Nahdliyati Nur Muhammad. Ya, itulah nama lengkapku. Nama yang memiliki arti ‘pembangkit cahaya Muhammad’ itu diberikan oleh ayah beberapa hari setelah aku melihat dunia yang pertama kalinya, tanggal 01 November 1996, tepatnya tujuh belas tahun yang lalu. Nama itu didedikasikan ayah saking inginnya melihat putri sulungnya menjadi umat Nabi Muhammad yang taat. Namun banyak orang yang sering mengira namaku itu adalah nama laki-laki karena memiliki kesan ‘Muhammad’ di akhirannya. Dan itu alhamdulillah tidak pernah membuatku risih karena kata ibu namaku yang juga merangkap sebagai doa sudah mulai tampak hasilnya seiring dengan berjalannya waktu. Pernah ibu ingin memberiku nama Winda Lestari, yaitu singkatan dari nama mereka berdua tapi ayah lebih memilih nama yang diberikan oleh profesornya saat beliau duduk di bangku kuliah.
Aku seorang gadis berkulit putih dengan tinggi kurang-lebih
150 cm. Perangaiku tergantung keadaan, kadang lembut, kadang juga keras.
Mungkin itu semua karena didikan ayah dan ibu.
Ayah dan Ibu, Sang
Penyemangat Sejati
Aku tinggal di pinggiran kota kecil nan permai di sebelah
selatan Pulau Sulawesi, Bantaeng. Di sana, di Jl. H. Mangun Karim Lingkar
Bissampole-lah aku, adik, beserta kedua orangtuaku tinggal di gubuk kecil yang
entah mengapa selalu membuat kami merasa nyaman di dalamnya.
Kata ibu sedari kecil aku adalah anak yang sudah sering menjelajah. Setelah terlahir di rumah nenek tanpa kehadiran ayah yang saat itu sedang sibuk kerja, tepatnya di Jl. Bungung Barania, Bissampole, Bantaeng, empat puluh hari kemudian ayah dan ibu membawaku ke Tana Toraja, di mana mereka berdua terangkat menjadi pegawai negeri dan berprofesi sebagai guru di sana. Dan aku menjalani masa kecilku dengan kebanyakan di atas bus, pulang pergi Bantaeng-Toraja.
Kata ibu sedari kecil aku adalah anak yang sudah sering menjelajah. Setelah terlahir di rumah nenek tanpa kehadiran ayah yang saat itu sedang sibuk kerja, tepatnya di Jl. Bungung Barania, Bissampole, Bantaeng, empat puluh hari kemudian ayah dan ibu membawaku ke Tana Toraja, di mana mereka berdua terangkat menjadi pegawai negeri dan berprofesi sebagai guru di sana. Dan aku menjalani masa kecilku dengan kebanyakan di atas bus, pulang pergi Bantaeng-Toraja.
Aku terlahir dari orangtua yang paham betul dengan persoalan
agama. Ibuku, St. Nurlinda, S.Pd.I, adalah seorang guru Fiqhi lulusan strata satu
STAIN Palopo. Umurnya sudah 44 tahun. Beliau adalah perempuan yang tangguh, tak
kenal lelah, dan jika mengerjakan sesuatu harus selesai tepat pada waktunya.
Lingkungan masa kecil yang keras membuat beliau mendidik anak-anaknya dengan
perangai yang tegas, namun tetap lembut. Sedangkan ayahku, Muh. Badwi, S.Ag,
adalah seorang ustad sekaligus guru akidah Akhlak lulusan strata satu, STAI
Al-Gazhali Bulukumba. Umur beliau beberapa hari lagi sudah mencapai kepala
lima. Diperjalanan usianya yang sudah beranjak senja ini, ayah adalah laki-laki
yang masih tetap kuat, masih tetap berdiri dengan ketegasannya. Beliau juga
diamanahkan untuk menjadi kepala sekolah semenjak kurang lebih enam tahun yang
lalu. Ayah dan ibu bekerja dalam satu instansi yang sama, Kementerian Agama
Kab. Bantaeng, dan atap yang sama, MTs. Ma’arif Tumbel Gani, Bantaeng. Jika
ingin bercerita tentang mereka berdua, mungkin satu lembar kertas ini tak cukup
untuk menceritakan apa dan bagaimana kehidupan mereka yang dramatis dan penuh
dengan kesan dan pesan yang amat berharga. Pokoknya, aku sebagai anak sangat
bangga memiliki orangtua seperti mereka.
