***
Malam
temaram, dibalut dengan indahnya bintang-bintang kecil yang tersusun bagaikan
kapal Sangkuriang yang megah sebelum akhirnya terbalik akibat ditendangnya.
Mataku menjurus ke sebuah rasi bintang. Rasi bintang yang amat cantik, namun
juga tersirat cukup menakutkan. Kalajengking. Itu adalah zodiackku, Scorpio.
Terkesan sangat pemberani, juga berbisa, begitu kata ibu. Sayangnya, ibu
berkata aku tak boleh menjadi seorang sosok yang berbisa. Cukup menjadi individu
yang lugu, tidak jago kandang, dan juga diam menghanyutkan dengan segala
talentanya. Aku tersenyum jika mengingat kalimat-kalimat emas ibu itu. Tanpa
sadar bibirku menyunggingkan sebuah tawa renyah di tengah keheningan malam.
Rasi bintang itu mengingatkanku pada nasehat ayah ketika aku menginjak usia 15
tahun. Saat itu ayah dengan bangganya menghadiahiku sebuah kue tart bergambar
Jimmy Neutron favoritku sambil mencium keningku dengan penuh kasih sayang. Nad, kamu sekarang sudah beranjak menjadi
seorang gadis ayah yang cantik. Tanpa sadar kamu sudah besar rupanya. Doakan
ayah semoga ayah masih sempat melihatmu menikah dan menerima gaji pertamamu.
Kau tahu sayang, ayah dan ibu akan melakukan apa saja demi kebahagiaanmu di
masa depan nanti. Jadilah gadis yang tangguh, tak mudah putus asa. Dan satu
lagi, ingat! Ingat bahwa kau terlahir sebagai seorang perempuan. Sudah kodratmu
untuk menjaga kehormatanmu sebisa mungkin. Anak gadis itu bagaikan telur di
ujung tanduk. Sekali terjatuh, maka telur itu tak mungkin akan kembali utuh
seperti semula. Kalau bisa, ayah sarankan agar kamu jangan pacaran dulu. Ayah
dan ibu sangat menyayangimu, Nad! Dan bla bla bla bla. JANGAN PACARAN DULU!
Aku sempat tertegun kala itu. Aku terdiam seribu bahasa. Untungnya ibu yang
mengerti langsung mengalihkan pembicaraan. Dan akhirnya, suasana kembali nyaman
seperti semula. Aku terhanyut, tersadar aku merindukan sosok ayah dan berbagai
petuahnya.
Aku
masih terduduk diam sambil meratap langit. Bulan yang memancarkan sinar
kemilaunya menatap malu-malu dari balik awan putih samar-samar. Lapangan basket
yang cukup luas ini mungkin bisa menjadi saksi akan ketentraman hatiku malam
ini. Sendiri, hanya ditemani lampu sorot yang menyinari sepertiga dari luas
lapangan. Aku masih menatap langit yang dipenuhi bintang nan gemerlapan.
Kerlap-kerlip. Indah sekali. Tiba-tiba saja aku tertegun. Sejurus kedua pupil
mataku melihat ‘seekor’ bintang cantik yang jatuh, melepaskan dirinya dari
kerumunan rasi kelompoknya, kemudian terbang sejauh yang ia bisa sampai tak
terlihat lagi batang hidungya. The first
time aku melihat sebuah bintang beralih yang begitu cantik. Tak sadar aku
mengucapkan sebuah wish dengan
desisan yang mungkin hanya bisa didengar oleh jangkrik-jangkrik kecil di antara
semak-semak belukar. Ya Allah, aku ingin
bertemu dengan ayah! Sontak sebuah cahaya putih kecil muncul tiba-tiba dan
amat menyilaukan mata. Cahaya itu menembus iris mataku, mengganti semua warna
pelangi menjadi spektrum berwarna putih. Aku buta warna! Semuanya berwarna
putih. Ketika kukedipkan mataku sekali lagi, aku mendapati diriku dalam sebuah
ruangan putih nan bersih. Di belakangnya terdapat beberapa kuntum bunga mawar
merah yang harum semerbak. Baru aku melangkahkan kaki kecilku sekali, aku
tiba-tiba saja merasakan ada yang memegang pundakku. Sosok itu kemudian
mengelus pelan rambut ikalku. Aku merinding! Siapakah gerangan? Aku takut
berbalik. Aku takut dia seorang jahat yang ingin menghancurkan kehormatanku,
seperti kata ayah. Namun tak tahu mengapa sosok itu malah memegang kedua
pundakku dan membalik badanku sampai 180 derajat. Aku masih menutup mataku. Aku
takut, betul-betul takut! Namun sosok itu kemudian berkata dengan sangat pelan
dan penuh kelembutan, Nad buka matamu
sayang! Ini ayah! Aku tehenyak. Apa iya? Sontak badanku langsung saja
gemetaran tak karuan. Rasa gembira berlebih dan tidak percaya campur aduk
menjadi satu. Aku berbalik, masih dengan mata tertutup. Ketika kubuka kelopak
mataku sekali lagi, AYAHHHHHHHHHHHHHHH!
***
“Nad,
bangun! Seperempat jam lagi pukul tujuh!”
“Ah? Beneran?” Aku terkejut bukan kepalang ketika dengan tergesa-gesanya Ruth membangunkanku dari mimpi indah yang mengantarku pada keterlambatan pagi ini. Untung saja aku lagi absen shalat hari ini, jika tidak mungkin aku sudah dihukum mencabut ilalang di lapangan volli sebanyak seratus ikat.
“Ah? Beneran?” Aku terkejut bukan kepalang ketika dengan tergesa-gesanya Ruth membangunkanku dari mimpi indah yang mengantarku pada keterlambatan pagi ini. Untung saja aku lagi absen shalat hari ini, jika tidak mungkin aku sudah dihukum mencabut ilalang di lapangan volli sebanyak seratus ikat.
Aku
masih linglung. Terbangun dari tempat tidur aku belum bisa menegakkan badanku
sebisa mungkin. Tinggallah aku duduk terdiam dengan wajah menunduk. Tanganku
masih memeluk erat boneka keroppi hijau yang diberikan Ahmad kepadaku sehari
sebelum ia berangkat ke Jakarta. Mataku masih kunang-kunang. Kulirik jam
dinding yang terpampang rapi di pojok kamar. Astaga, lima menit lagi pukul
tujuh! Sambil mengikat konde rambutku yang tergerai acak-acakan, aku bergegas
mengambil handuk di jemuran dan langsung saja masuk ke kamar mandi kosong.
Seandainya saja bukan PKn pelajaran pertama hari ini, mungkin aku tidak akan
setergesa hari ini. Bukan cuma karena gurunya yang terkenal judes nan killer,
namun karena hari ini juga ada seabrek ulangan, termasuk di dalamnya ulangan
PKn KD 4.1 dan 4.2 tentang dasar negara dan konstitusi. Aku mandi secepat
mungkin. Bisa dibilang lebih parah malahan dibandingkan dengan apa yang disebut
mandi kerbau. Setelah mengenakan seragam putih abu-abu yang baru tahun lalu aku
kenakan, aku bersegera mungkin mengatur semua buku pelajaran sesuai dengan
jadwal hari ini. Sneaker hitamku sudah kukenakan dengan cepat-cepat. Namun,
Tetap saja aku terlambat.
Dan aku dihukum plus tidak ikut ulangan. Menyedihkan.
