Tentang Kita Yang Tak Jodoh


         “Kering air mataku, mengingat tentangmu... Tentang kita yang tak jodoh... Uuuu”
         “Imam, bisa diam tidak!”
Aku semakin frustasi meratapi deru hujan yang mulai menjadi rintik kecil sedikit demi sedikit. Hari ini matahari seakan ikut merasakan kepedihan yang kurasakan sehingga enggan menampakkan sinar kemilau keemasaannya sedari pagi. Pukul 10.00.  Ya, setengah jam lagi orang yang begitu kucintai dan kusayangi dengan segenap hatiku akan pergi untuk selamanya. Bukan untuk kembali ke sisi Sang Maha Raja, melainkan untuk beranjak ke pelukan orang lain. Dan sialnya, ITU BUKAN AKU!

         Mungkin sudah berpuluh-puluh lembar tissue telah menjadi penghuni tempat sampah kecil di sampingku. Untungnya Tuhan masih berbaik hati memberiku persediaan air mata yang banyak sehingga aku tak harus pergi ke dokter spesialis mata akibat habis nangis darah. Ku cek handphoneku, sudah ada tiga puluh missed call dari Nunu yang tak pernah dan tak ingin kuhiraukan sama sekali. Inbox-ku sudah full dengan pesan-pesan baru dari Nunu lagi yang isinya sama semua; “Kak Reza plisss angkat telponnya Nunu!”. Aku tak peduli! Apapun yang akan terjadi entah itu detik ini, satu menit kedepan, setengah jam kemudian, ataupun beberapa hari yang akan datang, aku tak peduli! Toh, apapun yang kuperbuat sekarang tidak akan mengubah takdir kalau nanti, tepat pukul 10.30, Agung Ahmad Afrizal tetap akan menikah dengan gadis pilihan yang paling perfect, menurut ibunya. Sekali lagi handphoneku berdering. Kutatap sekilas, bukan lagi Nunu yang menelpon tapi Aa yang langsung turun tangan. Dengan sedikit ketakutan, mungkin karena takut emosiku akan naik, ibu lalu memerintahkanku untuk mengangkat telepon dari Aa. Tanpa suara. Hanya dengan anggukan. Aku sempat menggeleng, namun ibu lalu mengambil handphoneku dan mengangkat telepon dari Aa tersebut. Sontak aku menarik nafas dalam-dalam. Ibu yang telah dengan setia menemaniku dari tadi lalu tersenyum simpul padaku sambil mengusap perlahan air mata yang tak henti-hentinya jatuh di pipiku. Pelan aku menerima sodoran handphone dari ibu. Dengan nada yang masih terisak kupaksakan suaraku untuk keluar meskipun sudah habis rasanya. Parau.
Aa    : “Reza, ini aku. Kamu udah lupa ya sama aku?”
Reza   : “Tidak. Ngapain kamu nelpon ke sini? Ada perlu apa? Aku kira kalau ibumu
             tahu kamu bakal dimarahi abis-abisan.”
Aa    : “Reza, aku tahu. Aku juga tidak mau ini terjadi. Tapi..”
Reza: “Tapi apa?! Setelah semua yang telah kamu lakuin ke aku kamu masih
             santainya bilang tapi? Aku mulai curiga deh, apa kamu masih punya hati
             apa TIDAK!”
Aa    : “Eca, bukan maksud aku ngecewain kamu. Ok, sekarang siap tidak siap, mau
             tidak mau, aku bakal menjalani hidupku tanpa kamu lagi. Apa kamu
             sanggup?”
Reza   : “Iya, aku SANGGUP!”
tit.. tit.. tit..
         Emosiku membuncah! Kenapa Aa tak bisa berpikir dewasa sedikit saja, Tuhan! Apa dia tak mengerti perasaanku yang tersakiti di sini? Atau, apa dia memang benar-benar sudah berikhlas hati menerima calon yang disodorkan ibunya? Aku tak tahu. Sama sekali tak tahu. Mungkin Imam benar, kalau sudah tak jodoh buat apa harus ditangisi. Namun aku bukan cowok setegar Imam yang berkali-kali ditinggal pergi cewek dan tak pernah menitikan air mata, sedikitpun. Sudahlah. Tidak itu Aa, tidak itu Imam, tidak itu Nunu, tidak itu ibu sekalipun tak ada yang mengerti perasaanku saat ini.  Biarlah aku sendiri yang menumpukan sesak derita di hati.
Tuhan, tolong peluk aku! Kali ini.. saja. Biarkan kutumpahkan sejenak semua air mataku sambil bersandar di bahu-Mu. Aku lelah dengan ini semua!