The Wonderful Of Tana Toraja
Aku dibesarkan di Bumi Tana Toraja yang kala itu belum
dimekarkan menjadi Toraja Utara. Aku menjalani masa-masa kecilku dengan didikan
yang tegas dan agamis. Pertama kali aku menginjakkan kaki di Makale, Tana
Toraja, ayahku masih berstatus sebagai guru MIN (Madrasah Ibtidaiyah Negeri)
Makale yang bertempat di Jl. Rukka Andi Lolo No.19, sementara ibuku masih
kuliah kala itu. Karena besar di tengah-tengah peradaban kaum Nasrani, membuat
aku banyak mengenal berbagai perbedaan antara Islam dan agama mereka sendiri.
Mulai dari pelaksanaan ibadah mereka yang hanya sekali seminggu, perayaan hari
besar mereka yang ramai akan pesta kembang api dan mercon, sampai upacara
pemakaman mayat yang tak biasa dan memakan dana sampai ratusan juta rupiah.
Untunglah ayah dan ibu punya inisiatif untuk mendidik aku dengan segala hal
berbau agama untuk memperkuat iman. Dan itulah yang aku pegang sampai sekarang.
Umur tiga tahun, Allah menganugerahi kami seorang adik
laki-laki yang kemudian diberi nama Muhammad Chatibul Umam, pemimpin umat
Muhammad. Dan nama itu kembali diberikan oleh ayah. Karena adikku adalah
seorang laki-laki, maka ayah sangat menginginkan jika ia besar nanti ia bisa
menjadi pemimpin yang bijaksana dan tetap berkiblat pada sifat Rasulullah. Lalu
kami akrab memanggilnya dengan nama pendek, Umam.
Dua tahun kemudian,
tepatnya di tahun 2001, ibu memasukkanku di Taman Kanak-Kanak Bustanul Athfal
Aisyiah, Mamullu, Tana Toraja. Di sanalah kemampuan baca Qur’an dan
tulis-menulisku diasah dengan sebaik-baiknya. Kuingat sewaktu dulu sebelum
masuk TK, ibu sampai tak mau berbicara denganku karena aku tak bisa-bisa
membaca huruf abjad dengan baik. Akhirnya dengan belajar otodidak dan karena
takut dikacangi terus oleh ibu, aku bisa pandai membaca alfabet tanpa
terbata-bata. Ibu sangat bangga mengetahui hal tersebut. Setelah itu, aku kemudian diajar untuk
membaca Al-Qur’an sehingga bacaan Qur’anku sudah lancar sebelum aku masuk TK.
Di TK, ibu-ibu guru yang mengajarku di kelas nol besar sangat antusias karena
aku sudah pintar membaca duluan di saat teman-temanku masih mengeja huruf.
Sampai suatu hari saat ulang tahun Aisyiah di Masjid Agung Makale, aku
diamanahkan untuk membaca Qur’an dengan membaca Ayatul-Kursi. Lucu juga, karena
meskipun bagus, tapi aku lupa memberi salam sebelum mulai sehingga ayah dan ibu
tak hentinya tertawa cekikikan di bawah panggung.
Tahun pelajaran 2002-2003, aku masuk ke sekolah dasar yang
berada persis di depan rumahku. Bagaimana tidak, aku memang serumah dengan
sekolah. Kami sekeluarga tinggal di perumahan sekolah yang luasnya hanya 3x8
meter ke belakang. Dengan ruangan sesempit itu, ayah menyulap isinya menjadi
ruang tamu, ruang keluarga yang merangkap menjadi kamar tidur, dapur dan kamar
mandi. Padat sekali, bukan? Namun kami tetap bersyukur dengan keadaan yang ada.
Selain karena belum ada uang untuk beli rumah, kami juga masih di perantauan
kala itu dan inisiatif ayah dan ibu untuk pindah dan kembali ke kampung halaman
masih dalam proses.