Dan aku dihukum plus tidak ikut ulangan. Menyedihkan.
Tinggal
diam berdiri sendiri di koridor sambil meratapi masuk ke dalam antero kelas
yang hening bukan kepalang. Air mataku menetes tak terkira. Bu Wati yang
melihatku dari dalam kelas hanya cengar-cengir sambil menatap sinis tubuhku
yang tertunduk penuh malu dengan mata super sembab. Baru kali ini aku
cengengesan sendiri di depan kelas. Di tengah kesakitan hatiku yang hari ini
benar-benar teriris-iris, aku teringat
akan mimpiku semalam. Ayah. Dia memelukku. Erat sekali! Setelah kurang lebih
setahun tak pernah lagi berjumpa dengannya, akhirnya Allah mempertemukanku lagi
dengan beliau lewat mimpi. Ayah yang sangat bijaksana, sangat penyayang. Masih
terekam di memoriku ketika terakhir kali beliau merapikan anak rambutku di
rumah sakit, sejam sebelum beliau berpulang. Saat itu tubuhnya benar-benar
lemah tak berdaya. Ibu yang berada di sampingnya tak henti-hentinya berucap
istighfar dalam-dalam sambil terus menahan air mata yang membuat matanya terus
berbinar-binar diterpa lampu rumah sakit yang cukup remang-remang. Sebulan
sudah ayah terbaring di sini akibat penyakit lever yang dideritanya. Kejadian
itu terus menghantuiku setelah semalam aku bermimpi untuk yang pertama kalinya
tentang ayah. Mungkin ayah mulai resah melihat anak gadisnya yang mulai
menyeleweng. Aku tahu ayah tak suka dengan statusku yang berpacaran sekarang,
tapi kuharap ayah mengerti bahwa aku juga tak terlalu mengutamakan kehadiran
Ahmad. Aku hanya ingin hiburan sebelum menghadapi ujian nasional yang akan
datang.
Aku masih tertunduk lemas depan pintu
kelas. Sepersekian menit kemudian Bu Wati keluar dengan membawa beberapa
lembaran kertas jawaban hasil ulangan teman-teman hari ini. Masih dengan
tatapan tak acuh, Bu Wati kemudian berkata kepadaku saat melihat mataku yang
merah sembab setelah sebelumnya sempat kusembunyikan dari pandangannya yang
cukup tajam untuk menjangkau jarak lima kilometer.
“Nad, kamu bisa ulangan minggu depan. Tapi maaf, sebagai hukumannya kamu harus mengepel kelas hari ini sebersih mungkin.” Baru saja aku hendak mengiyakan (meski berat rasanya), Bu Wati langsung ngeloyor pergi tanpa ba bi bu. Tinggallah aku kembali dengan ekspresi super duper gagal. Teman-teman yang lain hanya menertawaiku pelan.
“Yang sabar yah, sayang!” Rayu Caca penuh ejek. Aku hanya tersenyum. Sedetik kemudian aku beranjak menuju ke asrama dan mengambil seember air serta pengepel. Capek sekali rasanya. Untunglah teman-teman mengerti dan mengosongkan kelas sehingga aku dengan leluasa mengepel-ngepel ria.
Setengah jam kemudian kelas sudah bersih. Kinclong. Bu Wati yang sempat lewat di koridor kelas hanya memberi acungan jempol kepadaku yang sedang asyik mengelap peluh di pelipis. Rautnya masih sama, mencekam. Aku hanya bisa menghela nafas panjang sambil meneguk segelas air mineral yang sempat dibelikan Ruth tadi pagi. Huft, aku terhenyak. Peluh yang membasahi tubuhku belum mau berdalih untuk berhenti bereksresi melalui pori-pori kecilku. Baru aku ingin menarik kursi yang ada di dekatku, tiba-tiba saja Caca berteriak dari asrama yang jaraknya hanya seratus langkah dari kelas.
“Nad, kamu bisa ulangan minggu depan. Tapi maaf, sebagai hukumannya kamu harus mengepel kelas hari ini sebersih mungkin.” Baru saja aku hendak mengiyakan (meski berat rasanya), Bu Wati langsung ngeloyor pergi tanpa ba bi bu. Tinggallah aku kembali dengan ekspresi super duper gagal. Teman-teman yang lain hanya menertawaiku pelan.
“Yang sabar yah, sayang!” Rayu Caca penuh ejek. Aku hanya tersenyum. Sedetik kemudian aku beranjak menuju ke asrama dan mengambil seember air serta pengepel. Capek sekali rasanya. Untunglah teman-teman mengerti dan mengosongkan kelas sehingga aku dengan leluasa mengepel-ngepel ria.
Setengah jam kemudian kelas sudah bersih. Kinclong. Bu Wati yang sempat lewat di koridor kelas hanya memberi acungan jempol kepadaku yang sedang asyik mengelap peluh di pelipis. Rautnya masih sama, mencekam. Aku hanya bisa menghela nafas panjang sambil meneguk segelas air mineral yang sempat dibelikan Ruth tadi pagi. Huft, aku terhenyak. Peluh yang membasahi tubuhku belum mau berdalih untuk berhenti bereksresi melalui pori-pori kecilku. Baru aku ingin menarik kursi yang ada di dekatku, tiba-tiba saja Caca berteriak dari asrama yang jaraknya hanya seratus langkah dari kelas.
“IBU..............
DEA IBUUUUUUUUUUUU.............................!!!!!” Meski tanpa menggunakan
pengeras suara, suara cempreng Caca yang WOW! sudah merebak seantero sekolahan.
Para murid yang sedang asyik belajar langsung keluar dari kelas. Para guru yang
sedang rehat di kantin juga langsung berlari mendengar teriakan Caca. Histeris
sekali.
“Ada apa, Ca?” Tanya Bu Indar wali asrama kami penuh penasaran. Sontak saja Caca meraih tangan Bu Indar dan ditariknya menuju ke dalam asrama yang mulai riuh karena kerumunan orang. Aku yang penasaran juga ikut-ikutan masuk ke asrama tanpa mengingat bahwa haram jika tidak menanggalkan sepatu di batas teras. Toh, semua orang juga begitu.
“Astaghfirullahaladzim.... DEA!” Bu Indar juga ikut-ikutan menjerit. Langsung saja ia memopang tubuh Dea yang tergeletak tak berdaya di lantai. Dengan busa putih layaknya orang overdosis yang tak hentinya keluar dari bibir pucatnya, Dea kemudian dibaringkan di atas pembaringannya. Aku secepat kilat memanggil supir sekolah. Sedikit berlari membuatku sadar bahwa aku masih kecapean gara-gara mengepel tadi. Belum sempat aku masuk kembali ke dalam asrama, tiba-tiba saja kepalaku pening nan pusing. Tubuhku oleng. Peluh dingin membasahi hampir seluruh kemeja putihku. Entah seperberapa detik kemudian, aku tak kuasa memopang berat badanku yang sebenarnya ringan hingga akhirnya aku menyungkurkan badanku di atas tanah. Sayup-sayup kulihat Dea yang dimasukkan ke dalam mobil untuk dibawa ke rumah sakit. Hanya itu terakhir kali. Setelahnya aku hanya merasakan tubuhku dibopong ke dalam asrama.