***
         “Aku Aa, nama kamu siapa?” Cowok bertubuh jangkung itu menatapku lekat sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman. Body-nya tinggi. Jika berdiri di sampingnya aku hanya bisa sampai pundaknya saja. Orangnya hitam manis. Sesaat dia tersenyum, membuat aku tersipu malu dengan pipi yang agak kemerah-merahan.
         “Aku Reza.” Aku membalas sodoran tangannya sambil tersenyum pula. Sejenak terasa ada sesuatu yang membuat hatiku dag-dig-dug tak karuan. Aku lalu menarik nafas dalam-dalam sambil sesekali mengelus dadaku.
         “Kenapa? Oh iya, aku panggil Eca aja, boleh?” Melihat tingkahku yang semrawutan, ia kemudian mengalihkan pembicaraan.
         “Oh, tentu. Of course, why not! Hehe.” Aku lalu tertawa kecil. Aa yang melihat juga ikut tertawa. Sejenak kami masuk dalam acara diam-diaman. Tersadar beberapa menit kemudian aku lalu memanggilnya untuk singgah sebentar ke kantin guna mengisi perut yang sedari tadi sudah keroncongan. Aa mengiyakan. Tanpa sadar ia langsung menggandeng tanganku. Aku tertegun. Terdiam. Speechless. Aa hanya menatapku. Seakan semua ini dimengertinya dengan sangat. Beberapa detik kemudian ia lalu berbisik di telingaku. ”Ayo!”. Aku kaget. Untung aku masih bisa menyesuaikan diri. Aku lalu tersenyum simpul dan mengikuti jejak langkahnya menuju ke kantin.
         Setelah memesan dua mangkuk bakso serta segelas cappucino dan lemon tea, kami lalu mengambil meja yang dekat dengan taman bunga. Aa yang memilih. Sekali lagi, aku hanya menurut. Sambil menatapi bunga-bunga yang bermekaran di taman, Aa kemudian memulai percakapan, lagi.
         “Eca, waktu tes masuk kamu urutan ke berapa? Aku dua puluh, lho!” Katanya bangga. Aku sempat terkekeh dalam hati mendengarnya. Dua puluh? Dibanggakan? Oh no!
         “Aku? Alhamdulillah aku urutan ke lima. Itu sebabnya aku dapat beasiswa untuk dua semester ini.” Aku menjawab dengan bangga seakan tak ingin dikalah.
         “WOW! Amazing!” Aa kaget mendengar jawabanku. Tak tahu mengapa aku saat itu benar-benar merasa merdeka sambil tersenyum sinis penuh kemenangan.
         “Wah, itu biasa aja, kok.” Jawabku menimpali, merendahkan diri sedikit.
         Semenjak pertemuan itu Aa lalu mengambil nomor handphoneku. Semenjak itu pula kedekatan kami terus bertambah hingga pada suatu malam di lapangan tengah kota yang lagi sepi....
         “Eca, aku suka sama kamu. Kamu mau gak jadi.. ee... jadi.. pacarku?” HAH?! one more time, I’ve speechless anymore. Oh my God! Jantungku yang dag-dig-dug semakin berirama rasanya. Ku tatap lekat-lekat wajah Aa yang berseri-seri malam itu. Tuhan, apa ini yang namanya CINTA? Astaga, aku baru kelas sepuluh! Baru kelas satu putih abu-abu. Tuhannnnnn............
         “Eca, ayo... Jawab dong!” Aa meminta lagi. Setelah berpikir agak lama, akhirnya akupun menjawab;
         “Iya deh, aku terima-terima aja.” Tak kusangka Aa yang kulihat saat itu langsung bahagia setengah mati sambil melompat-lompat di sampingku. Kegirangan setengah mati. Aku tertawa terbahak-bahak. Aa? Ternyata di sini sisi kekanak-kanakannya.
         “Thank you so much, Eca. Thank you, HONEY! Mmaahhh...” Hm. Aku mengelus pipiku perlahan. Tuhan? Pipiku... pipiku.... Tuhannn!
         “Aa!” Aku berteriak kencang di hadapannya.
         “Eca, maaf. Aku, kegirangan. Sumpah!” Jawabnya tanpa rasa bersalah sedikitpun. Pertama kalinya ada seorang cowok yang berani mencium pipiku. Mau marah rasanya, tapi sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur. Terlanjur. Aku hanya terdiam. Aa seakan merasakan hawa marahku. Aku tetap diam. Sampai Aa berkata lagi.