Masuk SD di MIN Makale, ayah sudah pindah tugas ke MTs Neg.
Rantepao di Makale sementara ibu yang menggantikan posisi ayah di MIN Makale.
Masa-masa SD di Toraja tak banyak berkesan karena umur enam sampai delapan
tahun aku kebanyakan keluar-masuk Puskesmas karena sakit yang bermacam-macam.
Mulai dari demam, mandel, diare, dan sebagainya. Namun, di saat ini pulalah aku
mulai mencetak prestasi. Memasuki bangku kelas tiga, ibu mengikutkanku dalam
lomba menghafal surah pendek beserta artinya. Akhirnya, setelah dilatih sampai
berpuluh-puluh kali, aku meraih juara 3. Suatu kebanggaan tersendiri bisa
meraih juara karena aku termasuk anak yang keras dan suka menentang jika tak sesuai
dengan jalan pikiranku. Ibu sendiri pernah berkata, bahwa aku mempunyai mimpi
dan cita-cita yang tinggi namun jika tak didukung dari belakang maka semangat
itu akan kendor sedikit demi sedikit. Aku sempat tertawa kala itu, apalagi
mengingat waktu kecil dulu betisku adalah bulan-bulanan sendal jepit ayah
karena tak mau mendengar dan sering bertengkar dengan adik. Ya, dulu akulah
yang sering menganggap diriku anak tiri saking seringnya dipukul, namun kini
aku sadar bahwa kesemua itu dilakukan ayah untuk kebaikanku ke depannya. Dan
hasilnya, sudah mulai terlihat. Alhamdulillah.
Selamat Datang di Bantaeng
Tanggal 09 September 2005, permintaan pindah tugas ayah
akhirnya dikabulkan oleh Departemen Agama. Maka tanggal itu juga kami pindah
dan kembali ke Bantaeng tercinta. Perpisahan kala itu betul-betul melelehkan
air mata. Belum lagi, Bu Halimah dan Pak Semmauna, wali kelasku yang teramat
sayang padaku, tak hentinya memelukku erat-erat. Dan akhirnya kami kembali ke
Bantaeng menjalani hidup dengan keluarga kami tercinta. Dengan nenek, dengan
tante, dan sepupu-sepupu yang ada di sana.
SD No.5 Lembang Cina
Di masa-masa inilah aku mulai
mencetak prestasi. Aku dipindahkan ayah ke SD unggulan yang ada di Bantaeng, SD
Neg. No.5 Lembang Cina tepatnya. Sekolah yang baru ini sudah pastinya sangat
berbeda dengan madrasahku yang dulu. Jarang sekali ada siswi berjilbab yang
bisa kutemui di sini, sementara dulu aku tak pernah melihat seorang temanpun
yang tidak mengenakan jilbab, ya terkecuali laki-laki tentunya. Di sekolah ini
pula, semuanya serba ketat, serba harus ini harus itu. Pembayaran di sana-sini,
tugas ini-itu. Untunglah ayah mengerti keadaan tersebut.
Yang
namanya anak pindahan, pasti kecanggungan tak hentinya menghantui otak. Belum
lagi malu mengajak berkenalan, malu mengangkat tangan saat guru bertanya,
pokoknya malu dalam segala hal. Sampai suatu hari, peribahasa malu bertanya
sesat di jalan benar-benar nyata adanya. Suatu sore aku berangkat les Bhs.
Indonesia. Sampai di sekolah, tak ada satupun orang yang kutemui di sana.
Akhirnya setelah menunggu berjam-jam aku pulang sendiri dengan jalan kaki untuk
pertama kalinya! Nenek yang melihat hal tersebut kaget bukan kepalang, takut
kalau aku kenapa-kenapa. Keesokan harinya baru aku ketahui bahwa les Bhs.
Indonesia itu hari Rabu, bukan kemarin. Sungguh merah padam wajahku kala itu.
Untunglah tak ada satupun temanku yang mengetahui hal tersebut.