“Ada apa, Ca?” Tanya Bu Indar wali asrama kami penuh penasaran. Sontak saja Caca meraih tangan Bu Indar dan ditariknya menuju ke dalam asrama yang mulai riuh karena kerumunan orang. Aku yang penasaran juga ikut-ikutan masuk ke asrama tanpa mengingat bahwa haram jika tidak menanggalkan sepatu di batas teras. Toh, semua orang juga begitu.
“Astaghfirullahaladzim.... DEA!” Bu Indar juga ikut-ikutan menjerit. Langsung saja ia memopang tubuh Dea yang tergeletak tak berdaya di lantai. Dengan busa putih layaknya orang overdosis yang tak hentinya keluar dari bibir pucatnya, Dea kemudian dibaringkan di atas pembaringannya. Aku secepat kilat memanggil supir sekolah. Sedikit berlari membuatku sadar bahwa aku masih kecapean gara-gara mengepel tadi. Belum sempat aku masuk kembali ke dalam asrama, tiba-tiba saja kepalaku pening nan pusing. Tubuhku oleng. Peluh dingin membasahi hampir seluruh kemeja putihku. Entah seperberapa detik kemudian, aku tak kuasa memopang berat badanku yang sebenarnya ringan hingga akhirnya aku menyungkurkan badanku di atas tanah. Sayup-sayup kulihat Dea yang dimasukkan ke dalam mobil untuk dibawa ke rumah sakit. Hanya itu terakhir kali. Setelahnya aku hanya merasakan tubuhku dibopong ke dalam asrama.
***
Bintang
beralih itu lagi. Cantik sekali! Lebih cantik daripada yang kemarin malam. Baru
saja aku hendak mengangkat tanganku untuk
make a wish, tiba-tiba sosok ayah datang dan memecah keheningan malam.
“Jangan begitu, dalam Islam tidak ada yang begitu-begituan” Ayah menegurku dengan penuh senyuman. Aku hanya mengangguk pelan. Selanjutnya ayah meraih kedua tanganku lalu mendudukkan aku di atas pangkuannya. Nyaman sekali.
“Bagaimana dengan teman kamu, sayang?” Ayah bertanya dengan amat sangat lembut.
“Siapa, yah? Dea? Dia sudah dibawa ke rumah sakit. Kok ayah tahu?” Aku balik bertanya kepada ayah. Ayah hanya tersenyum sambil mengelus pundakku perlahan.
“Nad, kamu masih ingat pesan ayah, kan? Itu sebabnya mengapa ayah melarang kamu pacaran.” Ayah tak menjawab, malah balik memberi petuah kepadaku. Kalimat ayah yang sedemikian rupa cukup menyinggung perasaanku. Aku sontak saja bangun dari pangkuan ayah. Aku tak terima!
“Apa maksud ayah?”
“Dengarkan saja apa yang ayah katakan. Ini semua sekali lagi ayah tekankan demi kebaikan kamu, Nad!” Nada bicara ayah mulai menaik.
“Ayah jahat!”
Aku berteriak membantah saat tiba-tiba ayah menghilang tanpa kuketahui. Semua keindahan malam digantikan dengan sinar menyilaukan mata yang putih berbinar.
“Jangan begitu, dalam Islam tidak ada yang begitu-begituan” Ayah menegurku dengan penuh senyuman. Aku hanya mengangguk pelan. Selanjutnya ayah meraih kedua tanganku lalu mendudukkan aku di atas pangkuannya. Nyaman sekali.
“Bagaimana dengan teman kamu, sayang?” Ayah bertanya dengan amat sangat lembut.
“Siapa, yah? Dea? Dia sudah dibawa ke rumah sakit. Kok ayah tahu?” Aku balik bertanya kepada ayah. Ayah hanya tersenyum sambil mengelus pundakku perlahan.
“Nad, kamu masih ingat pesan ayah, kan? Itu sebabnya mengapa ayah melarang kamu pacaran.” Ayah tak menjawab, malah balik memberi petuah kepadaku. Kalimat ayah yang sedemikian rupa cukup menyinggung perasaanku. Aku sontak saja bangun dari pangkuan ayah. Aku tak terima!
“Apa maksud ayah?”
“Dengarkan saja apa yang ayah katakan. Ini semua sekali lagi ayah tekankan demi kebaikan kamu, Nad!” Nada bicara ayah mulai menaik.
“Ayah jahat!”
Aku berteriak membantah saat tiba-tiba ayah menghilang tanpa kuketahui. Semua keindahan malam digantikan dengan sinar menyilaukan mata yang putih berbinar.
***
“Ayah
jahat!”
“Hei Nad, bangun! Pingsan sampe ngigo, gak lucu banget sih. Emangnya kamu juga mau cari sensasi kayak Dea, gitu?” Caca menggertakku saat aku mengingau lagi tentang ayah. Aku hanya terdiam. Kulirik jam di tanganku, baru pukul setengah sepuluh. Setelah kukenakan lagi jilbab segitiga putihku yang sempat ditanggalkan teman-teman saat aku pingsan tadi, aku kemudian bergegas kembali menuju ke kelas. Tak kuhiraukan Caca yang masih bermuka masam karena aku sama sekali tak merespon dan menggubris kemurahan hatinya untuk membangunkanku dengan nada kasar. Kulihat seantero asrama, semua kembali sepi. Tidak ada lagi tanda-tanda keramaian.
“Hei Nad, bangun! Pingsan sampe ngigo, gak lucu banget sih. Emangnya kamu juga mau cari sensasi kayak Dea, gitu?” Caca menggertakku saat aku mengingau lagi tentang ayah. Aku hanya terdiam. Kulirik jam di tanganku, baru pukul setengah sepuluh. Setelah kukenakan lagi jilbab segitiga putihku yang sempat ditanggalkan teman-teman saat aku pingsan tadi, aku kemudian bergegas kembali menuju ke kelas. Tak kuhiraukan Caca yang masih bermuka masam karena aku sama sekali tak merespon dan menggubris kemurahan hatinya untuk membangunkanku dengan nada kasar. Kulihat seantero asrama, semua kembali sepi. Tidak ada lagi tanda-tanda keramaian.
Memasuki
ruangan kelas, semua mata tertuju padaku.
“Lho, Nad! Kirain kamu pigsan tadi!” Aliah-teman sebangku Ruth-menegurku.
“Udah baikan akunya. Gak mau ketinggalan pelajaran lagi. Eh, Pak Jufri sudah masuk belum? Aku belum kumpul tugas Bio nih!”
“Belum. Jadi Putri kenapa sekarang?” Aliah lalu mengalihkan pembicaraannya kepada Ruth setelah dengan singkatnya menjawab pertanyaanku.
“Katanya masuk IGD dianya. Tuh anak nekat juga ternyata.” Ruth menjawab dengan ekspresi meyakinkan.
“Katanya disuruh nikah yah sama ibunya? Ish, emangnya cowoknya mau tanggung jawab?”
“Eh, tunggu dulu. Apa sih yang kalian maksud? Aku gak ngerti!” Aku lalu memotong pembicaraan Aliah dan Ruth. Aliah sontak saja berbalik sembilan puluh derajat kepadaku. Ruth yang melihat Aliah hanya bisa cengar-cengir tak karuan.
“Loh loh, emangnya kamu belum tahu, Nad?” Aliah bertanya penasaran padaku sambil tetap menahan tawanya yang sebentar lagi akan meledak.
“Belum.” Jawabku singkat, padat, jelas.