         “Eca, aku boleh minta satu hal, tidak?” Meminta, lagi. Baru saja jadian permintaannya sudah seabrek. Ingin emosi rasanya. Wajahku mulai menampakkan rada-rada kesal. Aku menggulung bibirku. Apa dia minta bibir? Kataku sejenak dalam hati. Bibirku yang manyun semakin kugulung rapat-rapat ke dalam. Sudah cukup tanpa ba-bi-bu pipiku malam ini menjadi sasaran. Dalam hati aku bertekad keras, sekali saja dia sentuh bibirku maka tangan mulusku yang sudah gatal untuk meninju ini akan mencium balik pipinya. Jangan salah, begini-begini aku juga anak tapak suci, ya meskipun baru sabuk kuning.
         “Eca, aku mau kamu gak bakal pernah ninggalin aku. Aku mau sama kamu terus. Aku mau sama kamu selamanya. Kalau perlu aku mau nikah sama kamu!” Hah? Nikah? Ini anak sudah gila atau kurang waras? Tuhan, sumpah! Aku sama sekali gak pernah kepikiran sampai situ. Pacaran sama Aa saja baru terpikirkan malam ini. Itupun baru ketika aku jadian. Aaaarggggh........ Kenapa sih aku harus terbelit roman cinta seperti ini? Aku masih mau belajar. Urusi hal ‘sepele’ yang kayak gitu masih terlalu minim di otakku. Ok, Reza, woles. Slow. Jalani sajalah dulu. Urusan ke depannya biar Tuhan yang mengatur.
***
         Ok, jalani saja dulu. Dan beginilah hasilnya. Aa semakin hari serasa semakin ‘dimabuk cinta’ olehku. Aku sendiri saja always enjoy whatever to do. Tapi Aa?  Dia beda. Dia malah menjalani semuanya dengan penuh keseriusan seakan dia telah mengetahui garis Tuhan bahwa aku adalah jodoh yang diciptakan untuknya. Dia telah memperkenalkan aku dengan ibunya, ayahnya, serta kakaknya dan dua orang adiknya. Itulah mengapa aku begitu dekat dengan Nunu, adik terakhir Aa yang masih duduk di bangku kelas 2 SD. Aku takut akan mengecewakan Aa ke depannya, karena jujur saja planning untuk itu semua tidak ada sama sekali. Di keluargaku cuma aku dan sepupuku yang mengetahui hal tersebut. Ayah ibuku? Oh, impossible. Kalau ketahuan bisa-bisa aku digantung di pohon mangga depan rumah. Adikku? Dia orangnya bocor. Tidak bisa jaga rahasia, sedikitpun. Status di kronologi FB-ku saja kusembunyikan dari dia.
         Kemarin aku mendengar kabar dari Fadhil kalau Aa curcol semua tentang apa yang telah aku jalani dengannya. Muak rasanya aku mendengar Fadhil bercerita panjang lebar semua kisahku dengan Aa. Dimulai dari pertama kali jadian sampai ketika aku harus mengikhlaskan apa yang telah ku jaga selama enam belas tahun ini. Bukan keperawanan maksudnya, tapi hal yang lebih kecil daripada itu. Haruskah dipublikasikan? Ok, aku masih diam. Masih tetap diam. Dan akupun tak tahu entah sampai kapan aku akan tetap terus diam di tengah kelemahanku sebagai seorang wanita. Mungkin dunia menertawakanku, namun apa hendak ku kata. Bak lagu D’Masiv ‘Cinta Sampai di Sini’, semua apa yang kupunya benar-benar telah kuberikan. Dan aku sama sekali tak pernah terpikirkan untuk ‘melakukan’ semua hal yang menurutku melebihi batas kewajaranku sendiri sebagai seorang pelajar. Aku khilaf! Dan semua terjadi bagai air mengalir. Begitu saja. Dan semenjak itu pula, persepsiku berubah!
         Seakan terhipnotis, aku yang dulu begitu tak acuh dengan semua perjalanan cintaku kini mulai berbalik 180 derajat. Sekarang bukan Cuma Aa lagi yang memperjuangkan cinta mati-matian, tapi aku juga! Aku seakan telah terdoktrin untuk mencintai Aa sepenuh hatiku, mencintainya dengan segenap jiwa dan ragaku, mencintai segala kekurangan dan kelebihannya.  Ya, aku terkalahkan oleh nafsu. Dan di sinilah aku sekarang. Di antara semua rasa sesalku yang menggumpal bagaikan seonggok darah bangkai yang amis luar biasa. Akupun tak pernah mengerti mengapa Aa bisa menjerumuskan aku pada kisah telenovela yang begitu pelik seperti ini. Aku baru anak SMA, sekali lagi. Aku masih punya seribu cita-cita setinggi langit yang haruskah ‘ternomor-duakan’ akibat love story  yang begitu menguras emosi dan perasaan? Dan, ya. Aku benar-benar terhipnotis oleh kelamnya masa putih abu-abu. Untunglah aku masih bisa menjaga satu aset paling berharga yang kumiliki. Jika tidak mungkin aku sudah tak layak dikatakan sebagai manusia lagi.
