di tempatnya.
Kapan cewek tomboi kayak lo jatuh cinta, Lang! Kapan?! Tadi gue sama sekali gak mau ngapa-ngapain lo. Sumpah, hal itu gak pernah terlintas di otak gue. Gue hanya sedih, lihat pujaan gue yang sudah 3 tahun ini sama terus ama gue, kena jerawat yang bikin lo terlihat miris. Wulang, gue sayang sama lo! Seandainya tuh jerawat bisa bicara, pasti dia bilang gue ini adalah isi hati dan perasaannya Awal. Sayang, lo nggak ngerti!, Awal bergumam, dalam hati. Sesak memenuhi rongga dadanya. Ia kemudian pergi meninggalkan Dimas yang tentunya, masih melongo di tempatnya.
Keesokan harinya...
“Ajaib! Jerawat gue yang bikin galau super duper LENYAPPPP!” Wulang berteriak histeris.
“Kamu kenapa, Wulang?” Tiba-tiba bundanya datang dari kejauhan. Kaget melihat anaknya yang histeris (dibuat-buat).
“Hm, Wulang bahagia banget, Bunda. Sumpah!” Wulang jingkrak-jingkrak kegirangan.
“Emangnya kenapa, sayang?” Tanya bundanya, lembut.
“Bunda gak perlu tahu. Yang penting Wulang seneng banget hari ini. Oh ya, sudah hampir jam 7, Wulang berangkat dulu ya, bunda! Takut telat entaran. Dada bunda! Wulang sayang sama bunda!” Setelah meneguk segelas air, Wulang lalu melesat layaknya pesawat yang baru saja take off. Bundanya hanya terdiam, heran melihat anak gadisnya sedang euphoria hebat hari ini. Saking senangnya, ketika menuju ke garasi Wulang sampai linglung dan nyaris menabrak pot bunga dan Bi’ Rum.
“Ti ati, non!” Nasehat Bi’ Rum sudah tak terdengar lagi saat motor Ninjanya sudah turut ikut meramaikan dalam macetnya kota Jakarta.
“Ajaib! Jerawat gue yang bikin galau super duper LENYAPPPP!” Wulang berteriak histeris.
“Kamu kenapa, Wulang?” Tiba-tiba bundanya datang dari kejauhan. Kaget melihat anaknya yang histeris (dibuat-buat).
“Hm, Wulang bahagia banget, Bunda. Sumpah!” Wulang jingkrak-jingkrak kegirangan.
“Emangnya kenapa, sayang?” Tanya bundanya, lembut.
“Bunda gak perlu tahu. Yang penting Wulang seneng banget hari ini. Oh ya, sudah hampir jam 7, Wulang berangkat dulu ya, bunda! Takut telat entaran. Dada bunda! Wulang sayang sama bunda!” Setelah meneguk segelas air, Wulang lalu melesat layaknya pesawat yang baru saja take off. Bundanya hanya terdiam, heran melihat anak gadisnya sedang euphoria hebat hari ini. Saking senangnya, ketika menuju ke garasi Wulang sampai linglung dan nyaris menabrak pot bunga dan Bi’ Rum.
“Ti ati, non!” Nasehat Bi’ Rum sudah tak terdengar lagi saat motor Ninjanya sudah turut ikut meramaikan dalam macetnya kota Jakarta.
Wulang sedang memainkan
i-pad terbarunya ketika melihat Awal melintas di depan kelas. Dengan lincahnya,
dia kemudian cepat-cepat ke depan kelas untuk menemui sahabatnya yang telah
berbaik hati menyingkirkan jerawat jeleknya kemarin. Namun...
