Pesan 'Seekor' bintang Beralih

              Hidup itu perjuangan, kata ibu. Semua jenjang kehidupan yang kita lewati tak pernah lepas dari apa yang namanya pengorbanan. Hidup itu adalah roda berporos, kata ayah. Dia takkan berhenti berputar sampai sang empunya mengakhiri sendiri cerita novel melankolis kehidupannya. Kadang menukik ke bawah, kadang mendaki ke atas. Hidup itu dunia fantasi, bagaikan panggung sandiwara sang bidadari yang turun dari kahyangan ataupun si Hulk hijau yang tiba-tiba muncul dari perut bumi, kata adikku yang masih kelas 4 SD. Aku sendiri berpikir hidup itu adalah perlombaan. Kapan engkau telat dalam mengambil suatu keputusan yang matang, maka nantilah ketertinggalanmu sedetik setelahnya. Saat kita masih menjadi sesosok plasma nutfah dalam rahim saja, kita berlomba dengan sperma-sperma yang lain menuju sel ovum untuk menjadi pemenang dalam proses fertilisasi dalam tuba fallovi. Hidup itu, wonderful! Kesimpulannya. Tak jarang kau harus bersenang-senang ria di atas penderitaan orang lain, terkadang juga kau harus bersedih-sedih muram ketika orang lain bahagia di atasmu.
***

                Malam temaram, dibalut dengan indahnya bintang-bintang kecil yang tersusun bagaikan kapal Sangkuriang yang megah sebelum akhirnya terbalik akibat ditendangnya. Mataku menjurus ke sebuah rasi bintang. Rasi bintang yang amat cantik, namun juga tersirat cukup menakutkan. Kalajengking. Itu adalah zodiackku, Scorpio. Terkesan sangat pemberani, juga berbisa, begitu kata ibu. Sayangnya, ibu berkata aku tak boleh menjadi seorang sosok yang berbisa. Cukup menjadi individu yang lugu, tidak jago kandang, dan juga diam menghanyutkan dengan segala talentanya. Aku tersenyum jika mengingat kalimat-kalimat emas ibu itu. Tanpa sadar bibirku menyunggingkan sebuah tawa renyah di tengah keheningan malam. Rasi bintang itu mengingatkanku pada nasehat ayah ketika aku menginjak usia 15 tahun. Saat itu ayah dengan bangganya menghadiahiku sebuah kue tart bergambar Jimmy Neutron favoritku sambil mencium keningku dengan penuh kasih sayang. Nad, kamu sekarang sudah beranjak menjadi seorang gadis ayah yang cantik. Tanpa sadar kamu sudah besar rupanya. Doakan ayah semoga ayah masih sempat melihatmu menikah dan menerima gaji pertamamu. Kau tahu sayang, ayah dan ibu akan melakukan apa saja demi kebahagiaanmu di masa depan nanti. Jadilah gadis yang tangguh, tak mudah putus asa. Dan satu lagi, ingat! Ingat bahwa kau terlahir sebagai seorang perempuan. Sudah kodratmu untuk menjaga kehormatanmu sebisa mungkin. Anak gadis itu bagaikan telur di ujung tanduk. Sekali terjatuh, maka telur itu tak mungkin akan kembali utuh seperti semula. Kalau bisa, ayah sarankan agar kamu jangan pacaran dulu. Ayah dan ibu sangat menyayangimu, Nad! Dan bla bla bla bla. JANGAN PACARAN DULU! Aku sempat tertegun kala itu. Aku terdiam seribu bahasa. Untungnya ibu yang mengerti langsung mengalihkan pembicaraan. Dan akhirnya, suasana kembali nyaman seperti semula. Aku terhanyut, tersadar aku merindukan sosok ayah dan berbagai petuahnya.
                Aku masih terduduk diam sambil meratap langit. Bulan yang memancarkan sinar kemilaunya menatap malu-malu dari balik awan putih samar-samar. Lapangan basket yang cukup luas ini mungkin bisa menjadi saksi akan ketentraman hatiku malam ini. Sendiri, hanya ditemani lampu sorot yang menyinari sepertiga dari luas lapangan. Aku masih menatap langit yang dipenuhi bintang nan gemerlapan. Kerlap-kerlip. Indah sekali. Tiba-tiba saja aku tertegun. Sejurus kedua pupil mataku melihat ‘seekor’ bintang cantik yang jatuh, melepaskan dirinya dari kerumunan rasi kelompoknya, kemudian terbang sejauh yang ia bisa sampai tak terlihat lagi batang hidungya. The first time aku melihat sebuah bintang beralih yang begitu cantik. Tak sadar aku mengucapkan sebuah wish dengan desisan yang mungkin hanya bisa didengar oleh jangkrik-jangkrik kecil di antara semak-semak belukar. Ya Allah, aku ingin bertemu dengan ayah! Sontak sebuah cahaya putih kecil muncul tiba-tiba dan amat menyilaukan mata. Cahaya itu menembus iris mataku, mengganti semua warna pelangi menjadi spektrum berwarna putih. Aku buta warna! Semuanya berwarna putih. Ketika kukedipkan mataku sekali lagi, aku mendapati diriku dalam sebuah ruangan putih nan bersih. Di belakangnya terdapat beberapa kuntum bunga mawar merah yang harum semerbak. Baru aku melangkahkan kaki kecilku sekali, aku tiba-tiba saja merasakan ada yang memegang pundakku. Sosok itu kemudian mengelus pelan rambut ikalku. Aku merinding! Siapakah gerangan? Aku takut berbalik. Aku takut dia seorang jahat yang ingin menghancurkan kehormatanku, seperti kata ayah. Namun tak tahu mengapa sosok itu malah memegang kedua pundakku dan membalik badanku sampai 180 derajat. Aku masih menutup mataku. Aku takut, betul-betul takut! Namun sosok itu kemudian berkata dengan sangat pelan dan penuh kelembutan, Nad buka matamu sayang! Ini ayah! Aku tehenyak. Apa iya? Sontak badanku langsung saja gemetaran tak karuan. Rasa gembira berlebih dan tidak percaya campur aduk menjadi satu. Aku berbalik, masih dengan mata tertutup. Ketika kubuka kelopak mataku sekali lagi, AYAHHHHHHHHHHHHHHH!