         Tiga bulan duduk di bangku SMA, Aa akhirnya diperintahkan untuk sekolah ke Jawa oleh orangtuanya. Dan tahu siapa orang yang paling teriris hati akibat kepergiannya? Bukan ibunya, bukan ayahnya, TAPI AKU! Hampir sebulan lamanya aku tak berhenti menangisi keadaan yang aku derita sekarang. Aku takut, takut sekali kalau-kalau di sana Aa mengecewakanku. Kalau-kalau ia mengingkari janjinya, mencintai orang lain, dan mencampakkan semua penantianku. Namun aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya seorang gadis biasa. Gadis lugu yang telah terjerat cinta buta seorang anak manusia. Aku sering terkekeh dalam hati ketika mengingat masa-masa indah ketika Aa masih ada di rangkulanku. Aku sesekali juga menahan air mata di tengah kekehanku yang menandakan betapa rapuhnya diriku. Lagu yang palig sering kuputar di MP3-ku bukanlah lagu-lagu manis lagi yang sering kudengar bersama Aa seperti lagu Seluruh Nafas Ini by Last Child featuring Giselle, melainkan lagu-lagu slow Avril Lavigne yang menunjukkan kehilangan seseorang, seperti lagu When You’re Gone. Betul-betul aku dituntut untuk membagi dua pikiranku. Untuk cinta, dan untuk menuntut kewajiban utama sebagai pelajar yang rasanya ternomor duakan dengan sendirinya. Untunglah gloomy yang kurasakan tak terlalu pahit rasanya karena meskipun Aa jauh namun komunikasi kami tetap berjalan meskipun Cuma seminggu sekali.
***
         “Eca!” Aa berlari mendekatiku dan langsung saja dengan sigapnya memelukku. Aku sampai-sampai susah bernafas karena dekapannya yang amat erat. Ya, hari ini Aa telah menyelesaikan studinya di Jawa selama SMA dan tak tahu mengapa ia meminta aku sendiri yang menjemputnya di bandara.
         “Aku kangen banget sama kamu!” Aa berkata lagi kepadaku. Raut wajahnya penuh kegembiraan. Sejenak ia kemudian menatapku lekat-lekat dan mencium jidatku. Pipiku merah disaksikan orang banyak. Untunglah mereka acuh tak acuh dan tetap sibuk dengan kerjaan mereka masing-masing.
         “Iya, aku juga kangen. Kangen banget malah.” Aa tersenyum melihat aku tersenyum. Ia kemudian memelukku dan semakin mempererat pelukannya. Badanku rasanya pegal-pegal dipeluknya. Tapi biarlah, hari ini dia begitu berbahagia.
         Setelah membereskan semua urusan, kami berduapun beranjak meninggalkan bandara Int. Sultan Hasanuddin dan bergegas pulang ke rumah Aa. Kali ini aku yang menyetir mobil karena Nunu, adik Aa, dia sendiri yang meminjamkan mobilnya padaku. Kulihat Aa masih lemas dan kecapaian. Ia kemudian bersandar di bahuku. Tak beberapa lama kemudian kulihat ia terlelap. Ia manis sekali.
         Berselang kepulangan Aa, sebulan kemudian aku diberi kabar oleh pihak Universitas Indonesia untuk segera terbang ke Jakarta. Kutanya ada apa, ternyata berkasku lolos untuk masuk FK di sana. Betapa senangnya hatiku mendengar kabar yang sangat menggembirakan tersebut. Namun apa kata Aa?