“Awal!” Awal telah melesat pergi bersama Ega ketika Wulang menyapanya sambil berteriak. Dilihatnya dengan jelas, Awal dan Ega bergandengan tangan. Tak tahu apa sebabnya, hati Wulang sangat sakit teriris-iris. Baru kali ini dia merasakan pilu yang sangat memanah jantungnya, membuat matanya berkaca-kaca dan merabunkan penglihatannya. Apa gue sakit hati ngeliat mereka berdua? Wulang bertanya dalam hati. Ah, nggak! Nggak boleh. Gue mestinya senang lihat sahabat gue yang dah jomblo sepanjang abad dapat gandengan, tapi napa gue yang jadi jealous? Jangan-jangan... . Wulang terhenyak. Dia kemudian mengatur nafasnya perlahan. Dania-adik Awal-kemudian lewat di depannya sambil berlenggak-lenggok bak model tidak pamor. Wulang menahannya, kemudian Dania tersentak untuk berhenti.
“Dan, beritahu tuh kakak lo, makasih ye buat semua! Makasih karena udah nyembuhin jerawat gue, maksudnya.” Ha? Dania terbelalak. Maksudnya? Kemudian Dania berpikir keras setelah melihat air mata jatuh di pipi tembem Wulang. Wulang lantas pergi meninggalkan Dania yang masih kepikiran. Sontak Dania berteriak kencang padanya, “Kak, lo bisa bo’ong sama gue atau siapapun, tapi lo gak bisa bo’ong sama diri lo sendiri kalau lo suka sama Abang gue dan sakit ati ngelihat dia jalan sama cewek lain!”. Wulang tak menghiraukan. Ia mempercepat langkahnya menuju wc. Dilihatnya wajahnya dalam-dalam melalui cermin westafel. Sudah puluhan tissue menjadi penghuni tempat sampah di sampingnya. Butir-butir bening di matanya tak bisa mengelak kenyataan bahwa benar, dia suka kepada sahabatnya sendiri. Dipandanginya jidatnya baik-baik. Waduh! Jerawat yang kemarin muncul kembali. Aaaaaaaaaaaaaaaa..............! Wulang kembali berteriak, histeris.
“Awal!” Awal telah melesat pergi bersama Ega ketika Wulang menyapanya sambil berteriak. Dilihatnya dengan jelas, Awal dan Ega bergandengan tangan. Tak tahu apa sebabnya, hati Wulang sangat sakit teriris-iris. Baru kali ini dia merasakan pilu yang sangat memanah jantungnya, membuat matanya berkaca-kaca dan merabunkan penglihatannya. Apa gue sakit hati ngeliat mereka berdua? Wulang bertanya dalam hati. Ah, nggak! Nggak boleh. Gue mestinya senang lihat sahabat gue yang dah jomblo sepanjang abad dapat gandengan, tapi napa gue yang jadi jealous? Jangan-jangan... . Wulang terhenyak. Dia kemudian mengatur nafasnya perlahan. Dania-adik Awal-kemudian lewat di depannya sambil berlenggak-lenggok bak model tidak pamor. Wulang menahannya, kemudian Dania tersentak untuk berhenti.
“Dan, beritahu tuh kakak lo, makasih ye buat semua! Makasih karena udah nyembuhin jerawat gue, maksudnya.” Ha? Dania terbelalak. Maksudnya? Kemudian Dania berpikir keras setelah melihat air mata jatuh di pipi tembem Wulang. Wulang lantas pergi meninggalkan Dania yang masih kepikiran. Sontak Dania berteriak kencang padanya, “Kak, lo bisa bo’ong sama gue atau siapapun, tapi lo gak bisa bo’ong sama diri lo sendiri kalau lo suka sama Abang gue dan sakit ati ngelihat dia jalan sama cewek lain!”. Wulang tak menghiraukan. Ia mempercepat langkahnya menuju wc. Dilihatnya wajahnya dalam-dalam melalui cermin westafel. Sudah puluhan tissue menjadi penghuni tempat sampah di sampingnya. Butir-butir bening di matanya tak bisa mengelak kenyataan bahwa benar, dia suka kepada sahabatnya sendiri. Dipandanginya jidatnya baik-baik. Waduh! Jerawat yang kemarin muncul kembali. Aaaaaaaaaaaaaaaa..............! Wulang kembali berteriak, histeris.