***
                “Nad, bangun! Seperempat jam lagi pukul tujuh!”
                “Ah? Beneran?” Aku terkejut bukan kepalang ketika dengan tergesa-gesanya Ruth membangunkanku dari mimpi indah yang mengantarku pada keterlambatan pagi ini. Untung saja aku lagi absen shalat hari ini, jika tidak mungkin aku sudah dihukum mencabut ilalang di lapangan volli sebanyak seratus ikat.
                Aku masih linglung. Terbangun dari tempat tidur aku belum bisa menegakkan badanku sebisa mungkin. Tinggallah aku duduk terdiam dengan wajah menunduk. Tanganku masih memeluk erat boneka keroppi hijau yang diberikan Ahmad kepadaku sehari sebelum ia berangkat ke Jakarta. Mataku masih kunang-kunang. Kulirik jam dinding yang terpampang rapi di pojok kamar. Astaga, lima menit lagi pukul tujuh! Sambil mengikat konde rambutku yang tergerai acak-acakan, aku bergegas mengambil handuk di jemuran dan langsung saja masuk ke kamar mandi kosong. Seandainya saja bukan PKn pelajaran pertama hari ini, mungkin aku tidak akan setergesa hari ini. Bukan cuma karena gurunya yang terkenal judes nan killer, namun karena hari ini juga ada seabrek ulangan, termasuk di dalamnya ulangan PKn KD 4.1 dan 4.2 tentang dasar negara dan konstitusi. Aku mandi secepat mungkin. Bisa dibilang lebih parah malahan dibandingkan dengan apa yang disebut mandi kerbau. Setelah mengenakan seragam putih abu-abu yang baru tahun lalu aku kenakan, aku bersegera mungkin mengatur semua buku pelajaran sesuai dengan jadwal hari ini. Sneaker hitamku sudah kukenakan dengan cepat-cepat. Namun,
Tetap saja aku terlambat.
Dan aku dihukum plus tidak ikut ulangan. Menyedihkan.
                Tinggal diam berdiri sendiri di koridor sambil meratapi masuk ke dalam antero kelas yang hening bukan kepalang. Air mataku menetes tak terkira. Bu Wati yang melihatku dari dalam kelas hanya cengar-cengir sambil menatap sinis tubuhku yang tertunduk penuh malu dengan mata super sembab. Baru kali ini aku cengengesan sendiri di depan kelas. Di tengah kesakitan hatiku yang hari ini benar-benar  teriris-iris, aku teringat akan mimpiku semalam. Ayah. Dia memelukku. Erat sekali! Setelah kurang lebih setahun tak pernah lagi berjumpa dengannya, akhirnya Allah mempertemukanku lagi dengan beliau lewat mimpi. Ayah yang sangat bijaksana, sangat penyayang. Masih terekam di memoriku ketika terakhir kali beliau merapikan anak rambutku di rumah sakit, sejam sebelum beliau berpulang. Saat itu tubuhnya benar-benar lemah tak berdaya. Ibu yang berada di sampingnya tak henti-hentinya berucap istighfar dalam-dalam sambil terus menahan air mata yang membuat matanya terus berbinar-binar diterpa lampu rumah sakit yang cukup remang-remang. Sebulan sudah ayah terbaring di sini akibat penyakit lever yang dideritanya. Kejadian itu terus menghantuiku setelah semalam aku bermimpi untuk yang pertama kalinya tentang ayah. Mungkin ayah mulai resah melihat anak gadisnya yang mulai menyeleweng. Aku tahu ayah tak suka dengan statusku yang berpacaran sekarang, tapi kuharap ayah mengerti bahwa aku juga tak terlalu mengutamakan kehadiran Ahmad. Aku hanya ingin hiburan sebelum menghadapi ujian nasional yang akan datang.
Aku masih tertunduk lemas depan pintu kelas. Sepersekian menit kemudian Bu Wati keluar dengan membawa beberapa lembaran kertas jawaban hasil ulangan teman-teman hari ini. Masih dengan tatapan tak acuh, Bu Wati kemudian berkata kepadaku saat melihat mataku yang merah sembab setelah sebelumnya sempat kusembunyikan dari pandangannya yang cukup tajam untuk menjangkau jarak lima kilometer.