         “Ca, jangan pergi. Sudah tiga tahun aku menunggu supaya kita bisa sama-sama lagi. Please, Eca! Kuliah di sini saja. Aku gak mau kehilangan kamu lagi.” Aa menangis sambil merebahkan bandannya di pahaku. Sontak aku kaget. Ini mimpiku. Ini mimpi orangtuaku. Aku tak mau karena urusan ‘pacaran’ mimpiku harus ternomor duakan lagi, untuk kesekian kalinya. Aku tersenyum menatapi Aa yang matanya masih berbinar-binar. Bagaikan bulan dan bintang, tak tahu mengapa kami sudah sangat susah untuk terpisahkan. Aa yang pergi, aku yang histeris setengah mati. Giliran aku yang pergi, Aa yang menangis. Aku lalu menenangkannya sambil berjanji kalau aku hanya bakal cinta sama dia, not for anyone else, yang penting dia juga setia menanti aku di sini sama seperti ketika aku menunggunya dulu selama tiga tahun. Aa hanya mengangguk. Kutahu itu adalah anggukan tak ikhlas. Namun ia juga tak boleh memaksakan kehendak. Sama seperti aku dulu yang tetap diam meskipun hati ini tertindas rasanya.
Dan akupun pergi.
 ***
         Empat tahun merantau di kampung orang membuat aku sangat rindu rasanya dengan kampung halaman. Ya, minggu depan aku akan pulang. Menumpahkan segelas kerinduan kepada ibundaku tercinta yang mulai sakit-sakitan. Sudah sebulan ini Aa tak pernah menghubungiku. Akupun malas menanyakan keadannya karena sebulan ini juga aku sibuk dengan urusan wisudaku. Sudahlah, ku yakin dia di sana baik-baik saja.
         Kulangkahkan kaki kecilku memasuki rumahku yang sudah lama tak pernah kupijaki. Kulihat raut ayah, ibu, dan Imam yang sangat bahagia melihat kehadiranku. Aku memeluk mereka satu persatu. Ayah tak henti-hentinya mengelus pundakku. Ibu tak henti-hentinya mencium pipiku. Sedangkan Imam tak henti-hentinya membuka semua barang bawaanku, mencari ole-ole palingan. Sejenak mataku tertuju pada sebuah undangan kuning yang amat cantik. Aku meraihnya, tapi ibu melarang. Raut wajahnya yang bahagia langsung berubah menjadi pucat pasi.
         “Ibu kenapa? Itu undangan apa, Ibu?” tanyaku pelan pada ibu. Ibu tak menjawab. Ibu malah meneteskan air mata. Aku semakin heran. Kurampas undangan kuning yang digenggam ibu dengan erat. Semuanya terdiam. Tidak itu ibu. Tidak itu ayah. Bahkan tidak itu Imam si cerewet sekalipun. Kubuka perlahan. Dan ternyata...
         “Ca, sudah siuman nak?” Kulihat ayah mengelus-elus jidatku. Padanganku kabur. Sempat kuingat tadi ketika aku terhuyung dan tiba-tiba saja badanku terhempas ke belakang. Undangan itu, ya undangan itu.
         “Kemarin Aa datang kemari. Ditemani sama Nunu. Mereka memberikan undangan itu kepada ibu. Katanya itu alasan Aa mengapa sebulan ini tak pernah menghubungimu lagi, nak. Ibunya memerintahkannya untuk menikah dengan seorang pegawai kantoran. Aa tak mau, ia malah tetap bertekad menunggu kamu. Namun ibunya sudah tidak bisa diajak kompromi. Aa malah menangis kemarin sambil menceritakan itu semua kepada ayah dan ibu.” Jelas ibu membuat kepalaku semakin pening.
         “Ibu, ayah, bisa tinggalin Eca sendiri tidak? Eca mau sendiri dulu.” Aku masih terdiam. Masih hanya bisa diam. Sejenak kemudian air mataku membuncah dengan sendirinya, membanjiri pelosok-pelosok hati yang semakin teriris-iris. Di sinilah akhir dari penantianku selama tujuh tahun ini, kurang lebih. Ingin rasanya aku bunuh diri saja, namun tak tahu mengapa pikiran bodoh itu langsung menyingkir dengan sendirinya. Trrrrrr...... Ku dengar handphoneku bergetar. Kubiarkan sejenak. Aku malas memerhatikan hal lain saat ini. Yang ku tahu, separuh jiwaku sudah hilang dan pergi untuk selama-lamanya. Tak ada lagi kisah roman dan telenovela serta penantian seperti yang dulu. Tidak ada lagi planning untuk memiliki anak empat dan membangun rumah sendiri. Semuanya SIRNA! Terbalut dengan air mata yang tumpah. Kutatap sekilas handphoneku, one missed call: Aa sayangku. Bullshit!
......
Kenang diriku,
selalu di hatimu, selalu di jiwamu, simpan di memorimu.
Kunanti dirimu,
jika malampun tiba, cukup kita yang tahu, mimpi jadi saksinya.
(Tak Jodoh-T2)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tinggalkan jejak kamu dengan setidaknya mengeposkan sebuah komentar :)