Tahun-tahun selanjutnya,
prestasi-prestasi mulai kucetak di lemari piala sekolah. Berawal dari Juara 1
Lomba Da’i Cilik tingkat kabupaten sampai peserta olimpiade MIPA provinsi yang
saat itu aku masih kelas 4 SD. Jika dipikir logis, kan, seharusnya kelas 5-lah
yang mewakili kabupaten. Namun, tak kusangka namaku diumumkan sebagai juara 3
tingkat kabupaten dan berhak untuk ikut tahapan selanjutnya di Hotel Grand
Palace, Makassar. Ayah sangat bangga. Sampai-sampai entah berapa kali hal
tersebut diceritakan kepada teman-temannya. Prestasi selanjutnya lebih banyak
lagi ketika aku duduk di bangku kelas 5. Aku sangat menyukai SD-ku yang baru
dikarenakan semua guru yang ada di dalamnya sangat respek dengan keberadaanku.
Utamanya dengan guru IPA-ku, Pak Gunawan, S.Pd. yang tak lelah mengajarku
persiapan olimpiade dari pagi di sekolah, sore saat les, dan malam sampai jam
sembilan lewat saat bimbingan di rumah beliau. Karena beliau tak memiliki anak,
maka beliau memperlakukanku layaknya anaknya sendiri. Setiap ke rumahnya,
selalu saja ada makanan yang tersedia. Dan itu semualah yang membuat aku betah
dan tak bosan-bosannya untuk belajar mata pelajaran IPA.
Prestasi
yang juga sempat kuraih antara lain Juara 1 Lomba Tadarrus Al-Qur’an, Juara 3
Lomba Baca Puisi, Juara 1 Lomba Mata Pelajaran IPA yag kesemuanya tingkat
kabupaten. Sampai di 2008 bulan April, aku berhasil lolos 13 besar olimpiade
MIPA provinsi, meraih Juara Favorit 2 Lomba Karya Tulis Tentang Flu Burung
se-provinsi, dan Juara 1 Lomba Cerdas Cermat Flu Burung tingkat provinsi. Aku
juga pernah lolos Pemilihan Dokter Kecil Nasional 2009, namun karena aku sudah
duduk di bangku kelas 6, akhirnya adik kelasku-lah yang menggantikanku terbang
ke Jakarta. Belum rezeki, kata Ibu.
Akhir-akhir
pembelajaran di sekolah dasar, aku banyak menghabiskan waktu dengan mengikuti
perkemahan pramuka dan aktif dalam organisasi UKS sekolah (Dokter Kecil).
Sampai aku menamatkan SD-ku di bulan Juni 2009 dengan nilai yang sangat
memuaskan, 26.30, dan merupakan ranking tertinggi untuk peserta ujian nasional
tahun kedua tingkat sekolah dasar se-kab. Bantaeng.
Hidup di Penjara Suci
Setelah
pergi berwidya wisata sekaligus acara perpisahan sekolah, aku akhirnya
didaftarkan ibu untuk melanjutkan pendidikanku di pesantren. Ya, tepatnya di
Pesantren Modern Putri IMMIM Minasatene Pangkep. Selain karena aku memang sudah
tertarik masuk pesantren, ayah dan ibu menginginkan anaknya menjadi generasi
Islami yang unggul, aku juga mempunyai seorang teman yang ibunya adalah alumni
IMMIM. Inas namanya. Hal-hal inilah yang membuat perjalananku untuk terjun ke
dalam dunia penjara suci semakin gampang dan lancar. Walhasil, tercatatlah aku
menjadi salah satu santriwati SMP Pesantren IMMIM Minasatene tahun pelajaran
2009-2010. Saat itu umurku 13 tahun.
Ternyata
hidup dalam penjara suci tak semudah yang dibayangkan banyak orang. Mulai dari
bangun tidur sampai tidur kembali full
dengan berbagai kegiatan. Belum lagi belajar yang tak kenal pagi, sore, malam.
Apalagi ketika mengingat orangtua yang jauh di sana membuat air mata tak
hentinya ingin menetes tiap malam sebelum tidur. Hal semacam itu betul-betul
menguras emosi dan pikiran, sampai akhirnya beberapa minggu sebelum ulangan
semester pertama, aku terkena penyakit tifus untuk yang pertama kalinya.