                “Nad, kamu bisa ulangan minggu depan. Tapi maaf, sebagai hukumannya kamu harus mengepel kelas hari ini sebersih mungkin.” Baru saja aku hendak mengiyakan (meski berat rasanya), Bu Wati langsung ngeloyor pergi tanpa ba bi bu. Tinggallah aku kembali dengan ekspresi super duper gagal. Teman-teman yang lain hanya menertawaiku pelan.
                “Yang sabar yah, sayang!” Rayu Caca penuh ejek. Aku hanya tersenyum. Sedetik kemudian aku beranjak menuju ke asrama dan mengambil seember air serta pengepel. Capek sekali rasanya. Untunglah teman-teman mengerti dan mengosongkan kelas sehingga aku dengan leluasa mengepel-ngepel ria.
Setengah jam kemudian kelas sudah bersih. Kinclong. Bu Wati yang sempat lewat di koridor kelas hanya memberi acungan jempol kepadaku yang sedang asyik mengelap peluh di pelipis. Rautnya masih sama, mencekam. Aku hanya bisa menghela nafas panjang sambil meneguk segelas air mineral yang sempat dibelikan Ruth tadi pagi. Huft, aku terhenyak. Peluh yang membasahi tubuhku belum mau berdalih untuk berhenti bereksresi melalui pori-pori kecilku. Baru aku ingin menarik kursi yang ada di dekatku, tiba-tiba saja Caca berteriak dari asrama yang jaraknya hanya seratus langkah dari kelas.
                “IBU.............. DEA IBUUUUUUUUUUUU.............................!!!!!” Meski tanpa menggunakan pengeras suara, suara cempreng Caca yang WOW! sudah merebak seantero sekolahan. Para murid yang sedang asyik belajar langsung keluar dari kelas. Para guru yang sedang rehat di kantin juga langsung berlari mendengar teriakan Caca. Histeris sekali.
                “Ada apa, Ca?” Tanya Bu Indar wali asrama kami penuh penasaran. Sontak saja Caca meraih tangan Bu Indar dan ditariknya menuju ke dalam asrama yang mulai riuh karena kerumunan orang. Aku yang penasaran juga ikut-ikutan masuk ke asrama tanpa mengingat bahwa haram jika tidak menanggalkan sepatu di batas teras. Toh, semua orang juga begitu.
                “Astaghfirullahaladzim.... DEA!” Bu Indar juga ikut-ikutan menjerit. Langsung saja ia memopang tubuh Dea yang tergeletak tak berdaya di lantai. Dengan busa putih layaknya orang overdosis yang tak hentinya keluar dari bibir pucatnya, Dea kemudian dibaringkan di atas pembaringannya. Aku secepat kilat memanggil supir sekolah. Sedikit berlari membuatku sadar bahwa aku masih kecapean gara-gara mengepel tadi. Belum sempat aku masuk kembali ke dalam asrama, tiba-tiba saja kepalaku pening nan pusing. Tubuhku oleng. Peluh dingin membasahi hampir seluruh kemeja putihku. Entah seperberapa detik kemudian, aku tak kuasa memopang berat badanku yang sebenarnya ringan hingga akhirnya aku menyungkurkan badanku di atas tanah. Sayup-sayup kulihat Dea yang dimasukkan ke dalam mobil untuk dibawa ke rumah sakit. Hanya itu terakhir kali. Setelahnya aku hanya merasakan tubuhku dibopong ke dalam asrama.
***
                Bintang beralih itu lagi. Cantik sekali! Lebih cantik daripada yang kemarin malam. Baru saja aku hendak mengangkat tanganku untuk make a wish, tiba-tiba sosok ayah datang dan memecah keheningan malam.
                “Jangan begitu, dalam Islam tidak ada yang begitu-begituan” Ayah menegurku dengan penuh senyuman. Aku hanya mengangguk pelan. Selanjutnya ayah meraih kedua tanganku lalu mendudukkan aku di atas pangkuannya. Nyaman sekali.
                “Bagaimana dengan teman kamu, sayang?” Ayah bertanya dengan amat sangat lembut.
                “Siapa, yah? Dea? Dia sudah dibawa ke rumah sakit. Kok ayah tahu?” Aku balik bertanya kepada ayah. Ayah hanya tersenyum sambil mengelus pundakku perlahan.
                “Nad, kamu masih ingat pesan ayah, kan? Itu sebabnya mengapa ayah melarang kamu pacaran.” Ayah tak menjawab, malah balik memberi petuah kepadaku. Kalimat ayah yang sedemikian rupa cukup menyinggung perasaanku. Aku sontak saja bangun dari pangkuan ayah. Aku tak terima!
                “Apa maksud ayah?”
                “Dengarkan saja apa yang ayah katakan. Ini semua sekali lagi ayah tekankan demi kebaikan kamu, Nad!” Nada bicara ayah mulai menaik.
                “Ayah jahat!”
Aku berteriak membantah saat tiba-tiba ayah menghilang tanpa kuketahui. Semua keindahan malam digantikan dengan sinar menyilaukan mata yang putih berbinar.
***
                “Ayah jahat!”
