Satu satu, aku
sayang ibu
Dua dua, juga sayang ayah...
Sayup-sayup kudengar lagu seirama yang membuat aku semakin terhanyut dalam tidur nyenyakku. Lagu yang berbirama sama, dan endingnya dengan melodi yang sedikit naik. Lagu lama yag juga telah lama membekas di hati, yang bagai tak pernah lapuk di makan rayap jiwa yang semakin hari semakin bersemedi jauh dari titik pusaranya. Yang dulu. Ya, yang dulu. Sesuatu yang dulu yang tak akan pernah hilang dari ingatan. Yang akan selalu terpatri di benak, yang akan selalu tercantum dalam memori, yang akan selalu me-remind bahwa pernyataan ‘where there’s a will, there’s a way’ bear-benar adalah bukti yang nyata.
Dua dua, juga sayang ayah...
Sayup-sayup kudengar lagu seirama yang membuat aku semakin terhanyut dalam tidur nyenyakku. Lagu yang berbirama sama, dan endingnya dengan melodi yang sedikit naik. Lagu lama yag juga telah lama membekas di hati, yang bagai tak pernah lapuk di makan rayap jiwa yang semakin hari semakin bersemedi jauh dari titik pusaranya. Yang dulu. Ya, yang dulu. Sesuatu yang dulu yang tak akan pernah hilang dari ingatan. Yang akan selalu terpatri di benak, yang akan selalu tercantum dalam memori, yang akan selalu me-remind bahwa pernyataan ‘where there’s a will, there’s a way’ bear-benar adalah bukti yang nyata.
7 tahun yang lalu.
Ibu tak
henti-hentinya menangis di pangkuanku. Sejak kemarin bisa di bilang aku belum
sempat mendapatkan jam terbang untuk singgah di mimpi-mimpi fantasiku tiap
malamnya. Bukan mimpi apa, hanya memimpikan kalau: kelak aku bisa meraih juara
kelas tiap semesternya, lulus dengan nilai yang membanggakan, diterima di
fakultas kedokteran kebanggaanku, jadi dokter yang bisa menjadi perantara atas
Maha Murahnya Sang Khalik menyembuhkan manusia-apalagi bagi Ibu yang kutahu
sudah lama menderita leukimia-, serta diberikan jodoh yang juga baik tentunya.
Namun, itu semua kuberi batasan pada tiap paragrafnya. Aku takut aku terlalu
larut dalam cita-cita yang mungkin saja hanya bunga tidur. Aku takut frustasi.
Aku takut depresi. Ya, karena untuk melanjutkan jenjang ke putih abu-abu saja,
itu masih fifty-fifty.
Aku tak henti-hentinya mencium jidat ibu, pelan. Sambil mengelus-elus punggungnya, air mata di pelupuk ini ternyata juga ikut tumpah membanjiri suasana hati yang pekat. Jangan nangis,Da! Jangan nangis! Aku tak henti-hentinya menyemangati diriku di tengah kegalauan yang sangat. Bagaimana bening ini tidak tumpah, sementara ibu tak henti-hentinya menangis tertatih di hadapanku. Kucoba tenangkan sedikit perasaannya, namun tak ada perubahan. Akupun mulai angkat bicara. Dan tentunya, dengan raut yang sok tegar padahal begitu rapuh di dalamnya.
“Ibu, sudah. Jangan nangis lagi. Ikhlaskan kepergian ayah. Ibu tak boleh begini terus. Ibu harus bangkit!” Kataku, slowing but sure.
Ibu masih larut dalam tangisnya, seakan mulutnya telah terkunci rapat-rapat dan tak mau mengungkapkan sepatah-dua patah kata lagi.