***
Suatu siang di kelas sebuah ‘Pesantren Anu’ yang bertempat di
daerah Makassar dan sekitarnya.
“Temannn!”
Seorang santriwati berteriak kayak kesurupan setan.
“Kenapako, Fitry?” Tanya seorang diantara kerumunan yang lagi sibuk mengerjakan tugas Fiqhul Mar’ah dari ustazah.
“Cepat, siapa punya Pond’s kah, Garnier kah, Nivea kah, Clean and Clear kah, atau apalah, kasika cepat e!” Gadis yang akhirnya diketahui bernama Fitry itu lalu memerintahkan temannya untuk mencari alat kosmetik seperti yang disebutkan di atas.
“Kenapako kah? Biasanya kau yang paling malas pake yang kayak gituan!” Seorang santriwati lagi yang berbadan lebih bongsor mendekatinya.
“Lu, enda’ kau lihat ini!” Fitry lalu memperlihatkan pipi kanannya yang sudah merah-merah karena dipencet-pencet sedari tadi. Jerawat ternyata.
“Haha, kenako jerawat? Jerawatnya siapa seng itu, Fit? Cie cie, Fitry ji!” Bukannya membantu, santriwati bongsor yang bernama Lulu itu malah balik menertawakannya.
“Ish, sembarangmu! Enda’ gang. Sudahka panas-panasan kemarin jadi kena kuman alias bakteri bin virus jerawat kulit wajahku, jadi beginimi hasilnya.” Jelas Fitry sambil tak henti-hentinya memencet bintil merah yang sangat jelas kelihatan dari radius 500 meter (Wow, amazing!).
“Io memang, dariko panas-panas di alun-alun kemarin, tapi pasti ketemuko cowok toh! Balleko kalau enda’ ada cowok kau lihat kemarin!” Lulu lalu memperpanjang problem.
“Puahh! Sottamu! Enda’ ada nah! Ye..” Fitry malah kembali mengejek Lulu, membuat adegan saling ejek tak dapat terhindari. Kelas ricuh seketika.
“Aahh, sudahmi deh! Malasku ja saya. Mauka dulu ke asrama cuci muka supaya agak seger-segerka sedikit. Kalau datangmi Ummi Maryam minta tolongka nah, kumpulkanka tugasku. Selesaimi, ada itu di atas mejaku.” Perintah Fitry di depan kelas, seakan memerintahkan seantero kelas untuk menuruti perintahnya (termasuk juga mungkin jin dan setan yang ada di dalamnya). Sejenak semua terdiam. Lalu, ketika Fitry sudah tak terlihat lagi batang hidungnya, kelas langsung ricuh berebut buku Tugas Fitry yang telah selesai dengan mantap. Keren!
“Kenapako, Fitry?” Tanya seorang diantara kerumunan yang lagi sibuk mengerjakan tugas Fiqhul Mar’ah dari ustazah.
“Cepat, siapa punya Pond’s kah, Garnier kah, Nivea kah, Clean and Clear kah, atau apalah, kasika cepat e!” Gadis yang akhirnya diketahui bernama Fitry itu lalu memerintahkan temannya untuk mencari alat kosmetik seperti yang disebutkan di atas.
“Kenapako kah? Biasanya kau yang paling malas pake yang kayak gituan!” Seorang santriwati lagi yang berbadan lebih bongsor mendekatinya.
“Lu, enda’ kau lihat ini!” Fitry lalu memperlihatkan pipi kanannya yang sudah merah-merah karena dipencet-pencet sedari tadi. Jerawat ternyata.
“Haha, kenako jerawat? Jerawatnya siapa seng itu, Fit? Cie cie, Fitry ji!” Bukannya membantu, santriwati bongsor yang bernama Lulu itu malah balik menertawakannya.
“Ish, sembarangmu! Enda’ gang. Sudahka panas-panasan kemarin jadi kena kuman alias bakteri bin virus jerawat kulit wajahku, jadi beginimi hasilnya.” Jelas Fitry sambil tak henti-hentinya memencet bintil merah yang sangat jelas kelihatan dari radius 500 meter (Wow, amazing!).