                “Hei Nad, bangun! Pingsan sampe ngigo, gak lucu banget sih. Emangnya kamu juga mau cari sensasi kayak Dea, gitu?” Caca menggertakku saat aku mengingau lagi tentang ayah. Aku hanya terdiam. Kulirik jam di tanganku, baru pukul setengah sepuluh. Setelah kukenakan lagi jilbab segitiga putihku yang sempat ditanggalkan teman-teman saat aku pingsan tadi, aku kemudian bergegas kembali menuju ke kelas. Tak kuhiraukan Caca yang masih bermuka masam karena aku sama sekali tak merespon dan menggubris kemurahan hatinya untuk membangunkanku dengan nada kasar. Kulihat seantero asrama, semua kembali sepi. Tidak ada lagi tanda-tanda keramaian.
                Memasuki ruangan kelas, semua mata tertuju padaku.
                “Lho, Nad! Kirain kamu pigsan tadi!” Aliah-teman sebangku Ruth-menegurku.
                “Udah baikan akunya. Gak mau ketinggalan pelajaran lagi. Eh, Pak Jufri sudah masuk belum? Aku belum kumpul tugas Bio nih!”
                “Belum. Jadi Putri kenapa sekarang?” Aliah lalu mengalihkan pembicaraannya kepada Ruth setelah dengan singkatnya menjawab pertanyaanku.
                “Katanya masuk IGD dianya. Tuh anak nekat juga ternyata.” Ruth menjawab dengan ekspresi meyakinkan.
                “Katanya disuruh nikah yah sama ibunya? Ish, emangnya cowoknya mau tanggung jawab?”
                “Eh, tunggu dulu. Apa sih yang kalian maksud? Aku gak ngerti!” Aku lalu memotong pembicaraan Aliah dan Ruth. Aliah sontak saja berbalik sembilan puluh derajat kepadaku. Ruth yang melihat Aliah hanya bisa cengar-cengir tak karuan.
                “Loh loh, emangnya kamu belum tahu, Nad?” Aliah bertanya penasaran padaku sambil tetap menahan tawanya yang sebentar lagi akan meledak.
                “Belum.” Jawabku singkat, padat, jelas.
                “Haha, Nad Nad. Ketinggalan berita amat sih! Makanya, sekolah di sini itu jangan cuma ngurusin Ahmad sama olimpiade Biologi, urus juga tuh teman-teman seangkatan kamu!” Aliah menimpali. Aku hanya diam menahan geram. Ruth yang melihat ekspresiku kemudian berinisiatif untuk mencairkan suasana.
                “Jadi gini Nad.....”
***
                “Sumpah, aku sayang banget sama Fian!” Dea bercerita dengan menggebu-gebu. Caca yang super jutek hanya mendengar sebelah sambil memainkan BB Dakota terbarunya. Baru saja Dea bercerita tentang Fian, pacar barunya yang sudah dicap jadi kekasih sejatinya, orang yang diceritakan tiba-tiba saja muncul tanpa ada angin ataupun hujan. Sontak saja si Dea yang teramat bahagia loncat-loncat kegirangan. Geregetan.
                “Ca, Fian datang!” Dea memberitahu Caca. Caca yang mendengarnya langsung saja terperanjak. Dengan mata bulatnya yang semakin bulat, Caca kemudian berbisik di telinga Dea.
                “De, beneran kamu mau jalan sama Fian?” Caca bertanya seakan tidak percaya.
                “Iya Ca, ngapain aku bohong! Iya kan, sayang?” Dea yang menjawab pertanyaan Caca lantas merambahkan pertanyaannya kepada Fian. Fian yang ditanya hanya mengangguk dengan menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Caca berkilah. Dalam hatinya ia benar-benar tak mau kalau sahabatnya yang satu ini diajak pelesiran dengan laki-laki yang baru dikenalnya dua minggu lalu itu.
                “De, kamu gak main-main, kan? Entar kalau ditanya sama ibu wali, Dea-nya mana, aku mesti jawab apa!” Caca semakin meyakinkan sahabatnya yang satu ini dengan nada bicara yang semakin menaik seakan berteriak.
                “Udah, gak usah khawatir. Ibu wali gak bakal nyari aku. Toh aku juga bukan kayak Nad yang terkenal sampai seantero-an kota ini. Tenang aja, Caca sayang!” Dea meyakinkan. Caca semakin kaget mendengar kata-kata Dea yang sama sekali tak pernah terlintas di benaknya bahwa ia akan berpikir sedemikian rupa. Caca terdiam. Baru saja ia ingin meraih tangan Dea dan melarangnya ikut dengan Fian, namun Dea lebih cekatan naik ke motor Ninja keluaran terbaru milik sang pujaan hatinya.
                “Deaaaaaaaaaaaaaaa!”
Teman-teman yang juga masih dalam perjalanan pulang kembali ke kampus menyeringai melihat Caca yang berteriak panik. Semuanya mendekat dan bertanya kepada Caca dengan satu pertanyaan: kamu kenapa? Dan dengan lunglainya pula Caca hanya bisa menjawab dengan mengacungkan jari telunjuknya ke arah Dea dan Fian yang bergandengan mesra berdua. Teman-teman yang lain tak bisa berkata-kata. Mereka hanya menganga dan membentuk huruf O di bibir masing-masing.