“Haha, Nad Nad. Ketinggalan berita amat sih! Makanya, sekolah di sini itu jangan cuma ngurusin Ahmad sama olimpiade Biologi, urus juga tuh teman-teman seangkatan kamu!” Aliah menimpali. Aku hanya diam menahan geram. Ruth yang melihat ekspresiku kemudian berinisiatif untuk mencairkan suasana.
“Jadi gini Nad.....”
“Lho, Nad! Kirain kamu pigsan tadi!” Aliah-teman sebangku Ruth-menegurku.
“Udah baikan akunya. Gak mau ketinggalan pelajaran lagi. Eh, Pak Jufri sudah masuk belum? Aku belum kumpul tugas Bio nih!”
“Belum. Jadi Putri kenapa sekarang?” Aliah lalu mengalihkan pembicaraannya kepada Ruth setelah dengan singkatnya menjawab pertanyaanku.
“Katanya masuk IGD dianya. Tuh anak nekat juga ternyata.” Ruth menjawab dengan ekspresi meyakinkan.
“Katanya disuruh nikah yah sama ibunya? Ish, emangnya cowoknya mau tanggung jawab?”
“Eh, tunggu dulu. Apa sih yang kalian maksud? Aku gak ngerti!” Aku lalu memotong pembicaraan Aliah dan Ruth. Aliah sontak saja berbalik sembilan puluh derajat kepadaku. Ruth yang melihat Aliah hanya bisa cengar-cengir tak karuan.
“Loh loh, emangnya kamu belum tahu, Nad?” Aliah bertanya penasaran padaku sambil tetap menahan tawanya yang sebentar lagi akan meledak.
“Belum.” Jawabku singkat, padat, jelas.
“Haha, Nad Nad. Ketinggalan berita amat sih! Makanya, sekolah di sini itu jangan cuma ngurusin Ahmad sama olimpiade Biologi, urus juga tuh teman-teman seangkatan kamu!” Aliah menimpali. Aku hanya diam menahan geram. Ruth yang melihat ekspresiku kemudian berinisiatif untuk mencairkan suasana.
“Jadi gini Nad.....”
***
“Sumpah,
aku sayang banget sama Fian!” Dea bercerita dengan menggebu-gebu. Caca yang
super jutek hanya mendengar sebelah sambil memainkan BB Dakota terbarunya. Baru
saja Dea bercerita tentang Fian, pacar barunya yang sudah dicap jadi kekasih
sejatinya, orang yang diceritakan tiba-tiba saja muncul tanpa ada angin ataupun
hujan. Sontak saja si Dea yang teramat bahagia loncat-loncat kegirangan.
Geregetan.
“Ca, Fian datang!” Dea memberitahu Caca. Caca yang mendengarnya langsung saja terperanjak. Dengan mata bulatnya yang semakin bulat, Caca kemudian berbisik di telinga Dea.
“De, beneran kamu mau jalan sama Fian?” Caca bertanya seakan tidak percaya.
“Iya Ca, ngapain aku bohong! Iya kan, sayang?” Dea yang menjawab pertanyaan Caca lantas merambahkan pertanyaannya kepada Fian. Fian yang ditanya hanya mengangguk dengan menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Caca berkilah. Dalam hatinya ia benar-benar tak mau kalau sahabatnya yang satu ini diajak pelesiran dengan laki-laki yang baru dikenalnya dua minggu lalu itu.
“De, kamu gak main-main, kan? Entar kalau ditanya sama ibu wali, Dea-nya mana, aku mesti jawab apa!” Caca semakin meyakinkan sahabatnya yang satu ini dengan nada bicara yang semakin menaik seakan berteriak.
“Udah, gak usah khawatir. Ibu wali gak bakal nyari aku. Toh aku juga bukan kayak Nad yang terkenal sampai seantero-an kota ini. Tenang aja, Caca sayang!” Dea meyakinkan. Caca semakin kaget mendengar kata-kata Dea yang sama sekali tak pernah terlintas di benaknya bahwa ia akan berpikir sedemikian rupa. Caca terdiam. Baru saja ia ingin meraih tangan Dea dan melarangnya ikut dengan Fian, namun Dea lebih cekatan naik ke motor Ninja keluaran terbaru milik sang pujaan hatinya.
“Deaaaaaaaaaaaaaaa!”
Teman-teman yang juga masih dalam perjalanan pulang kembali ke kampus menyeringai melihat Caca yang berteriak panik. Semuanya mendekat dan bertanya kepada Caca dengan satu pertanyaan: kamu kenapa? Dan dengan lunglainya pula Caca hanya bisa menjawab dengan mengacungkan jari telunjuknya ke arah Dea dan Fian yang bergandengan mesra berdua. Teman-teman yang lain tak bisa berkata-kata. Mereka hanya menganga dan membentuk huruf O di bibir masing-masing.
“A big problem was began!!!!!!!!!” Teriak salah seorang temannya.
“Ca, Fian datang!” Dea memberitahu Caca. Caca yang mendengarnya langsung saja terperanjak. Dengan mata bulatnya yang semakin bulat, Caca kemudian berbisik di telinga Dea.
“De, beneran kamu mau jalan sama Fian?” Caca bertanya seakan tidak percaya.
“Iya Ca, ngapain aku bohong! Iya kan, sayang?” Dea yang menjawab pertanyaan Caca lantas merambahkan pertanyaannya kepada Fian. Fian yang ditanya hanya mengangguk dengan menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Caca berkilah. Dalam hatinya ia benar-benar tak mau kalau sahabatnya yang satu ini diajak pelesiran dengan laki-laki yang baru dikenalnya dua minggu lalu itu.
“De, kamu gak main-main, kan? Entar kalau ditanya sama ibu wali, Dea-nya mana, aku mesti jawab apa!” Caca semakin meyakinkan sahabatnya yang satu ini dengan nada bicara yang semakin menaik seakan berteriak.
“Udah, gak usah khawatir. Ibu wali gak bakal nyari aku. Toh aku juga bukan kayak Nad yang terkenal sampai seantero-an kota ini. Tenang aja, Caca sayang!” Dea meyakinkan. Caca semakin kaget mendengar kata-kata Dea yang sama sekali tak pernah terlintas di benaknya bahwa ia akan berpikir sedemikian rupa. Caca terdiam. Baru saja ia ingin meraih tangan Dea dan melarangnya ikut dengan Fian, namun Dea lebih cekatan naik ke motor Ninja keluaran terbaru milik sang pujaan hatinya.
“Deaaaaaaaaaaaaaaa!”
Teman-teman yang juga masih dalam perjalanan pulang kembali ke kampus menyeringai melihat Caca yang berteriak panik. Semuanya mendekat dan bertanya kepada Caca dengan satu pertanyaan: kamu kenapa? Dan dengan lunglainya pula Caca hanya bisa menjawab dengan mengacungkan jari telunjuknya ke arah Dea dan Fian yang bergandengan mesra berdua. Teman-teman yang lain tak bisa berkata-kata. Mereka hanya menganga dan membentuk huruf O di bibir masing-masing.
“A big problem was began!!!!!!!!!” Teriak salah seorang temannya.
Sesampainya
di kampus, tak ada satupun dari mereka yang ingin buka mulut kepada ibu wali
bahwa salah seorang dari teman mereka kabur. Mereka mengunci bibir mereka
rapat-rapat seakan tak pernah ada suatu hal penting nan mengenaskan yang
terjadi. Bukannya mereka bungkam, bukannya mereka tak peduli, tapi mereka takut
jika Dea dilaporkan maka masalahnya akan jadi lebih ruwet, lebih rumit. Hingga
akhirnya....