“Io memang, dariko panas-panas di alun-alun kemarin, tapi pasti ketemuko cowok toh! Balleko kalau enda’ ada cowok kau lihat kemarin!” Lulu lalu memperpanjang problem.
“Puahh! Sottamu! Enda’ ada nah! Ye..” Fitry malah kembali mengejek Lulu, membuat adegan saling ejek tak dapat terhindari. Kelas ricuh seketika.
“Aahh, sudahmi deh! Malasku ja saya. Mauka dulu ke asrama cuci muka supaya agak seger-segerka sedikit. Kalau datangmi Ummi Maryam minta tolongka nah, kumpulkanka tugasku. Selesaimi, ada itu di atas mejaku.” Perintah Fitry di depan kelas, seakan memerintahkan seantero kelas untuk menuruti perintahnya (termasuk juga mungkin jin dan setan yang ada di dalamnya). Sejenak semua terdiam. Lalu, ketika Fitry sudah tak terlihat lagi batang hidungnya, kelas langsung ricuh berebut buku Tugas Fitry yang telah selesai dengan mantap. Keren!
Sementara di asrama...
Fitry : “He ‘eh, iye. Kuingat jiki, masa enda’.”
Faiz : “Wah, kira kita lupa mika Fitry deh.”
Fitry : “Hehe”
Faiz : “Fitry, ada mau saya tanyakanki, tapi janganki paeng marah.”
Fitry : “Iye, apa itu nah?”
Faiz : “Sejak kulihatki kemarin, terpesonaka kurasa pada pandangan pertama (puah!
Lebay versi orang Sulawesi). Ku sukaki!”
Fitry : “Ha?”
tut... tut... tut...
“Fitry, sini hpmu!” Tiba-tiba ada seorang lelaki berbadan kekar masuk ke asrama Fitry. Fitry sontak kaget, dan ketika menoleh, Ustad Harun! Belum sempat Fitry menyembunyikan barang ilegalnya tersebut, Ustad Harun dengan sigapnya mencengkram pergelangan Fitry kuat-kuat sehingga Fitry tidak tahan mengatakan “Aduh!”, dan hp X2-nya raib seketika.
Fitry : “He ‘eh, iye. Kuingat jiki, masa enda’.”
Faiz : “Wah, kira kita lupa mika Fitry deh.”
Fitry : “Hehe”
Faiz : “Fitry, ada mau saya tanyakanki, tapi janganki paeng marah.”
Fitry : “Iye, apa itu nah?”
Faiz : “Sejak kulihatki kemarin, terpesonaka kurasa pada pandangan pertama (puah!
Lebay versi orang Sulawesi). Ku sukaki!”
Fitry : “Ha?”
tut... tut... tut...
“Fitry, sini hpmu!” Tiba-tiba ada seorang lelaki berbadan kekar masuk ke asrama Fitry. Fitry sontak kaget, dan ketika menoleh, Ustad Harun! Belum sempat Fitry menyembunyikan barang ilegalnya tersebut, Ustad Harun dengan sigapnya mencengkram pergelangan Fitry kuat-kuat sehingga Fitry tidak tahan mengatakan “Aduh!”, dan hp X2-nya raib seketika.
Fitry memasuki
kelas dengan tampang lemas. Sial sekali dia hari ini. Sudah dapat jerawat yang
kayak bisul, hp-nya ditangkap lagi sama Ustad Harun. Mengenaskan!
“Lagi malaska cerita. Yang jelasnya hp-ku ditangkap. Ituji saja.” Kata Fitry tak ingin membuat teman-temannya semakin memperburuk keadaan. Tak ada yang berani berkata-kata. Dan semuanya kemudian kembali sibuk dengan tugas Fiqhul Mar’ah mereka. Fitry kembali terhanyut dalam lamunannya. Faiz? Anak pesantren sebelah itu suka sama aku? Ya Allah! Fitry tak hentinya bergumam. Dia bagaikan orang stres yang kerjanya hanya senyam-senyum sendiri. Sejenak ia kemudian merasakan ngantuk yang menjalar sampai dua belas ruas tulang belakang (hyperbola versi Biologi).