                A big problem was began!!!!!!!!!” Teriak salah seorang temannya.
                Sesampainya di kampus, tak ada satupun dari mereka yang ingin buka mulut kepada ibu wali bahwa salah seorang dari teman mereka kabur. Mereka mengunci bibir mereka rapat-rapat seakan tak pernah ada suatu hal penting nan mengenaskan yang terjadi. Bukannya mereka bungkam, bukannya mereka tak peduli, tapi mereka takut jika Dea dilaporkan maka masalahnya akan jadi lebih ruwet, lebih rumit. Hingga akhirnya....
                “Kenapa tak satupun dari kalian yang memberi tahu ibu? Apa kalian ingin teman kalian rusak? Ternyata sudah dua malam Dea pergi dan tak ada kabarnya, namun kalian tak pernah menginformasikan hal tersebut. Kalian anggap apa ibu ini, hah?!” Semua murid terdiam menunduk. Tak ada satupun yang berani angkat bicara setelah ibu wali marah besar ketika mengetahui sudah dua hari ini absen Dea Anindita alfa. Caca yang paling merasa bersalah kemudian tiba-tiba jatuh pingsan dari kursinya hingga kepalanya hampir saja terbentur ke lantai. Untung ada Ruth yang masih sempat menimang tubuhnya. Dengan cekatan ibu wali kemudian membantu anak-anak yang lain untuk mengangkat Caca ke asrama. Suasana kelas yang mati langsung saja berotasi drastis 180 derajat. Ibu wali yang masih menahan amarahnya kemudian sibuk mengurus Caca agar siuman secepatnya.
                Setengah jam kemudian Caca baru bisa sadar. Itupun dia masih oleng dan belum bisa berdiri tegak seperti semula. Ibu wali yang sedari tadi menjaganya kemudian menyodorkan seteguk air mineral yang masih dalam kemasan. Caca menolak, lantas hanya berkata,
                “Bu, Caca minta maaf. Caca gak bisa jaga Dea.” Raut pucat Caca semakin memperhening suasana. Ibu wali yang mendengarnya hanya diam, tanpa respon. Sedetik-dua detik ibu wali-pun beranjak keluar dari asrama tanpa mengucapkan sepatah-dua patah kata. Ekspresi kecewanya ternyata masih nampak dari tiap sudut aura wajahnya.
                Malamnya tanpa disangka-sangka Dea yang sedari tadi siang menjadi pembuat onar paling tidak waras se-sekolahan, memunculkan batang hidungnya di tengah ramainya malam Selasa yang dilanda galau bin resah berkepanjangan. Dia memunculkan wujudnya dengan gaya bebal super acak-acakan. Bajunya tak diganti dari kemarin dulu, sendal yang dipakainya penuh dengan kotoran lumpur, dan yang paling mengenaskan, ia pulang dengan aroma khas alkohol yang berbau sangat tajam-membuat teman-temannya tak ada yang ingin mendekatinya seorangpun. Dari rautnya dapat diketahui bahwa ia sangat terpukul dan tersiksa. Tak ada lagi binar-binar lembut yang biasanya memancarkan keindahan tersendiri dari wajahnya yang mulus tak berjerawat. Matanya yang dulu sendu menawan kini merah sembab. Akibat kebanyakan air mata mungkin.
Caca yang melihat Dea dengan keadaan sedemikian rupa tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa berdehem singkat dan membalikkan pandangannya sehingga ia berbicara namun bagai berbicara dengan tembok, “Melapor sama ibu wali.”, jelas Caca, singkat. Dea yang diberitahu hal tersebut hanya bisa manggut-manggut sambil bersungut-sungut ke rumah ibu wali. Dalam hati Caca meringis melihat sahabatnya jadi tak karuan, namun ia sendiri sadar bahwa ini semua juga demi kebaikannya. Tanpa sadar terbersit tekad dalam hatinya, aku ingin menunggunya dan menanyakan apa yang telah terjadi padanya.
                Satu setengah jam lamanya Caca menunggu Dea dengan hati berdebar-debar. Caca tahu, pastinya omelan, ocehan, nasehat dan petuah dari ibu wali sudah terbungkus menjadi satu paket parcel untuk Dea. Namun yang paling ingin diketahui Caca, apa sebenarnya yang terjadi dengan Dea? Apa Dea sudah? Oh, tidak. Tidak! Caca bergumam sendiri.
Dea memasuki ruangan asrama dengan wajah menunduk. Terlihat tantenya yang dari kota telah pulang dengan mengendarai mobil Avanza putihnya setelah sempat ikut dipanggil meeting bareng ibu wali. Dea tak berkilah. Hanya terus jalan menuju ke wc. Tak dihiraukannya teman-teman yang sedari tadi menatap tajam akan kehadirannya, termasuk Caca. Tak lama kemudian terdengar suara air mengalir dan shower juga ikut dinyalakan. Oh, Dea mandi rupanya.
                Sekeluar Dea dari wc, Caca langsung saja menuju ke arah Dea dan ingin mempertanyakan segala hal yang telah berkecamuk di dalam hatinya. Namun, ketika ia baru menyebut namanya, Dea langsung saja mengambil bantal guling dan terlelap dengan pulasnya. Caca juga pastinya tak enak jika ingin membangunkan orang yang kecapaian. Maka jadilah ia semakin sengsara dengan pelbagai macam pertanyaan yang telah mengiang-ngiang penuh sesak di kepalanya.