“Kenapa
tak satupun dari kalian yang memberi tahu ibu? Apa kalian ingin teman kalian
rusak? Ternyata sudah dua malam Dea pergi dan tak ada kabarnya, namun kalian
tak pernah menginformasikan hal tersebut. Kalian anggap apa ibu ini, hah?!”
Semua murid terdiam menunduk. Tak ada satupun yang berani angkat bicara setelah
ibu wali marah besar ketika mengetahui sudah dua hari ini absen Dea Anindita
alfa. Caca yang paling merasa bersalah kemudian tiba-tiba jatuh pingsan dari
kursinya hingga kepalanya hampir saja terbentur ke lantai. Untung ada Ruth yang
masih sempat menimang tubuhnya. Dengan cekatan ibu wali kemudian membantu
anak-anak yang lain untuk mengangkat Caca ke asrama. Suasana kelas yang mati
langsung saja berotasi drastis 180 derajat. Ibu wali yang masih menahan
amarahnya kemudian sibuk mengurus Caca agar siuman secepatnya.
Setengah
jam kemudian Caca baru bisa sadar. Itupun dia masih oleng dan belum bisa
berdiri tegak seperti semula. Ibu wali yang sedari tadi menjaganya kemudian
menyodorkan seteguk air mineral yang masih dalam kemasan. Caca menolak, lantas
hanya berkata,
“Bu, Caca minta maaf. Caca gak bisa jaga Dea.” Raut pucat Caca semakin memperhening suasana. Ibu wali yang mendengarnya hanya diam, tanpa respon. Sedetik-dua detik ibu wali-pun beranjak keluar dari asrama tanpa mengucapkan sepatah-dua patah kata. Ekspresi kecewanya ternyata masih nampak dari tiap sudut aura wajahnya.
“Bu, Caca minta maaf. Caca gak bisa jaga Dea.” Raut pucat Caca semakin memperhening suasana. Ibu wali yang mendengarnya hanya diam, tanpa respon. Sedetik-dua detik ibu wali-pun beranjak keluar dari asrama tanpa mengucapkan sepatah-dua patah kata. Ekspresi kecewanya ternyata masih nampak dari tiap sudut aura wajahnya.
Malamnya
tanpa disangka-sangka Dea yang sedari tadi siang menjadi pembuat onar paling
tidak waras se-sekolahan, memunculkan batang hidungnya di tengah ramainya malam
Selasa yang dilanda galau bin resah berkepanjangan. Dia memunculkan wujudnya
dengan gaya bebal super acak-acakan. Bajunya tak diganti dari kemarin dulu,
sendal yang dipakainya penuh dengan kotoran lumpur, dan yang paling
mengenaskan, ia pulang dengan aroma khas alkohol yang berbau sangat tajam-membuat
teman-temannya tak ada yang ingin mendekatinya seorangpun. Dari rautnya dapat
diketahui bahwa ia sangat terpukul dan tersiksa. Tak ada lagi binar-binar
lembut yang biasanya memancarkan keindahan tersendiri dari wajahnya yang mulus
tak berjerawat. Matanya yang dulu sendu menawan kini merah sembab. Akibat
kebanyakan air mata mungkin.
Caca yang melihat Dea dengan keadaan sedemikian rupa tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa berdehem singkat dan membalikkan pandangannya sehingga ia berbicara namun bagai berbicara dengan tembok, “Melapor sama ibu wali.”, jelas Caca, singkat. Dea yang diberitahu hal tersebut hanya bisa manggut-manggut sambil bersungut-sungut ke rumah ibu wali. Dalam hati Caca meringis melihat sahabatnya jadi tak karuan, namun ia sendiri sadar bahwa ini semua juga demi kebaikannya. Tanpa sadar terbersit tekad dalam hatinya, aku ingin menunggunya dan menanyakan apa yang telah terjadi padanya.
Caca yang melihat Dea dengan keadaan sedemikian rupa tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa berdehem singkat dan membalikkan pandangannya sehingga ia berbicara namun bagai berbicara dengan tembok, “Melapor sama ibu wali.”, jelas Caca, singkat. Dea yang diberitahu hal tersebut hanya bisa manggut-manggut sambil bersungut-sungut ke rumah ibu wali. Dalam hati Caca meringis melihat sahabatnya jadi tak karuan, namun ia sendiri sadar bahwa ini semua juga demi kebaikannya. Tanpa sadar terbersit tekad dalam hatinya, aku ingin menunggunya dan menanyakan apa yang telah terjadi padanya.
Satu
setengah jam lamanya Caca menunggu Dea dengan hati berdebar-debar. Caca tahu,
pastinya omelan, ocehan, nasehat dan petuah dari ibu wali sudah terbungkus
menjadi satu paket parcel untuk Dea. Namun yang paling ingin diketahui Caca,
apa sebenarnya yang terjadi dengan Dea? Apa
Dea sudah? Oh, tidak. Tidak! Caca bergumam sendiri.
Dea memasuki ruangan asrama dengan wajah menunduk. Terlihat tantenya yang dari kota telah pulang dengan mengendarai mobil Avanza putihnya setelah sempat ikut dipanggil meeting bareng ibu wali. Dea tak berkilah. Hanya terus jalan menuju ke wc. Tak dihiraukannya teman-teman yang sedari tadi menatap tajam akan kehadirannya, termasuk Caca. Tak lama kemudian terdengar suara air mengalir dan shower juga ikut dinyalakan. Oh, Dea mandi rupanya.
Dea memasuki ruangan asrama dengan wajah menunduk. Terlihat tantenya yang dari kota telah pulang dengan mengendarai mobil Avanza putihnya setelah sempat ikut dipanggil meeting bareng ibu wali. Dea tak berkilah. Hanya terus jalan menuju ke wc. Tak dihiraukannya teman-teman yang sedari tadi menatap tajam akan kehadirannya, termasuk Caca. Tak lama kemudian terdengar suara air mengalir dan shower juga ikut dinyalakan. Oh, Dea mandi rupanya.
Sekeluar
Dea dari wc, Caca langsung saja menuju ke arah Dea dan ingin mempertanyakan
segala hal yang telah berkecamuk di dalam hatinya. Namun, ketika ia baru
menyebut namanya, Dea langsung saja mengambil bantal guling dan terlelap dengan
pulasnya. Caca juga pastinya tak enak jika ingin membangunkan orang yang
kecapaian. Maka jadilah ia semakin sengsara dengan pelbagai macam pertanyaan yang
telah mengiang-ngiang penuh sesak di kepalanya.
Keesokan paginya...
Dea
masih terlelap dalam mimpi indahnya. Caca yang sudah siap duluan berangkat ke
sekolah kemudian menghampiri pembaringan Caca di sudut kanan asrama. Caca
memegang kening Dea. Hangat. Satu-dua detik kemudian diselimutinya sahabat yang
paling diakrabinya ini. Setelah itu ia mempercepat langkahnya menuju ke kelas
berhubung bel telah berbunyi. Tak lupa disingkapnya anak poni Dea kemudian
dibisikinya dalam-dalam, get well soon,
De!