“Ibu, sudah maghrib. Mending kita shalat dulu, yuk!” Aku mengelus uraian jilbab ibu sejenak. Jilbab yang melambangkan betapa anggun dan tegarnya sosok ibu yang telah kukenal semenjak 15 tahun lalu. Jilbab yang senantiasa menutupi raut cantik jelitanya, yang ku tahu hanya ingin dipersembahkan untuk suaminya tercinta, ayah yang telah berpulang kemarin sore. Aku menghapus air mata di pipi ibu lalu menuntun ibu menuju ke kran air tempat di mana kami biasa mengambil air wudhu. Ibu masih diam. Membisu. Bibirnya yang biasanya merah merekah hari ini tampak begitu pucat, sangat pucat malahan. Setelah mengambil air wudhu, masih dalam tuntunanku akupun melaksanakan shalat maghrib berjamaah dengan ibu. Untuk kali pertamanya, aku mengimami ibu yang hanya bisa shalat dengan duduk saking lemasnya.
Sehabis shalat, tanpa ba bi bu ibu langsung nyungsep di atas tempat tidurnya. Aku yang melihatnya hanya mampu mengucapkan istighfar dalam-dalam sambil berdoa lirih, Ya Allah berilah kekuatan pada hamba-Mu yang lemah ini. Aku kemudian menyelimuti tubuh ibu dengan selimut tipis yang biasa kupakai tiap malamnya. Sehabis membaca beberapa lembar surah Ali Imran, aku juga ikut-ikutan dengan ibu dan langsung terjun ke dalam lelahku hari ini. Tepat pukul 01.05 dini hari aku terbangun. Bukan terbangun karena apanya, namun aku terbangun gara-gara aku mendegar sesuatu bergetar. Bukan handphone, melainkan perutku sendiri yang berbunyi ‘prrrr’ sehingga menimbulkan getaran. Dramatis sekali. Aku baru ingat, seharian ini aku dan ibu belum sempat menyantap makanan, secuilpun! Dengan sedikit menahan sakit yang membuat perutku agak sedikit mengempis, aku lalu melangkahkan kaki kecilku menuju meja makan. Dan yang kudapati? Hanya sebuah piring kosong. Tak ada makanan, tak ada minuman. Aku menghembuskan nafas pelan. Ya Allah, semiris inikah yang kurasakan? Setelah hanya mendapati sebotol air dalam lemari es, tempat pemberhentianku selanjutnya adalah kamar ibu. Kutatap lekat-lekat wajah ibu yang dulu cantik, kini telah keriput dimakan usia. Flek-flek hitam di wajahnya juga semakin hari semakin banyak. Ya, semenjak ayah koma sebulan yang lalu setelah ditabrak lari oleh seorang preman pasar, ibu tak pernah lagi mengurusi dirinya sendiri. Jangankan memakai make-up, makan pun bila tak diingatkan pasti ibu juga tak akan makan. Sekarang badan ibu semakin kurus. Padahal dulu bisa dibilang ibu adalah sosok wanita idaman yang memiliki body ramping dan tubuh tinggi semampai. Tak sama dengan aku yang bongsor. Aku tak tega melihat ibu yang semakin tak karuan. Setahuku, ibu adalah orang yang tegar. Meskipun leukimia merupakan temannya semenjak lahir ke dunia ini, namun ibu tak pernah mengeluh, sedikitpun. Ia tetap dengan ketegarannya yang membuat aku sangat mengagumi sosok sepertinya. Namun sekarang, dia begitu rapuh, mungkin karena ayah yang merupakan penyemangat hidup utamanya telah kembali ke sisi-Nya.
Aku tak henti-hentinya mencium jidat ibu, pelan. Sambil mengelus-elus punggungnya, air mata di pelupuk ini ternyata juga ikut tumpah membanjiri suasana hati yang pekat. Jangan nangis,Da! Jangan nangis! Aku tak henti-hentinya menyemangati diriku di tengah kegalauan yang sangat. Bagaimana bening ini tidak tumpah, sementara ibu tak henti-hentinya menangis tertatih di hadapanku. Kucoba tenangkan sedikit perasaannya, namun tak ada perubahan. Akupun mulai angkat bicara. Dan tentunya, dengan raut yang sok tegar padahal begitu rapuh di dalamnya.