Keesokan paginya...
                Dea masih terlelap dalam mimpi indahnya. Caca yang sudah siap duluan berangkat ke sekolah kemudian menghampiri pembaringan Caca di sudut kanan asrama. Caca memegang kening Dea. Hangat. Satu-dua detik kemudian diselimutinya sahabat yang paling diakrabinya ini. Setelah itu ia mempercepat langkahnya menuju ke kelas berhubung bel telah berbunyi. Tak lupa disingkapnya anak poni Dea kemudian dibisikinya dalam-dalam, get well soon, De!
                Hingga akhirnya semua murid dikagetkan oleh teriakan Caca. Dea yang baru pulang semalam ternyata dengan nekatnya mengkonsumsi parfum Izzi miliknya hingga hampir dua pertiganya. Jadilah ia bagaikan orang overdosis obat atau orang keracunan dengan busa putih yang tak hentinya meremukkan fungsi dari sebagian sel-sel dalam perutnya. Caca yang kala itu begitu sedih tak kuasa menahan air mata yang sudah benar-benar ingin membuncah. Setelah Dea dibawa ke rumah sakit, Caca tak hentinya meratapi sepucuk kertas putih kecil milik Dea yang tergeletak di lantai. Dan ternyata, itu adalah secarik potongan kecil dari buku diarynya.
Ma, Dea sayang sama Fian. Saking sayangnya, Dea sampai terlalu bodoh memberikan kesucian Dea padanya. Tapi Ma, Dea tidak mau menikah! Dea masih mau melanjutkan sekolah! Dea gak mau kawin sedini ini! DEA GAK MAU!!!!!!!!!!!!!
                Apa yang ditakutkan Caca ternyata benar adanya. Dea sudah melepaskan kesuciannya.

Masih teringat kemarin ketika canda dan tawa Dea masih merekah ke udara. Ketika ia tersenyum bangga mendapatkan juara kelas pertama. Ketika ia diberi hadiah android keluaran terbaru oleh mamanya. Ketika ia bercanda penuh riang dengan Caca dan teman-teman yang lain, dan ketika hatinya dag dig dug tak karuan setelah ditembak oleh Fian sang buaya darat itu. Kini semua mimpi-mimpi indahnya telah sirna. Dia sudah rusak. Betul-betul rusak. Yang bisa dinantinya hanya keikhlasan Fian untuk bertanggung jawab atas fetus yang telah tumbuh di dalam uterus alias rahimnya. DASAR LAKI-LAKI HINA! Caca berteriak sekuat yang ia bisa.
***
                “Oh, jadi gitu?” Aku bertanya kepada Aliah penuh antusias.
                “Iya, si Dea itu kabur pas kamu ada acara lomba English Camp yang 3 hari itu” Ruth memperjelas.
                “Jadi, dia bakal nikah?” Aku bertanya lagi. Ruth yang melihatku sangat penasaran hanya tersenyum sendiri sambil garuk-garuk kepala.
                “Katanya tanggal 3 bulan depan.” Aliah menjawab dengan mulut penuh keripik pisang seharga lima ratus rupiahan.
                “Udah dekat, dong! Tinggal 2 minggu.” Aku menambahkan. Baru saja Aliah ingin angkat bicara lagi, Bu Salsa guru kesenian kami sudah masuk mengisi jam kedua yang kosong.
                “Anak-anak!” Bu Salsa memulai perbincangan.
                “Iya, Bu!” Semua teman-teman yang menjadi penghuni kelas sekilas menjawab dengan kompak.
                “Kalian tahu, kalian ini sedang dalam proses matang-matangnya. Kalian ini sedang elok-eloknya dipandang. Ibu tahu, kalian semua sedang dilanda asmara. Sudah masa-masa kalian untuk merasakan apa yang namanya pacaran. Ibu juga pernah seperti kalian. Ibu juga pernah pacaran, tujuh tahun malah. Tapi ingat, kalian pacaran mesti punya batas juga. Jangan sampai kalian mau disentuh oleh makhluk ceroboh nan bengal yang bernama laki-laki. Jangan sampai kalian terjerembap dalam hal penuh nikmat yan berakhir dengan sengsara layaknya yang telah dialami oleh teman kalian. Kalian bagaikan bunga yang yang lagi mekar-mekarnya, nak! Bayangkan jika ada seekor kumbang yang menghisap sari bunga kalian. Kira-kira apa yang terjadi?” Bu Salsa kemudian bertanya berandai-andai setelah menjelaskan panjang lebar.
                “Mati, Bu!” Jawab kami, masih kompak.