“Lagi malaska cerita. Yang jelasnya hp-ku ditangkap. Ituji saja.” Kata Fitry tak ingin membuat teman-temannya semakin memperburuk keadaan. Tak ada yang berani berkata-kata. Dan semuanya kemudian kembali sibuk dengan tugas Fiqhul Mar’ah mereka. Fitry kembali terhanyut dalam lamunannya. Faiz? Anak pesantren sebelah itu suka sama aku? Ya Allah! Fitry tak hentinya bergumam. Dia bagaikan orang stres yang kerjanya hanya senyam-senyum sendiri. Sejenak ia kemudian merasakan ngantuk yang menjalar sampai dua belas ruas tulang belakang (hyperbola versi Biologi).
“Fitry!”
Tiba-tiba Fitry terbangun ketika ada seseorang yang meneriakinya dan menghentak
meja dengan kerasnya. Ummi Maryam!
“Iye, ummi. Afwan ketiduranka. Telatka tidur tadi malam belah.” Katanya. Memang benar, karena semalaman dia begadang karena mengerjakan tugas Fisika yang se-abrek. Ditambah lagi Faiz menelponnya ketika tugasnya baru selesai.
“Oh iya, ini tugas kamu. Benar semua. Tapi lain kali, perbaiki tulisan Arabmu!” Ummi Maryam menambahkan.
“Na’am, Ummi.” Ummi Maryam kemudian berlalu. Fitry masih terdiam melongo menatapi tugasnya yang diberi cap 100. Dia terdiam. Wah, aku tadi mimpi ketemu sama Faiz lagi! Huah! Mimpi mengerikan, tapi asyik juga. Hehe. Fitry menertawakan dirinya sendiri. Tanpa sadar dia menyentuh pipi kanannya, mukjizat! Jerawatnya mengecil dan hilang seketika.
“Iye, ummi. Afwan ketiduranka. Telatka tidur tadi malam belah.” Katanya. Memang benar, karena semalaman dia begadang karena mengerjakan tugas Fisika yang se-abrek. Ditambah lagi Faiz menelponnya ketika tugasnya baru selesai.
“Oh iya, ini tugas kamu. Benar semua. Tapi lain kali, perbaiki tulisan Arabmu!” Ummi Maryam menambahkan.
“Na’am, Ummi.” Ummi Maryam kemudian berlalu. Fitry masih terdiam melongo menatapi tugasnya yang diberi cap 100. Dia terdiam. Wah, aku tadi mimpi ketemu sama Faiz lagi! Huah! Mimpi mengerikan, tapi asyik juga. Hehe. Fitry menertawakan dirinya sendiri. Tanpa sadar dia menyentuh pipi kanannya, mukjizat! Jerawatnya mengecil dan hilang seketika.
***
Dear Diary,
Tuhan, mengapa hari ini Kau memberikan cobaan yang begitu berat kepadaku? Tuhan, aku benar-benar tak sanggup menghadapinya. Kang Ihsan, Engkau tahu sendiri Tuhan, seminggu lagi merupakan hari bahagiaku dengannya, namun mengapa tiba-tiba kau cabut nyawanya? Tuhan...
Tuhan, mengapa hari ini Kau memberikan cobaan yang begitu berat kepadaku? Tuhan, aku benar-benar tak sanggup menghadapinya. Kang Ihsan, Engkau tahu sendiri Tuhan, seminggu lagi merupakan hari bahagiaku dengannya, namun mengapa tiba-tiba kau cabut nyawanya? Tuhan...