“Ibu, sudah. Jangan nangis lagi. Ikhlaskan kepergian ayah. Ibu tak boleh begini terus. Ibu harus bangkit!” Kataku, slowing but sure.
Ibu masih larut dalam tangisnya, seakan mulutnya telah terkunci rapat-rapat dan tak mau mengungkapkan sepatah-dua patah kata lagi.
“Ibu, sudah maghrib. Mending kita shalat dulu, yuk!” Aku mengelus uraian jilbab ibu sejenak. Jilbab yang melambangkan betapa anggun dan tegarnya sosok ibu yang telah kukenal semenjak 15 tahun lalu. Jilbab yang senantiasa menutupi raut cantik jelitanya, yang ku tahu hanya ingin dipersembahkan untuk suaminya tercinta, ayah yang telah berpulang kemarin sore. Aku menghapus air mata di pipi ibu lalu menuntun ibu menuju ke kran air tempat di mana kami biasa mengambil air wudhu. Ibu masih diam. Membisu. Bibirnya yang biasanya merah merekah hari ini tampak begitu pucat, sangat pucat malahan. Setelah mengambil air wudhu, masih dalam tuntunanku akupun melaksanakan shalat maghrib berjamaah dengan ibu. Untuk kali pertamanya, aku mengimami ibu yang hanya bisa shalat dengan duduk saking lemasnya.
Sehabis shalat, tanpa ba bi bu ibu langsung nyungsep di atas tempat tidurnya. Aku yang melihatnya hanya mampu mengucapkan istighfar dalam-dalam sambil berdoa lirih, Ya Allah berilah kekuatan pada hamba-Mu yang lemah ini. Aku kemudian menyelimuti tubuh ibu dengan selimut tipis yang biasa kupakai tiap malamnya. Sehabis membaca beberapa lembar surah Ali Imran, aku juga ikut-ikutan dengan ibu dan langsung terjun ke dalam lelahku hari ini. Tepat pukul 01.05 dini hari aku terbangun. Bukan terbangun karena apanya, namun aku terbangun gara-gara aku mendegar sesuatu bergetar. Bukan handphone, melainkan perutku sendiri yang berbunyi ‘prrrr’ sehingga menimbulkan getaran. Dramatis sekali. Aku baru ingat, seharian ini aku dan ibu belum sempat menyantap makanan, secuilpun! Dengan sedikit menahan sakit yang membuat perutku agak sedikit mengempis, aku lalu melangkahkan kaki kecilku menuju meja makan. Dan yang kudapati? Hanya sebuah piring kosong. Tak ada makanan, tak ada minuman. Aku menghembuskan nafas pelan. Ya Allah, semiris inikah yang kurasakan? Setelah hanya mendapati sebotol air dalam lemari es, tempat pemberhentianku selanjutnya adalah kamar ibu. Kutatap lekat-lekat wajah ibu yang dulu cantik, kini telah keriput dimakan usia. Flek-flek hitam di wajahnya juga semakin hari semakin banyak. Ya, semenjak ayah koma sebulan yang lalu setelah ditabrak lari oleh seorang preman pasar, ibu tak pernah lagi mengurusi dirinya sendiri. Jangankan memakai make-up, makan pun bila tak diingatkan pasti ibu juga tak akan makan. Sekarang badan ibu semakin kurus. Padahal dulu bisa dibilang ibu adalah sosok wanita idaman yang memiliki body ramping dan tubuh tinggi semampai. Tak sama dengan aku yang bongsor. Aku tak tega melihat ibu yang semakin tak karuan. Setahuku, ibu adalah orang yang tegar. Meskipun leukimia merupakan temannya semenjak lahir ke dunia ini, namun ibu tak pernah mengeluh, sedikitpun. Ia tetap dengan ketegarannya yang membuat aku sangat mengagumi sosok sepertinya. Namun sekarang, dia begitu rapuh, mungkin karena ayah yang merupakan penyemangat hidup utamanya telah kembali ke sisi-Nya.