Hingga
akhirnya semua murid dikagetkan oleh teriakan Caca. Dea yang baru pulang
semalam ternyata dengan nekatnya mengkonsumsi parfum Izzi miliknya hingga
hampir dua pertiganya. Jadilah ia bagaikan orang overdosis obat atau orang
keracunan dengan busa putih yang tak hentinya meremukkan fungsi dari sebagian
sel-sel dalam perutnya. Caca yang kala itu begitu sedih tak kuasa menahan air
mata yang sudah benar-benar ingin membuncah. Setelah Dea dibawa ke rumah sakit,
Caca tak hentinya meratapi sepucuk kertas putih kecil milik Dea yang tergeletak
di lantai. Dan ternyata, itu adalah secarik potongan kecil dari buku diarynya.
Ma,
Dea sayang sama Fian. Saking sayangnya, Dea sampai terlalu bodoh memberikan
kesucian Dea padanya. Tapi Ma, Dea tidak mau menikah! Dea masih mau melanjutkan
sekolah! Dea gak mau kawin sedini ini! DEA GAK MAU!!!!!!!!!!!!!
Apa
yang ditakutkan Caca ternyata benar adanya. Dea sudah melepaskan kesuciannya.
Masih teringat kemarin ketika canda dan tawa Dea masih merekah ke udara. Ketika ia tersenyum bangga mendapatkan juara kelas pertama. Ketika ia diberi hadiah android keluaran terbaru oleh mamanya. Ketika ia bercanda penuh riang dengan Caca dan teman-teman yang lain, dan ketika hatinya dag dig dug tak karuan setelah ditembak oleh Fian sang buaya darat itu. Kini semua mimpi-mimpi indahnya telah sirna. Dia sudah rusak. Betul-betul rusak. Yang bisa dinantinya hanya keikhlasan Fian untuk bertanggung jawab atas fetus yang telah tumbuh di dalam uterus alias rahimnya. DASAR LAKI-LAKI HINA! Caca berteriak sekuat yang ia bisa.
Masih teringat kemarin ketika canda dan tawa Dea masih merekah ke udara. Ketika ia tersenyum bangga mendapatkan juara kelas pertama. Ketika ia diberi hadiah android keluaran terbaru oleh mamanya. Ketika ia bercanda penuh riang dengan Caca dan teman-teman yang lain, dan ketika hatinya dag dig dug tak karuan setelah ditembak oleh Fian sang buaya darat itu. Kini semua mimpi-mimpi indahnya telah sirna. Dia sudah rusak. Betul-betul rusak. Yang bisa dinantinya hanya keikhlasan Fian untuk bertanggung jawab atas fetus yang telah tumbuh di dalam uterus alias rahimnya. DASAR LAKI-LAKI HINA! Caca berteriak sekuat yang ia bisa.
***
“Oh,
jadi gitu?” Aku bertanya kepada Aliah penuh antusias.
“Iya, si Dea itu kabur pas kamu ada acara lomba English Camp yang 3 hari itu” Ruth memperjelas.
“Jadi, dia bakal nikah?” Aku bertanya lagi. Ruth yang melihatku sangat penasaran hanya tersenyum sendiri sambil garuk-garuk kepala.
“Katanya tanggal 3 bulan depan.” Aliah menjawab dengan mulut penuh keripik pisang seharga lima ratus rupiahan.
“Udah dekat, dong! Tinggal 2 minggu.” Aku menambahkan. Baru saja Aliah ingin angkat bicara lagi, Bu Salsa guru kesenian kami sudah masuk mengisi jam kedua yang kosong.
“Iya, si Dea itu kabur pas kamu ada acara lomba English Camp yang 3 hari itu” Ruth memperjelas.
“Jadi, dia bakal nikah?” Aku bertanya lagi. Ruth yang melihatku sangat penasaran hanya tersenyum sendiri sambil garuk-garuk kepala.
“Katanya tanggal 3 bulan depan.” Aliah menjawab dengan mulut penuh keripik pisang seharga lima ratus rupiahan.
“Udah dekat, dong! Tinggal 2 minggu.” Aku menambahkan. Baru saja Aliah ingin angkat bicara lagi, Bu Salsa guru kesenian kami sudah masuk mengisi jam kedua yang kosong.
“Anak-anak!”
Bu Salsa memulai perbincangan.
“Iya, Bu!” Semua teman-teman yang menjadi penghuni kelas sekilas menjawab dengan kompak.
“Kalian tahu, kalian ini sedang dalam proses matang-matangnya. Kalian ini sedang elok-eloknya dipandang. Ibu tahu, kalian semua sedang dilanda asmara. Sudah masa-masa kalian untuk merasakan apa yang namanya pacaran. Ibu juga pernah seperti kalian. Ibu juga pernah pacaran, tujuh tahun malah. Tapi ingat, kalian pacaran mesti punya batas juga. Jangan sampai kalian mau disentuh oleh makhluk ceroboh nan bengal yang bernama laki-laki. Jangan sampai kalian terjerembap dalam hal penuh nikmat yan berakhir dengan sengsara layaknya yang telah dialami oleh teman kalian. Kalian bagaikan bunga yang yang lagi mekar-mekarnya, nak! Bayangkan jika ada seekor kumbang yang menghisap sari bunga kalian. Kira-kira apa yang terjadi?” Bu Salsa kemudian bertanya berandai-andai setelah menjelaskan panjang lebar.
“Mati, Bu!” Jawab kami, masih kompak.
“Ya, layu dan mati. Dan selanjutnya? Tak ada lagi orang yang tertarik dengan bunga yang sudah layu. Tak ada lagi orang yang mau dengan bunga yang sudah tak sedap dipandang. Ingat, nak! Jangan lupakan masa depan kalian! Kalian masih harus meraih mimpi kalian yang setinggi langit. Kalian bagaikan bintang nak. Hitunglah berapa banyak bintang yang ada di langit. Banyak sekali, kan? Jika kalian disuruh memilih, mana bintang favorit kalian, pastinya kalian memilih yang paling terang. Tak ada orang yang menyukai bintang yang redup. Maka dari itu, jagalah diri kalian, nak! Jaga kesucian kalian, jaga kehormatan kalian. Ini semua demi masa depan kalian!” Bu Salsa ternyata masih memperpanjang penjelasannya. Dan ternyata pula, banyak sekali teman-teman yang terharu-biru mendengarkan petuah dari Bu Salsa ini. Tak dapat dipungkiri, sampai aku sendiri sampai meneteskan air mata. Dan satu yang terlintas di pikiranku, Ahmad.
“Iya, Bu!” Semua teman-teman yang menjadi penghuni kelas sekilas menjawab dengan kompak.
“Kalian tahu, kalian ini sedang dalam proses matang-matangnya. Kalian ini sedang elok-eloknya dipandang. Ibu tahu, kalian semua sedang dilanda asmara. Sudah masa-masa kalian untuk merasakan apa yang namanya pacaran. Ibu juga pernah seperti kalian. Ibu juga pernah pacaran, tujuh tahun malah. Tapi ingat, kalian pacaran mesti punya batas juga. Jangan sampai kalian mau disentuh oleh makhluk ceroboh nan bengal yang bernama laki-laki. Jangan sampai kalian terjerembap dalam hal penuh nikmat yan berakhir dengan sengsara layaknya yang telah dialami oleh teman kalian. Kalian bagaikan bunga yang yang lagi mekar-mekarnya, nak! Bayangkan jika ada seekor kumbang yang menghisap sari bunga kalian. Kira-kira apa yang terjadi?” Bu Salsa kemudian bertanya berandai-andai setelah menjelaskan panjang lebar.
“Mati, Bu!” Jawab kami, masih kompak.