Eulis tak bisa
meneruskan tulisannya lagi. Ia terlalu larut dalam tangisannya yang membuahkan
embun-embun kesedihan di pelupuk matanya. Buku diary kecil di depannya adalah
saksi buta dari semua ‘kegalauan’nya hari ini. Diary yang telah basah akibat
linangan air mata yang terus membanjiri kedua bola matanya yang sipit,
menjadikannya semakin sipit bahkan nyaris, seperti orang Korea (hehe).
Masih teringat
beberapa jam yang lalu ketika ia menghadiri pemakaman sang pujaan hatinya
(calon suaminya, tepatnya) dengan berseragam hitam-hitam. Suatu resepsi yang
bukannya mendatangkan kebahagiaan untuknya, melainkan malah menambah
kesengsaraannya. Eulis tak henti-hentinya meratap di atas pusara Ihsan Dwi
Putra, pria yang akrab dipanggilnya dengan sebutan Kang Ihsan. “Eulis gak bisa,
Ma. Eulis gak bisa!” Eulis membentaki ibunya ketika sang ibu memanggilnya untuk
pulang. Bukannya mau beranjak pergi, dia malah semakin menangis
tersungut-sungut di atas seonggok tanah merah ini. Seorang kiai yang kebetulan lewat
di sampingnya tadi kemudian menghentikan langkahnya. “Nak, ikhlaskan
kepergiannya. Biarkanlah dia hidup tenang di sana. Kamu tahu, dengan cara kamu
menangis seperti ini, itu hanya akan memperburuk keadaannya saja. Dia akan
semakin tersiksa. Ikhlaskanlah nak, ikhlaskan.” Pak Kiai itu terus menceramahi
Eulis yang membuat Eulis merasa tak enak untuk lebih mementingkan egonya. Dia
akhirnya dengan berat hati meninggalkan pekuburan Islam itu, masih dengan
tangis yang membahana ke angkasa.
Kemarin...
Ihsan masih sempatnya mengajak Eulis jalan-jalan hanya untuk sekedar menikmati es kelapa muda di pinggir pantai, padahal sore ini dia baru saja datang dari luar daerah setelah melaksanakan KKN-nya. Jadwal mereka tiap Sabtu sore pasti selalu begitu karena orangtua Eulis tak pernah mengizinkan Eulis untuk malam mingguan alias Satnight di luar rumah. Terlalu bahaya katanya. Sambil menikmati ‘satu rasa’ (maksudnya satu kelapa muda bersama), mereka lalu bercengkerama dan bercanda membahas masalah minggu depan. Tentang pernikahan mereka yang bakal dilaksanakan semeriah mungkin, katanya. Eulis tak henti-hentinya tertawa terpingkal-pingkal saat Ihsan bertanya kepadanya, “Eulis, eneng teh mau anak berapa?”. Sampai-sampai mereka menjadi bahan perhatian khalayak dikarenakan tawa Eulis yang bisa dibilang cukup berlebihan.
Ihsan masih sempatnya mengajak Eulis jalan-jalan hanya untuk sekedar menikmati es kelapa muda di pinggir pantai, padahal sore ini dia baru saja datang dari luar daerah setelah melaksanakan KKN-nya. Jadwal mereka tiap Sabtu sore pasti selalu begitu karena orangtua Eulis tak pernah mengizinkan Eulis untuk malam mingguan alias Satnight di luar rumah. Terlalu bahaya katanya. Sambil menikmati ‘satu rasa’ (maksudnya satu kelapa muda bersama), mereka lalu bercengkerama dan bercanda membahas masalah minggu depan. Tentang pernikahan mereka yang bakal dilaksanakan semeriah mungkin, katanya. Eulis tak henti-hentinya tertawa terpingkal-pingkal saat Ihsan bertanya kepadanya, “Eulis, eneng teh mau anak berapa?”. Sampai-sampai mereka menjadi bahan perhatian khalayak dikarenakan tawa Eulis yang bisa dibilang cukup berlebihan.