SBI SMA Neg.1
Mulya. Ya, sekolah favorit sejuta siswa tamatan SMP yang baru-baru lulus tahun
ini. Seperti halnya aku. Dengan mantap kulangkahkan kakiku memasuki gerbang
sekolah yang sudah kucita-citakan semenjak aku baru memasuki bangku kelas VII
SMP. Sebenarnya aku takut akan bersekolah di sini. Bukannya aku takut tidak
lulus, namun aku takut ibu tak sanggup membiayai segala sesuatunya. Belum lagi
adikku Faat yang sekarang masih di rumah nenek juga akan masuk SMP tahuni ini.
Namun, berbekal tekad yang tinggi dan tentunya nekat, aku tetap menyunggingkan
senyum tanda bahwa aku siap mental. Tapi tidak dengan materi! Kutatap semua
wajah teman-temanku yang agak tegang akan melaksanakan tes wawancara hari ini.
Huff.. mungkin hanya aku yang terus tertawa terkekeh-kekeh sementara yang lain
sedang serius-seriusnya meratapi nasib. Aku lebih suka berpura-pura bahwa aku
tak punya problem sedikitpun daripada aku harus dikasihani oleh orang-orang
yang memilki sifat empati di hati mereka masing-masing. Ya, semenjak ayah pergi
inilah aku yang baru. Aku dengan segala ke-sok tegaranku!
Akhirnya aku
dinyatakan lulus dan diterima di SMA elit itu. Dengan wajah berbinar-binar
langsung saja aku sujud syukur ketika badanku telah terlunglai di ruang tengah.
Ibu yang melihatku hanya tersenyum simpul. Mungkin ia telah diberitahu oleh
Faat bahwa aku lulus dan mendapatkan peringkat kedua tes gelombang pertama.
Namun, baru saja aku akan memeluk ibu, ibu pingsan duluan sambil hidungnya
mengucurkan darah yang begitu derasnya, mimisan. Aku langsung memopang tubuh
ibu yang telah tak berdaya. “Faat!!!” Aku meneriaki Faat yang ku tahu saat itu
sedang tidur dengan pulasnya. Kukira dia akan marah, tapi ternyata dia malah
kaget dan langsung membantuku membawa ibu ke kamar. Faat tak hentinya menangis
tersedu-sedu sementara aku hanya sibuk mengompres kepala ibu.
Beberapa minggu
kemudian, ibu tak bisa lagi kerja seperti biasanya. Hampir tiap hari ibu
mimisan tak karuan dan muntah darah. Mungkin aku masih bisa menahan tangisku
dan menangis dalam hati, namun lain halnya dengan Faat. Tiap kali ibu mimisan
Faat langsung menangis histeris. Jika aku melihatnya dengan agak kasar aku
langsung menutup mulutnya dan memerintahkan ia untuk masuk ke kamar saja. Aku
tak mau Faat memperburuk keadaan. Aku tak mau ibu semakin sedih meratapi
keadaannya yang semakin kritis tiap hari. Jika ingin ditilik secara sistematis,
mungkin tak ada lagi orang yang sehebat ibuku. Meskipun keadaannya sudah tidak
memungkinkan lagi, namun ia tetap tegar dan tak pernah putus asa. Shalatnya tak
pernah putus, bacaan Qur’annya selalu continue.
Sampai-sampai aku biasa meledek ibu dengan berkata, “Bu, kalau aku
lihat-lihat ibu bakal masuk surga. Malah ngelewatin surga lagi!”. Kalau aku
sudah berkata begitu ibu tak hentinya tersenyum mungil di sampingku. Oh ibuku
yang cantik, betapa malang nasibmu.