“Ya, layu dan mati. Dan selanjutnya? Tak ada lagi orang yang tertarik dengan bunga yang sudah layu. Tak ada lagi orang yang mau dengan bunga yang sudah tak sedap dipandang. Ingat, nak! Jangan lupakan masa depan kalian! Kalian masih harus meraih mimpi kalian yang setinggi langit. Kalian bagaikan bintang nak. Hitunglah berapa banyak bintang yang ada di langit. Banyak sekali, kan? Jika kalian disuruh memilih, mana bintang favorit kalian, pastinya kalian memilih yang paling terang. Tak ada orang yang menyukai bintang yang redup. Maka dari itu, jagalah diri kalian, nak! Jaga kesucian kalian, jaga kehormatan kalian. Ini semua demi masa depan kalian!” Bu Salsa ternyata masih memperpanjang penjelasannya. Dan ternyata pula, banyak sekali teman-teman yang terharu-biru mendengarkan petuah dari Bu Salsa ini. Tak dapat dipungkiri, sampai aku sendiri sampai meneteskan air mata. Dan satu yang terlintas di pikiranku, Ahmad.
Ya,
Ahmad. Sempat terpikirkan olehku apakah dia memiliki perwatakan sebejat Fian
apa tidak. Yang kutahu, setengah tahun jalan dengannya dia tak pernah
macam-macam kepadaku. Mungkin karena aku orangnya tak mau diajak jalan atau
semacamnya. Tapi, belum tentu juga kan dia tak memiliki pemikiran bengal
sedemikian rupa? Inilah yang semakin mengacaukan pikiranku. Sampai-sampai Ruth
dan Aliah hanya senyam-senyum sendiri melihat tingkahku yang sedari tadi
memegang kepala, sok pusing. Sampai Bu Salsa keluar, tak ada yang dijelaskannya
kecuali menyangkut masalah Dea. Akupun juga turut mendengarkan dengan seksama.
Jadi anak SMA ternyata tidak segampang dan seindah yang aku kira. Banyak sekali
hal-hal WOW! yang termaktub semenjak aku mendudukkan bukuku di bangku sekolah
menengah atas ini. Salah satunya belajar mengenai arti kehidupan, mengenai
kodrat seorang perempuan, mengenai keras dan berlikunya segala macam hal di
dalam mengarungi samudera hidup ini.
Ketika
aku akan mengambil buku catatan Fisikaku di dalam tas, tiba-tiba Wiwi
memanggilku dari halaman kelas.
“Kenapa, Wi?” Tanyaku pada Wiwi.
“Anu, Nad. Ada telepon dari ibu kamu. Katanya mau bicara sama kamu. Cepetan gih ke rumah ibu wali.” Wiwi mengarahkanku. Akupun bersegera mungkin berlari ke rumah ibu wali. Sesampai di sana kulihat ibu wali sedang sibuk bercakap ria lewat telepon. Bicara dengan ibu mungkin.
“Kenapa, Wi?” Tanyaku pada Wiwi.
“Anu, Nad. Ada telepon dari ibu kamu. Katanya mau bicara sama kamu. Cepetan gih ke rumah ibu wali.” Wiwi mengarahkanku. Akupun bersegera mungkin berlari ke rumah ibu wali. Sesampai di sana kulihat ibu wali sedang sibuk bercakap ria lewat telepon. Bicara dengan ibu mungkin.
“Nad,
ini ibu kamu!” ibu wali menyodorkan handphonenya kepadaku.
Ibu :
Assalamu alaikum. Ini Nad?
Nad : Waalaikum salam. Iya, Bu. Ini Nad.
Ibu : Gini sayang, ibu mau ngajak kamu pulang dulu.
Nad : Untuk apa, ibu? Emangnya ada acara?
Ibu : Gak ada kok sayang. Ibu cuma mau ngajak kamu ziarah ke makam ayah. Sehari aja.
Nad : Wah, tumben-tumbenan nih ibu manggil aku. Kok bisa, ibu?
Ibu : Tidak, cuma semalam ibu bermimpi ayah datang menemui ibu.
Nad : Mimpinya gimana ibu? (tanyaku penuh antusias)
Ibu : Ibu ngelihat bintang jatuh, trus tiba-tiba saja ayah datang. Dia lalu menanyakan pada ibu
bagaimana keadaan kamu sama Imam. Ya, ibu bilang kamu dan adik kamu baik-baik aja.
Nad : Gak ada adegan mesra-mesraannya gitu? (aku bercanda dan tertawa cengengesan)
Ibu : Wah, kamu ini sembarangan aja. Udah, ibu jemput sebentar sudah dzuhur, yah?
Nad : Iya, ibuku sayang. Eits, izinin dulu sama ibu wali, ibu!
Ibu : Iya, sayang. Sip! Ok. Sudah dulu, yah. Ibu sibuk nih. Assalamu alaikum.
Nad : Waalaikum salam.
Nad : Waalaikum salam. Iya, Bu. Ini Nad.
Ibu : Gini sayang, ibu mau ngajak kamu pulang dulu.
Nad : Untuk apa, ibu? Emangnya ada acara?
Ibu : Gak ada kok sayang. Ibu cuma mau ngajak kamu ziarah ke makam ayah. Sehari aja.
Nad : Wah, tumben-tumbenan nih ibu manggil aku. Kok bisa, ibu?
Ibu : Tidak, cuma semalam ibu bermimpi ayah datang menemui ibu.
Nad : Mimpinya gimana ibu? (tanyaku penuh antusias)
Ibu : Ibu ngelihat bintang jatuh, trus tiba-tiba saja ayah datang. Dia lalu menanyakan pada ibu
bagaimana keadaan kamu sama Imam. Ya, ibu bilang kamu dan adik kamu baik-baik aja.
Nad : Gak ada adegan mesra-mesraannya gitu? (aku bercanda dan tertawa cengengesan)
Ibu : Wah, kamu ini sembarangan aja. Udah, ibu jemput sebentar sudah dzuhur, yah?
Nad : Iya, ibuku sayang. Eits, izinin dulu sama ibu wali, ibu!
Ibu : Iya, sayang. Sip! Ok. Sudah dulu, yah. Ibu sibuk nih. Assalamu alaikum.
Nad : Waalaikum salam.
Aku kemudian mengembalikan handphone
ibu wali lalu pamitan dan meminta izin untuk pulang ke rumah. Setelahnya aku
lalu bergegas ke kamar untuk packing
barang sebelum ibu datang. Bintang jatuh? Aku teringat percakapan ibu di
telepon tadi. Mengapa setiap aku bermimpi tentang ayah selalu saja ada bintang
jatuh alias bintang beralih? Dan lucunya, itu juga terjadi kepada ibu. Apa ayah
adalah bintang jatuh tersebut? Ah, pemikiran dangkal. Mungkin ini cuma pertanda
akan kedatangan ayah saja. Mungkin juga ayah lagi kangen-kangenan sama
keluarganya. Aku tertawa sendiri dalam hati. Aku kangen ayah!
Setelah
dijemput oleh ibu, aku lalu pamitan dengan ibu wali dan teman-teman. Saat naik
ke atas mobil, masih sempat saja aku mendengar cerita tentang Dea. Dan sekali lagi, itu bukan cuma
aku yang mendengar tapi ibu juga. Sontak saja ibu yang terkena virus penasaran
tingkat tinggi bertanya padaku.
“Nad, emangnya teman kamu kenapa?” Tanya ibu sambil menyetir mobil dengan amat sangat hati-hati.