Lama menunggu
pesanan mereka, tak kunjung datang-datang. Ihsan yang sudah tidak sabaran lalu
meminta izin kepada Eulis untuk pergi memesan ulang di seberang jalan. Namun
Eulis sempat menahannya ketika melihat ada sesuatu di daerah sekitar wajahnya.
“Ih, akang! Akang jerawatan yah?” Tanyanya.
“Ah, apa bener?” Ihsan bertanya balik.
“Iya akang, tuh di dekat hidung akang!” Eulis menunjuk hidung dekat pipi kiri Ihsan. Ihsan hanya tersenyum, lalu beranjak pergi meninggalkan Eulis. Sesampainya di seberang, sebelum memesan Ihsan sempat bercermin di salah satu kaca spion motor seorang temannya yang bekerja di tempat tersebut. Setelah memesan ulang, ia lalu kembali berjalan menuju tempatnya tadi, di seberang jalan. Kali ini Ihsan berjalan pelan karena dia sibuk memencet-mencet jerawatnya yang ternyata sudah sangat merah dan semakin besar. Ah, aku gak mau Eneng Eulis jadi gak pede sama aku gara-gara jerawat ini, batinnya. Ihsan kemudian menyebrangi jalan dan masih saja terus meladeni jerawat merahnya itu. Sampai akhirnya....
“Ih, akang! Akang jerawatan yah?” Tanyanya.
“Ah, apa bener?” Ihsan bertanya balik.
“Iya akang, tuh di dekat hidung akang!” Eulis menunjuk hidung dekat pipi kiri Ihsan. Ihsan hanya tersenyum, lalu beranjak pergi meninggalkan Eulis. Sesampainya di seberang, sebelum memesan Ihsan sempat bercermin di salah satu kaca spion motor seorang temannya yang bekerja di tempat tersebut. Setelah memesan ulang, ia lalu kembali berjalan menuju tempatnya tadi, di seberang jalan. Kali ini Ihsan berjalan pelan karena dia sibuk memencet-mencet jerawatnya yang ternyata sudah sangat merah dan semakin besar. Ah, aku gak mau Eneng Eulis jadi gak pede sama aku gara-gara jerawat ini, batinnya. Ihsan kemudian menyebrangi jalan dan masih saja terus meladeni jerawat merahnya itu. Sampai akhirnya....
“Maaf, kami tak
bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan nyawanya.” Eulis histeris mendengar
perkataan dokter tersebut. Sehabis histeris, dia merasakan pening yang sangat
dan langsung jatuh pingsan di lantai. Untung ada petugas rumah sakit yang
sempat memopang tubuhnya.
Semenjak kejadian itu, hidup Eulis berubah. Dia lebih banyak melamun dan meratapi nasib. Sang tersangka tabrak laripun tak tahu di mana keberadaanya. Semenjak itu pula dia semakin malas untuk menatap wajahnya. Dia takut, sang bintil merah itu bertamu ke wajahnya dan membuatnya semakin mengingat masa lalu. Namun apa daya, takdir Tuhan. Ihsan telah berada nyaman di sisi-Nya, meskipun Eulis tak pernah menyadari hal tersebut.
Semenjak kejadian itu, hidup Eulis berubah. Dia lebih banyak melamun dan meratapi nasib. Sang tersangka tabrak laripun tak tahu di mana keberadaanya. Semenjak itu pula dia semakin malas untuk menatap wajahnya. Dia takut, sang bintil merah itu bertamu ke wajahnya dan membuatnya semakin mengingat masa lalu. Namun apa daya, takdir Tuhan. Ihsan telah berada nyaman di sisi-Nya, meskipun Eulis tak pernah menyadari hal tersebut.
***
“Nah, anak-anak,
itulah sebabnya mengapa ibu menyebut jerawat dengan sebutan ‘bintil merah
menyakitkan’, ya berdasarkan pengalaman teman-teman ibu yang telah ibu
ceritakan tadi.” Jelas Bu Narti, si guru Kimia itu kepada seluruh siswa kelas
XI IPA 1.