***
Dan, takdir itu
tak dapat dibantah. Memasuki tahun kedua aku menempuh pendidikan di jenjang
sekolah menengah atas, terpaksa ibu menjual rumah demi menyekolahkan kami dan
demi menebus biaya rumah sakit dan obatnya. Dan dengan sangat terpaksa pula
kami harus tinggal di rumah kontrakan yang jauh dari kata ‘memuaskan’ namun
sangat dekat kepada ‘menyedihkan’. Ini membuat aku dan Faat sangat miris. Bukan
karena kami tidak mensyukuri, namun kami betul-betul tak tega dan prihatin
melihat keadaan ibu yang tiap harinya harus menjadi tukang cuci di rumah
tetangga. Bagaimana ibu bisa sembuh? Kata istirahat saja sudah jarang digunakan
dalam kamus hidupnya. Akhirnya, aku dan Faat-pun mengambil inisiatif untuk
membantu ibu. Sepulang sekolah kami berdua menjajakan koran di lampu merah dan
hasilnya alhamdulillah cukup untuk makan sehari. Dengan peluh yang tak
henti-hentinya membasahi tubuh, aku dan Faat tak pernah merasa canggung dan
malu atas pekerjaan yang menurut kebanyakan orang ini sangat sangat dan sangat memalukan.
Akupun tak mengerti apa yang ada di benak mereka sehingga mereka dengan
gampangnya memberikan persepsi yang begitu memilukan. Jika aku mendengar
teman-teman di sekolahan berkata demikian kepadaku, aku hanya melancarkan sebuah
senyuman sambil berkata, “Selama itu masih halal, ngapain kita mau malu-malu!”.
Jika telah berkata sedemikian rupa, teman-teman hanya melihatku dengan tatapan
yang miris, ada pula dengan tatapan simpati yang lebih. Mungkin bila aku tak
berpura-pura tegar, tangis di pelupuk mata ini akan tumpah dan kembali
membanjir. Ya Allah, kuatkan aku!
Semenjak ayah
pergi, segalanya berubah. Aku dituntut untuk menjadi lebih dewasa dan Faat
dituntut untuk dewasa sebelum waktunya. Cobaan-pun tak tahu mengapa semakin
datang bertubi-tubi. Faat harus pindah sekolah karena sekolahnya yang lama
menganut sistem yang kaya yang dapat, sementara aku? Aku masih bertahan karena
beasiswaku. Berkali-kali Faat merengek untuk berhenti sekolah, namun aku tetap
menyemangatinya. Aku mau setidaknya dengan memiliki sekolah dia bisa menjadi ‘orang’.
Ibu sudah sebulan ini terbaring lemas di tempat tidur. Semester 5 kali ini aku
hadapi dengan benar-benar fully loaded.
Hari demi hari harus dengan keringat yang tumpah sana-sini. Belum lagi aku
harus lebih giat bekerja mengingat les untuk ujian nasionalku itu tidak gratis.
Namun satu yang kusyukuri, satu dari sekian banyak mimpiku sudah tercapai,
yaitu menjadi bintang kelas tiap semesternya. Faat-pun tak jauh beda dariku. Dia
tak pernah lepas dari peringkat 3 besar di kelasnya. Setidaknya hal ini cukup menggembirakan ibu,
meskipun ku tahu itu semua belum cukup indah di matanya.
Roda kehidupan itu semakin menukik ke bawah.