Otomatis nilaiku merosot. Rankingku turun menjadi ranking 3, yang sebelumnya
tak pernah lepas dari peringkat pertama. Pikiran untuk pindah sekolah juga
sudah terbersit di kepalaku. Untung ibu selalu memotivasiku untuk tetap sabar.
Dan buah dari kesabaran itu bermanfaat sampai sekarang. Semester-semester
selanjutnya rankingku kembali menjadi yang pertama. Sayangnya, prestasi untuk
SMP sangat kurang dikarenakan banyak lomba yang terlewatkan begitu saja. Sampai
pada akhirnya, di saat pengumuman kelulusan nilaiku kembali menjadi peringkat
pertama se-kabupaten dengan rata-rata nilai 9,5. Namun kali ini bukan di
Bantaeng lagi, tetapi di Kab. Pangkajene dan Kepulauan.
Tamat SMP, pikiranku kemudian
terbuka untuk semakin semangat meraih cita-cita. Aku juga tak mau lari dari pesantren
sehingga aku melanjutkan sekolahku tetap di atap yang sama. Ayah dan ibu
melarangku untuk sekolah di luar. Takut dengan pergaulan yang semakin gila
katanya.
Proses Pencapaian
Cita-cita
Juli
2012, aku kembali aktif belajar di jenjang putih abu-abu setelah hampir tiga
bulan libur total dan hanya mengisi waktu dengan les matematika dan fisika. Di
saat-saat SMA ini pula-lah aku mulai mengenal yang namanya perasaan. Memasuki
masa remaja membuat hatiku belajar mengerti dengan keadaan yang ada. Baik itu
dengan teman-teman sendiri ataupun dengan lawan jenis. Namun meskipun batin
memberontak aku harus tetap menahannya, karena tujuan yang sekarang harus aku
capai adalah menjadi orang sukses. Salah satunya menjadi mahasiswa fakultas
kedokteran Universitas Hasanuddin 2015 nanti, seperti keinginan ayah dan ibu.
SMA
bukanlah waktu untuk berhura-hura. SMA bukanlah masa-masa untuk menemukan cinta
pertama. Ya, menurutku SMA memang bukan sedemikian rupa. Malah SMA adalah
proses awal untuk pencapaian cita-cita. Di tengah-tengah kesibukan organisasi,
apalagi mengingat aku telah diberi amanah untuk memimpin OSIS yang ada di
sekolah, adalah suatu hal berat untuk mengerjakan semuanya sekaligus. Bukan hal
mudah untuk membagi pikiran antara belajar dengan organisasi. Dan semua itu
masih dalam proses saat ini. Belum lagi yang namanya prestasi juga tak boleh
terlupakan, karena itu sangat berpengaruh pada kelulusan SNMPTN nanti. Yang
kuingat, prestasiku selama ini masih sedikit. Baru Juara 1 Lomba Debat Bhs.
Indonesia dan Juara 2 Lomba Pidato POSPEDA tingkat provinsi. Ada juga
lomba-lomba saat English Camp dan Islamic Camp yang mungkin tak perlu
disebutkan. Itu semua belum seberapa. Karena prestasi yang mesti kita capai
bukan hanya berdasarkan juara berapa kita di mata dunia, tetapi juara berapa
juga kita dalam mengambil hati Sang Empunya kehidupan.
Dan...
Jalan
kehidupan selanjutnya tak ada yang tahu. Kita hanya bisa berusaha teriring doa,
lalu selanjutnya bertawakal, menyerahkan semuanya kepada Yang Di Atas. Aku tak
pernah lupa pesan ibu, Allah selalu melihat hamba-Nya yang bersungguh-sungguh.
Kesuksesan yang kita raih bukanlah dari apa yang kita kerjakan pada saat itu,
melainkan buah dari usaha kita di masa yang lalu. Meskipun rezeki kita telah di
atur, kita juga harus berusaha untuk tetap mendapatkan rezeki lebih dengan
menjadi orang besar. Just believe it, or
nothing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
tinggalkan jejak kamu dengan setidaknya mengeposkan sebuah komentar :)