                “Ya, layu dan mati. Dan selanjutnya? Tak ada lagi orang yang tertarik dengan bunga yang sudah layu. Tak ada lagi orang yang mau dengan bunga yang sudah tak sedap dipandang. Ingat, nak! Jangan lupakan masa depan kalian! Kalian masih harus meraih mimpi kalian yang setinggi langit. Kalian bagaikan bintang nak. Hitunglah berapa banyak bintang yang ada di langit. Banyak sekali, kan? Jika kalian disuruh memilih, mana bintang favorit kalian, pastinya kalian memilih yang paling terang. Tak ada orang yang menyukai bintang yang redup. Maka dari itu, jagalah diri kalian, nak! Jaga kesucian kalian, jaga kehormatan kalian. Ini semua demi masa depan kalian!” Bu Salsa ternyata masih memperpanjang penjelasannya. Dan ternyata pula, banyak sekali teman-teman yang terharu-biru mendengarkan petuah dari Bu Salsa ini. Tak dapat dipungkiri, sampai aku sendiri sampai meneteskan air mata. Dan satu yang terlintas di pikiranku, Ahmad.
                Ya, Ahmad. Sempat terpikirkan olehku apakah dia memiliki perwatakan sebejat Fian apa tidak. Yang kutahu, setengah tahun jalan dengannya dia tak pernah macam-macam kepadaku. Mungkin karena aku orangnya tak mau diajak jalan atau semacamnya. Tapi, belum tentu juga kan dia tak memiliki pemikiran bengal sedemikian rupa? Inilah yang semakin mengacaukan pikiranku. Sampai-sampai Ruth dan Aliah hanya senyam-senyum sendiri melihat tingkahku yang sedari tadi memegang kepala, sok pusing. Sampai Bu Salsa keluar, tak ada yang dijelaskannya kecuali menyangkut masalah Dea. Akupun juga turut mendengarkan dengan seksama. Jadi anak SMA ternyata tidak segampang dan seindah yang aku kira. Banyak sekali hal-hal WOW! yang termaktub semenjak aku mendudukkan bukuku di bangku sekolah menengah atas ini. Salah satunya belajar mengenai arti kehidupan, mengenai kodrat seorang perempuan, mengenai keras dan berlikunya segala macam hal di dalam mengarungi samudera hidup ini.
                Ketika aku akan mengambil buku catatan Fisikaku di dalam tas, tiba-tiba Wiwi memanggilku dari halaman kelas.
                “Kenapa, Wi?” Tanyaku pada Wiwi.
                “Anu, Nad. Ada telepon dari ibu kamu. Katanya mau bicara sama kamu. Cepetan gih ke rumah ibu wali.” Wiwi mengarahkanku. Akupun bersegera mungkin berlari ke rumah ibu wali. Sesampai di sana kulihat ibu wali sedang sibuk bercakap ria lewat telepon. Bicara dengan ibu mungkin.
                “Nad, ini ibu kamu!” ibu wali menyodorkan handphonenya kepadaku.
Ibu         : Assalamu alaikum. Ini Nad?
Nad        : Waalaikum salam. Iya, Bu. Ini Nad.
Ibu         : Gini sayang, ibu mau ngajak kamu pulang dulu.
Nad        : Untuk apa, ibu? Emangnya ada acara?
Ibu         : Gak ada kok sayang. Ibu cuma mau ngajak kamu ziarah ke makam ayah. Sehari aja.
Nad        : Wah, tumben-tumbenan nih ibu manggil aku. Kok bisa, ibu?
Ibu         : Tidak, cuma semalam ibu bermimpi ayah datang menemui ibu.
Nad        : Mimpinya gimana ibu? (tanyaku penuh antusias)
Ibu         : Ibu ngelihat bintang jatuh, trus tiba-tiba saja ayah datang. Dia lalu menanyakan pada ibu
                  bagaimana keadaan kamu sama Imam. Ya, ibu bilang kamu dan adik kamu baik-baik aja.
Nad        : Gak ada adegan mesra-mesraannya gitu? (aku bercanda dan tertawa cengengesan)
Ibu         : Wah, kamu ini sembarangan aja. Udah, ibu jemput sebentar sudah dzuhur, yah?
Nad        : Iya, ibuku sayang. Eits, izinin dulu sama ibu wali, ibu!
Ibu         : Iya, sayang. Sip! Ok. Sudah dulu, yah. Ibu sibuk nih. Assalamu alaikum.
Nad        : Waalaikum salam.
Aku kemudian mengembalikan handphone ibu wali lalu pamitan dan meminta izin untuk pulang ke rumah. Setelahnya aku lalu bergegas ke kamar untuk packing barang sebelum ibu datang. Bintang jatuh? Aku teringat percakapan ibu di telepon tadi. Mengapa setiap aku bermimpi tentang ayah selalu saja ada bintang jatuh alias bintang beralih? Dan lucunya, itu juga terjadi kepada ibu. Apa ayah adalah bintang jatuh tersebut? Ah, pemikiran dangkal. Mungkin ini cuma pertanda akan kedatangan ayah saja. Mungkin juga ayah lagi kangen-kangenan sama keluarganya. Aku tertawa sendiri dalam hati. Aku kangen ayah!
                Setelah dijemput oleh ibu, aku lalu pamitan dengan ibu wali dan teman-teman. Saat naik ke atas mobil, masih sempat saja aku mendengar cerita  tentang Dea. Dan sekali lagi, itu bukan cuma aku yang mendengar tapi ibu juga. Sontak saja ibu yang terkena virus penasaran tingkat tinggi bertanya padaku.
                “Nad, emangnya teman kamu kenapa?” Tanya ibu sambil menyetir mobil dengan amat sangat hati-hati.