“Iya, Bu. Ceritanya lucu, tapi sedih juga.” Seorang siswa mengiyakan perkataan Bu Narti yang kemudian diketahui dia adalah sang ketua kelas.
“Nah, maka dari itu, kalian jangan menyepelekan apa itu jerawat, tapi jangan juga terlalu ‘wah’ kalau kena jerawat. Kalian cukup rutin membersihkan wajah, dan rajin-rajin berwudhu supaya wajah kalian semakin segar dan awet muda.” Bu Narti menambahkan ceramahnya.
“Iya, Bu.” Anak-anak menjawab serentak.
“Satu lagi, jerawat itu tak hanya bertamu kepada perempuan, tapi laki-laki juga. Makanya, anak-anak cowok yang ada di sini, kalian juga harus senantiasa membersihkan wajah kalian, apalagi kulit wajah kalian gampang menyerap kotoran.” Bu Narti tersenyum manis lalu melirik ke arah Jamal.
“Ibu nyindir saya, ya?” Jamal bertanya setelah merasa bahwa lirikan itu merupakan sindiran untuknya. Maklum, di antara semua cowok di sini hanya Jamal yang wajahnya paling banyak jerawatan.
“Iya deh, Bu. Aku bakal lebih bersih-bersih lagi. Tenang aja Bu, dan tunggu. Seminggu lagi semua cewek seantero sekolahan ini bakal mohon-mohon di terima cintanya sama aku!” Jamal menimpali, dan semakin narsis. Sontak tapi kompak seluruh siswa yang ada dalam kelas tersebut meneriaki Jamal secara bersamaan, “Huuu.... Ngarep lu!”
“Ah, sudah, sudah anak-anak. Kalian tak perlu bertengkar. Oh iya, jam ibu sudah habis. Kalian juga mesti istirahat. Mungkin sampai di sini dulu perjumpaan kita pada siang hari ini, ibu tutup dengan mengucapkan Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.”
“Iya, Bu. Ceritanya lucu, tapi sedih juga.” Seorang siswa mengiyakan perkataan Bu Narti yang kemudian diketahui dia adalah sang ketua kelas.
“Nah, maka dari itu, kalian jangan menyepelekan apa itu jerawat, tapi jangan juga terlalu ‘wah’ kalau kena jerawat. Kalian cukup rutin membersihkan wajah, dan rajin-rajin berwudhu supaya wajah kalian semakin segar dan awet muda.” Bu Narti menambahkan ceramahnya.
“Iya, Bu.” Anak-anak menjawab serentak.
“Satu lagi, jerawat itu tak hanya bertamu kepada perempuan, tapi laki-laki juga. Makanya, anak-anak cowok yang ada di sini, kalian juga harus senantiasa membersihkan wajah kalian, apalagi kulit wajah kalian gampang menyerap kotoran.” Bu Narti tersenyum manis lalu melirik ke arah Jamal.
“Ibu nyindir saya, ya?” Jamal bertanya setelah merasa bahwa lirikan itu merupakan sindiran untuknya. Maklum, di antara semua cowok di sini hanya Jamal yang wajahnya paling banyak jerawatan.
“Iya deh, Bu. Aku bakal lebih bersih-bersih lagi. Tenang aja Bu, dan tunggu. Seminggu lagi semua cewek seantero sekolahan ini bakal mohon-mohon di terima cintanya sama aku!” Jamal menimpali, dan semakin narsis. Sontak tapi kompak seluruh siswa yang ada dalam kelas tersebut meneriaki Jamal secara bersamaan, “Huuu.... Ngarep lu!”
“Ah, sudah, sudah anak-anak. Kalian tak perlu bertengkar. Oh iya, jam ibu sudah habis. Kalian juga mesti istirahat. Mungkin sampai di sini dulu perjumpaan kita pada siang hari ini, ibu tutup dengan mengucapkan Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.”
11 Ramadhan 1433 H./ 31 Juli 2012 M.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
tinggalkan jejak kamu dengan setidaknya mengeposkan sebuah komentar :)