Ujian Nasional
hari terakhir ku lalui dengan keresahan yang menjalar. Tak tahu mengapa, sedari
pagi aku selalu ingin menangis. Di tambah lagi aku semalam aku bermimpi rambut
ibu dipotong. Sebagai seorang manusia biasa yang tak tahu menafsirkan mimpi,
tak heran jika aku menganggap hal tersebut biasa-biasa saja. Namun yang tak
pernah kumengerti, mengapa jantungku berdetak begitu kencangnya sampai-sampai
aku sendiri tak menyadari bahwa kemeja putihku telah basah oleh keringat
dingin. Setelah mengecek ulang lembar kerja komputerku, aku lalu cepat-cepat
pulang ke rumah dengan perasaan yang benar-benar was was. Diluar dugaanku. Dan sekali
lagi aku harus menyaksikan orang yang sangat kusayang pergi untuk selamanya. Ibu
meninggal! Aku berteriak histeris setelah lama kutahan air mataku ketika
melihat bendera putih berkibar di halaman rumah. “Ibu, kenapa ibu tinggalin
Nada? Kenapa, Bu?”. Ketegaranku sirna sudah. Kerapuhan yang kupendam selama ini
akhirnya keluar dan mengaplikasikan diri dengan sendirinya. Justru Faat yang
kali ini benar-benar kuat. Mungkin dia sudah betul-betul matang dan dewasa atas
segala hal yang terjadi tiga tahun belakangan ini. Masuk SMA, aku harus
kehilangan ayah. Lulus SMA, aku kini harus kehilangan ibu.
“Allah gak adil! Allah gak adil!” Rintihku di depan jasad tak bernyawa ibu.
“Sudahlah Nada, sudah. Kamu harus ikhlas menghadapi kenyataan ini” Bu Sumi sang tetangga sebelah mengelus pundakku perlahan. Faat yang berdiri di sampingku ku lihat hanya diam. Bisu. Kemudian tak kusadari ia lalu merangkul dan memelukku. Sejenak kutenggelamkan wajahku dalam dekapannya, dan aku merasakan tetes air mata yang meniti di jidatku. Air mata Faat.
“Allah gak adil! Allah gak adil!” Rintihku di depan jasad tak bernyawa ibu.
“Sudahlah Nada, sudah. Kamu harus ikhlas menghadapi kenyataan ini” Bu Sumi sang tetangga sebelah mengelus pundakku perlahan. Faat yang berdiri di sampingku ku lihat hanya diam. Bisu. Kemudian tak kusadari ia lalu merangkul dan memelukku. Sejenak kutenggelamkan wajahku dalam dekapannya, dan aku merasakan tetes air mata yang meniti di jidatku. Air mata Faat.
Faat semakin
memelukku erat ketika jenazah ibu sudah ditimbun dengan seonggok tanah merah
yang begitu gembur. Pening yang sangat kemudian menghantuiku, setelah itu aku
merasakan segalanya berputar dan berubah menjadi roman gelap yangg menutupi
seluruh langit. Aku lalu tak tahu apa yang terjadi selanjutnya.
“Kak, minum dulu!” Faat menawarkanku segelas air minum. Kulihat sekeliling. Aku sudah berada di rumah. Ternyata aku pingsan rupanya. Setelah meneguk air tersebut, aku hanya diam dan merenung. Faat yang melihatku hanya menatap penuh empati dan membiarkan aku untuk larut dalam kesedihanku dulu. Sungguh, aku tak percaya. Aku sempat berpikir, mengapa Tuhan begitu tak adil padaku! Namun kucoba kutepis dengan mengingat amanah ayah yang isinya aku dan Faat harus tetap bersyukur, karena semua itu akan indah pada waktunya. Everything will be nice at the time. Aku tersenum. Dan kemudian kulangkahkan kakiku untuk bersimpuh di hadapan-Nya sambil berharap semoga tangan-Nya turut mendekap kami.
“Kak, minum dulu!” Faat menawarkanku segelas air minum. Kulihat sekeliling. Aku sudah berada di rumah. Ternyata aku pingsan rupanya. Setelah meneguk air tersebut, aku hanya diam dan merenung. Faat yang melihatku hanya menatap penuh empati dan membiarkan aku untuk larut dalam kesedihanku dulu. Sungguh, aku tak percaya. Aku sempat berpikir, mengapa Tuhan begitu tak adil padaku! Namun kucoba kutepis dengan mengingat amanah ayah yang isinya aku dan Faat harus tetap bersyukur, karena semua itu akan indah pada waktunya. Everything will be nice at the time. Aku tersenum. Dan kemudian kulangkahkan kakiku untuk bersimpuh di hadapan-Nya sambil berharap semoga tangan-Nya turut mendekap kami.