                “Loh, ibu dengar cerita dari teman-teman? Gini, Bu. Ada teman aku. Dea namanya. Dia mau nikah tanggal 3 bulan depan.” Aku mulai menjelaskan.
                “Kok bisa?” Setelah ibu berbicara sedemikian rupa, aku lalu menceritakan semuanya dari A sampai Z. Ibu yang mendengarnya hanya manggut-manggut sambil sesekali melafadzkan Astaghfirullahaldzim dengan nada datar.
                “Itulah sayang, mengapa ayahmu dulu melarang kamu untuk pacaran. Ayahmu khawatir kamu akan berakhir layaknya seperti teman kamu itu. Dia cantik, dia baik, dia pintar, tapi karena nafsu hilanglah semua kelebihan-kelebihan yang dimilkinya.” Ibu juga mulai bertutur penuh petuah. Aku sejenak menundukkan kepalaku sambil berdehem ringan. Kutatap handphone yang ada di tanganku. Ahmad menelepon! Dengan cekatan ku-reject telepon darinya sebelum nada getarnya sampai di kuping ibu.
                “Emangnya kamu sudah punya pacar, sayang?” Pertanyaan ibu sejenak menghantam pikiranku. Apa yang harus kulakukkan? Jujur? TIDAK MUNGKIN!
                “Hm.....” Jawabanku yang membuat ibu hanya tersenyum pelan. Ibu tak meneruskan. Hanya fokus dengan jalanan yang terlentang rapi di depannya. Sejenak aku bungkam. Lalu kuambil handphoneku dan kutulis dengan cepat-cepat: MAD, KITA PUTUS. ALASANNYA ENTARAN SETELAH AKU SAMPAI DI RUMAH. Ibu yang melihatku memencet tombol hp dengan amat sangat cepat hanya berbatuk-batuk ria. Aku masih bungkam. Tak ingin berkata apa-apa. Semoga saja keputusan yang kuambil membuahkan maslahat kepadaku, Ya Allah!
***
                Aku terduduk diam di balkon rumah sambil bersandar ke dinding. Dengan secangkir cokelat hangat, aku kemudian memainkan handphoneku, ke atas ke bawah, ke kanan ke kiri. Malam ini langit lagi terang-terangnya. Para bintang gemerlapan dengan indahnya. Suara jangkrik bersatu padu membentuk sebuah harmoni yang indah. Bulan juga sedang bulat-purnama, membuat siapa saja yang masih diberi nikmat oleh Allah untuk menatap langit malam ini tanpa sadar akan mengucapkan Subhanallah dengan sendirinya. Baru terlintas di ingatanku, setelah aku meminta putus dengan Ahmad, Ahmad tak pernah lagi merespon smsku ataupun sekedar say hello denganku. Mungkin dia marah kepadaku. Tapi bukan salahku kan kalau aku meminta putus dengannya? Toh sesuai dengan kata ayah dan ibu ini semua juga demi kebaikan aku, dan pastinya juga akan berdampak positif kepada diri Ahmad sendiri. Aku baru tersadar bahwa ternyata memang pacaran lebih banyak mudharatnya daripada baiknya. Ahmad yang kukenal tak pernah egoisan, kini menampakkan keasliannya setelah aku meminta break dengannya. Ternyata ayah benar. Perjalananku masih panjang. Belum saatnya aku berdalih untuk menemukan cinta sejati di usia sedini ini. Aku terkekeh, menatap pelan indahnya sang raja malam sambil menyeruput cokelat panas seduhanku yang mulai dingin.
                Bintang beralih, lagi. Setelah membentuk sebuah rasi, ‘seekor’ bintang kembali terjatuh dari kumpulannya menciptakan suasana nan gemerlapan di malam yang sarat akan kesyahduan. Tiba-tiba saja kulihat sosok ayah di langit malam yang hitam sedang twinkle-twinkle. Ayah? Aku bertanya dalam hati. Kulihat ia tersenyum padaku sambil mengacungkan kedua jempol tangannya. Sungguh, bangganya aku. Kemudian tersenyum balik padanya sambil melambaikan tangan. Entahlah ini mimpi apa tidak. Yang kutahu aku tak mau menampar pipiku untuk memastikan bahwa ini adalah nyata karena bisa saja ini salah, dan sebaliknya jika ini mimpi aku tak mau mengacaukan dengan bangun cepat-cepat. Ayah masih tersenyum.
                Bintang beralih. Pesan pribadi dari ayah untuk anak gadisnya tercinta.
“GADIS ITU IBARAT BUNGA YANG SEDANG MEKAR-MEKARNYA, JANGAN SAMPAI DIHINGGAPI KUMBANG SEBELUM IA LAYU DAN MATI DENGAN SENDIRINYA. GADIS ITU IBARAT BUAH MANGGA YANG LAGI MASAK-MASAKNYA, JANGAN SAMPAI SETELAH MENGGIURKANNYA HILANG, HABIS MANIS SEPAH DIBUANG. GADIS ITU IBARAT TELUR DI UJUNG TANDUK, SEKALI JATUH JANGAN HARAP AKAN KEMBALI UTUH SEPERTI SEMULA.”

IMMIM,06 Maret 2013-Auditorium.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tinggalkan jejak kamu dengan setidaknya mengeposkan sebuah komentar :)