“Loh, ibu dengar cerita dari teman-teman? Gini, Bu. Ada teman aku. Dea namanya. Dia mau nikah tanggal 3 bulan depan.” Aku mulai menjelaskan.
“Kok bisa?” Setelah ibu berbicara sedemikian rupa, aku lalu menceritakan semuanya dari A sampai Z. Ibu yang mendengarnya hanya manggut-manggut sambil sesekali melafadzkan Astaghfirullahaldzim dengan nada datar.
“Itulah sayang, mengapa ayahmu dulu melarang kamu untuk pacaran. Ayahmu khawatir kamu akan berakhir layaknya seperti teman kamu itu. Dia cantik, dia baik, dia pintar, tapi karena nafsu hilanglah semua kelebihan-kelebihan yang dimilkinya.” Ibu juga mulai bertutur penuh petuah. Aku sejenak menundukkan kepalaku sambil berdehem ringan. Kutatap handphone yang ada di tanganku. Ahmad menelepon! Dengan cekatan ku-reject telepon darinya sebelum nada getarnya sampai di kuping ibu.
“Emangnya kamu sudah punya pacar, sayang?” Pertanyaan ibu sejenak menghantam pikiranku. Apa yang harus kulakukkan? Jujur? TIDAK MUNGKIN!
“Hm.....” Jawabanku yang membuat ibu hanya tersenyum pelan. Ibu tak meneruskan. Hanya fokus dengan jalanan yang terlentang rapi di depannya. Sejenak aku bungkam. Lalu kuambil handphoneku dan kutulis dengan cepat-cepat: MAD, KITA PUTUS. ALASANNYA ENTARAN SETELAH AKU SAMPAI DI RUMAH. Ibu yang melihatku memencet tombol hp dengan amat sangat cepat hanya berbatuk-batuk ria. Aku masih bungkam. Tak ingin berkata apa-apa. Semoga saja keputusan yang kuambil membuahkan maslahat kepadaku, Ya Allah!
“Nad, emangnya teman kamu kenapa?” Tanya ibu sambil menyetir mobil dengan amat sangat hati-hati.
“Loh, ibu dengar cerita dari teman-teman? Gini, Bu. Ada teman aku. Dea namanya. Dia mau nikah tanggal 3 bulan depan.” Aku mulai menjelaskan.
“Kok bisa?” Setelah ibu berbicara sedemikian rupa, aku lalu menceritakan semuanya dari A sampai Z. Ibu yang mendengarnya hanya manggut-manggut sambil sesekali melafadzkan Astaghfirullahaldzim dengan nada datar.
“Itulah sayang, mengapa ayahmu dulu melarang kamu untuk pacaran. Ayahmu khawatir kamu akan berakhir layaknya seperti teman kamu itu. Dia cantik, dia baik, dia pintar, tapi karena nafsu hilanglah semua kelebihan-kelebihan yang dimilkinya.” Ibu juga mulai bertutur penuh petuah. Aku sejenak menundukkan kepalaku sambil berdehem ringan. Kutatap handphone yang ada di tanganku. Ahmad menelepon! Dengan cekatan ku-reject telepon darinya sebelum nada getarnya sampai di kuping ibu.
“Emangnya kamu sudah punya pacar, sayang?” Pertanyaan ibu sejenak menghantam pikiranku. Apa yang harus kulakukkan? Jujur? TIDAK MUNGKIN!
“Hm.....” Jawabanku yang membuat ibu hanya tersenyum pelan. Ibu tak meneruskan. Hanya fokus dengan jalanan yang terlentang rapi di depannya. Sejenak aku bungkam. Lalu kuambil handphoneku dan kutulis dengan cepat-cepat: MAD, KITA PUTUS. ALASANNYA ENTARAN SETELAH AKU SAMPAI DI RUMAH. Ibu yang melihatku memencet tombol hp dengan amat sangat cepat hanya berbatuk-batuk ria. Aku masih bungkam. Tak ingin berkata apa-apa. Semoga saja keputusan yang kuambil membuahkan maslahat kepadaku, Ya Allah!
***
Aku
terduduk diam di balkon rumah sambil bersandar ke dinding. Dengan secangkir
cokelat hangat, aku kemudian memainkan handphoneku, ke atas ke bawah, ke kanan
ke kiri. Malam ini langit lagi terang-terangnya. Para bintang gemerlapan dengan
indahnya. Suara jangkrik bersatu padu membentuk sebuah harmoni yang indah.
Bulan juga sedang bulat-purnama, membuat siapa saja yang masih diberi nikmat
oleh Allah untuk menatap langit malam ini tanpa sadar akan mengucapkan
Subhanallah dengan sendirinya. Baru terlintas di ingatanku, setelah aku meminta
putus dengan Ahmad, Ahmad tak pernah lagi merespon smsku ataupun sekedar say hello denganku. Mungkin dia marah
kepadaku. Tapi bukan salahku kan kalau aku meminta putus dengannya? Toh sesuai
dengan kata ayah dan ibu ini semua juga demi kebaikan aku, dan pastinya juga
akan berdampak positif kepada diri Ahmad sendiri. Aku baru tersadar bahwa
ternyata memang pacaran lebih banyak mudharatnya daripada baiknya. Ahmad yang
kukenal tak pernah egoisan, kini menampakkan keasliannya setelah aku meminta break dengannya. Ternyata ayah benar.
Perjalananku masih panjang. Belum saatnya aku berdalih untuk menemukan cinta
sejati di usia sedini ini. Aku terkekeh, menatap pelan indahnya sang raja malam
sambil menyeruput cokelat panas seduhanku yang mulai dingin.
Bintang
beralih, lagi. Setelah membentuk sebuah rasi, ‘seekor’ bintang kembali terjatuh
dari kumpulannya menciptakan suasana nan gemerlapan di malam yang sarat akan
kesyahduan. Tiba-tiba saja kulihat sosok ayah di langit malam yang hitam sedang
twinkle-twinkle. Ayah? Aku bertanya
dalam hati. Kulihat ia tersenyum padaku sambil mengacungkan kedua jempol
tangannya. Sungguh, bangganya aku. Kemudian tersenyum balik padanya sambil
melambaikan tangan. Entahlah ini mimpi apa tidak. Yang kutahu aku tak mau
menampar pipiku untuk memastikan bahwa ini adalah nyata karena bisa saja ini
salah, dan sebaliknya jika ini mimpi aku tak mau mengacaukan dengan bangun
cepat-cepat. Ayah masih tersenyum.
Bintang
beralih. Pesan pribadi dari ayah untuk anak gadisnya tercinta.
“GADIS
ITU IBARAT BUNGA YANG SEDANG MEKAR-MEKARNYA, JANGAN SAMPAI DIHINGGAPI KUMBANG
SEBELUM IA LAYU DAN MATI DENGAN SENDIRINYA. GADIS ITU IBARAT BUAH MANGGA YANG
LAGI MASAK-MASAKNYA, JANGAN SAMPAI SETELAH MENGGIURKANNYA HILANG, HABIS MANIS
SEPAH DIBUANG. GADIS ITU IBARAT TELUR DI UJUNG TANDUK, SEKALI JATUH JANGAN
HARAP AKAN KEMBALI UTUH SEPERTI SEMULA.”
IMMIM,06 Maret 2013-Auditorium.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
tinggalkan jejak kamu dengan setidaknya mengeposkan sebuah komentar :)