Seminggu setelah
kepergian ibu, akhirnya Faat ditawarkan untuk menjadi anak angkat dari sebuah
keluarga yang bisa dibilang berkecukupan. Faat tak mau, akupun tak mau. Namun ia
berpura-pura, begitupun diriku. Kami sama-sama menyembunyikan rasa kepedihan
yang mendalam. Dan akhirnya, Faat-pun pergi, meninggalkan aku sebatang kara di
sini. Meninggalkan aku yang tiap malam harus terbalut luka dan perih yang
berurai air mata. Dan selama itu pula, semakin banyak cobaan, ujian, dan
penderitaan hidup yang harus kujalani sendirian. Akupun tak pernah lagi
mendengar kabar Faat, adikku tercinta. Tiap harinya aku hanya mengurung diri di
rumah. Tidak makan, tidak minum. Aku bagai seseorang yang telah kehilangan
cahaya hidup. Dan juga, semangat untuk terus melanjutkan hidup.
***
Seperti kata ayah, everything
will be nice at the time.
“Nada?” Tok tok
tok. Kudengar pintu rumah diketuk dengan agak kencang.
“Iya, tunggu!”
“Alhamdulillah Nada, alhamdulillah!” Orang yang mengetuk pintu tadi langsung saja memelukku dengan eratnya, sampai-sampai aku agak seusah bernapas. Oh, Bu Wahdah ternyata. Guru biologiku.
“Maaf, ada apa ya, Bu?” Aku bertanya pelan tanpa semangat, karena memang semangatku telah hilang setelah beberapa hari ini tak makan.
“Nada, kamu lulus jalur undangan masuk di FK Unpad! Kamu juga dapat beasiswa!” Ha? FK? Fakultas kedokteran?
“Yang benar, Bu?” tanyaku dengan mata membelalak.
“Iya, sayang. Nah sekarang kamu tinggal lengkapi administrasinya biar Ibu yang urus segala sesuatunya.” Kata Bu Wahdah, meyakinkan.
“Tapi, Bu!”
“Ah, tidak ada tapi-tapian. Sekarang cepat berbenah lalu ikut ibu ke sekolah!” Bu Wahdah berkata penuh semangat. Aku hanya tersenyum lalu cepat-cepat ke kamar mandi. FK? Astaghfirullah!
“Iya, tunggu!”
“Alhamdulillah Nada, alhamdulillah!” Orang yang mengetuk pintu tadi langsung saja memelukku dengan eratnya, sampai-sampai aku agak seusah bernapas. Oh, Bu Wahdah ternyata. Guru biologiku.
“Maaf, ada apa ya, Bu?” Aku bertanya pelan tanpa semangat, karena memang semangatku telah hilang setelah beberapa hari ini tak makan.
“Nada, kamu lulus jalur undangan masuk di FK Unpad! Kamu juga dapat beasiswa!” Ha? FK? Fakultas kedokteran?
“Yang benar, Bu?” tanyaku dengan mata membelalak.
“Iya, sayang. Nah sekarang kamu tinggal lengkapi administrasinya biar Ibu yang urus segala sesuatunya.” Kata Bu Wahdah, meyakinkan.
“Tapi, Bu!”
“Ah, tidak ada tapi-tapian. Sekarang cepat berbenah lalu ikut ibu ke sekolah!” Bu Wahdah berkata penuh semangat. Aku hanya tersenyum lalu cepat-cepat ke kamar mandi. FK? Astaghfirullah!
Mimpi keduaku, terwujud.
Akhirnya aku bisa melanjutkan pendidikanku di fakultas internasional yang
sangat sangat aku banggakan. Aku mendapat beasiswa bukan hanya beasiswa tiap
semesternya, namun aku juga mendapatkan uang jaminan untuk ‘melanjutkan hidup’
dari pemerintah. Tak terkira betapa bahagianya aku. Ayah, ibu, ini aku! Kini aku
punya semangat lagi untuk menjadi seperti apa yang kalian inginkan! Aku tertawa
cekikikan sambil tak henti-hentinya bersyukur kepada Yang Kuasa tas nikmat yang
diberikan oleh-Nya.
Berawal dari
tercapainya mimpi keduaku, akhirnya aku juga bisa mewujudkan mimpi ketigaku. Setelah
empat tahun mengadu nasib dengan mengandalkan otak, finally aku kini sah
menjadi seorang dokter. Wisuda kemarin ada Faat dan istrinya yang
mendampingiku. Ya, Faat dan istrinya. Tamat SMA, Faat memilih menikah dan
menjadi seorang pengusaha yang bergerak di bidang pangan. Kini ia sukses
menjadi seorang pemilik restaurant yang cabangnya hampir di seluruh Indonesia. Aku
benar-benar takjub atas kuasa Allah. Meskipun setengah dari mimpi ketigaku tak
terwujud, yaitu ikut campur membantu kesembuhan ibu, namun aku yakin ibu lebih
bahagia dengan keadanku saat ini. Ibu, apa ibu masih ingat ketika kita bertiga
harus banting tulang agar masih bisa tetap hidup? Ibu, apa ibu masih ingat
ketika ibu bersikeras membelikan Nada sebuah sepatu hitam agar Nada tak dihukum
tiap upacaranya? Ibu, apa ibu masih ingat ketika seharian penuh lauk yang kita
makan hanya nasi dan garam? Ibu, apa ibu masih ingat ketika Faat merengek minta
dibelikan buku cetak? Aku yakin ibu masih ingat. Dan sekarang, berbanggalah,
Bu. Kedua anakmu kini telah menjadi ‘orang’ seperti apa yang kau cita-citakan.
Sebulan kemudian,
tepatnya setelah wisuda Allah lalu mengutus malaikat sebagai pendampingku. Ya,
malaikat. Sosok orang yang begitu bijaksana dan baik hati. Mas Raihan yang juga
merupakan alumnus FK Unpad, namun angkatannya tua setahun dariku. Mas Raihan
adalah orang yang betul-betul penyayang dan pengertian, membuat aku sangat
nyaman menjadi istri dunia akhiratnya. Ditambah lagi kesopanan dan ilmu agama
yang cukup, menjadikannya sosok laki-laki yang paling sempurna di hadapanku. Ya
Allah, thanks for ur mercifull! I’m
promise will be the best forever and ever. Senyumku sumringah membelah
kegelapan malam.
Sekarang.
Aku menidurkan Maya, sang bidadari
kecil yang dititipkan Tuhan padaku. Sedari tadi dia susah tidur. Namun setelah
kunyanyikan lagu satu-satu, seperti yang biasa ibu lakukan padaku, dia malah
tertidur dengan pulasnya. Maya, Maya! Kamu tak beda jauh dari ibumu! Aku kemudian
mengusap ubun-ubunnya lalu turut tenggelam dalam tidur yang nyenyak
disampingnya.
Satu satu... aku sayang ibu
Dua dua... juga sayang ayah
Tiga tiga... sayang adik kakak
satu dua tiga sayang semuanya.
Satu satu... aku sayang ibu
Dua dua... juga sayang ayah
Tiga tiga... sayang adik kakak
satu dua tiga sayang semuanya.
27 Ramadhan 1434 H./16 Agustus 2012
Impressive. bahkan sedikit mengoyak emosi dan perasaan. Cuma, ceritanya harus lebih panjang sedikit kalau plotnya kayak begini. biar lebih mengoyak perasaan. :)
BalasHapushm, okd. saya terima sarannya. meskipun tidak ada yang sempurna di dunia ini tapi mendekati sempurna tidak apa-apa kan ? XD . Thanks sbelumnya. :)
BalasHapus