
Berbicara tentang anak manusia, pastinya tak pernah terlepas dari apa yang namanya cinta. Satu hal tersulit yang selalu menimbulkan satu, dua, tiga hingga seribu penafsiran atau hipotesa yang bisa dibilang semuanya benar. Katanya cinta itu indah, benar juga. Katanya cinta itu bikin kita terbang, benar juga. Katanya cinta itu cuma di awal yang WOW!, benar juga. Katanya cinta itu cuma bikin sakit, benar juga. Banyak banyak banyak sekali pernyataan yang membenarkan bahwa cinta itu plin-plan. Protes? Coba pikir secara sistematis dan logikamatis. Jangankan orang pacaran, suami istri yang telah mengikat janji setia saja masih ada yang kepikiran untuk mencari hati yang lain. Benar, tidak? Berdasarkan persepsi abal-abal ini, maka jangan heran kalau aku berinisiatif untuk membuat catatan kecil tentang perjalanan cinta super-duper ‘kuker’ku kali ini. Ya, tentunya setelah mengecap bagaimana pahit kecutnya suatu permen lolipop bernama CINTA.
Sebagai seorang lulusan pesantren di jenjang sekolah menengah pertama, tentunya banyak sekali kekhilafan yang pernah appeared dengan sendirinya. Masa-masa suram yang bisa dibilang mampu men-cap diriku sebagai manusia purba meganthropus paleo javanicus yang hidup di kurang lebih 6500 tahun kemudian setelah lahirnya Zaman Archaekum. Tak berakal, bodoh, dan hanya mengikuti hawa nafsu. Kadang aku hanya bisa tertawa sendiri mengingat cerita tempo doeloe yang benar-benar bikin ngakak. Ikut-ikutan dengan teman-teman yang tiap saatnya bercerita mesra dengan ‘kekasih hatinya’ melalui handphone ataupun chatingan di Facebook (Maklum, jaman SMP dulu BBM belum menjadi konsumtif mayoritas). Beberapa bulan kenal dan berteman dengan anak Putra, akhirnya rasa ingin tahu itu muncul. Layaknya yang dikatakan Hukum Archimedes, zat cair selalu mencari tempat yang lebih rendah. Aku bagaikan daun baru yang masih sangat hijau yang tak tahu mengapa langsung terjun dan terjatuh ke dalam arus sungai. Mengalir dengan ikhlasnya mengikuti alur sungai yang jernih. Akupun mulai coba-coba dengan ‘hal haram’ yang menjadi undang-undang ‘45 dalam keluargaku. Aku berpacaran, di usia yang masih di bawah standar. Penaikan kelas VIII.
Yang namanya anak kecil, kata main-main dalam menjalin hubungan tentunya takkan pernah bisa terlepas. Alhasil, tak cukup 10 hari dengan dalih ingin belajar baik-baik dulu, aku akhirnya memutuskan mengucapkan kata PUTUS dari bibir mungilku yang masih belum berdosa *ehh? Aku sendiri tak tahu mengapa dengan lincahnya lidahku meliuk indah tanpa mesti dipaksa. Lucunya, setelah memutuskan hal tersebut, hidupku tetap fine-fine saja. Namun jujur, baru terasa sekarang kalau aku ini memang benar-benar orang yang sangat JAHAT. Dengan santainya aku tertawa di atas penderitaan orang lain. Jahat karena setengah mati tertawa melihat dia yang berkali-kali meminta untuk kembali jalan denganku lagi kala itu. Bukannya ge-er, tapi memang ku ketahui bahwa dia belum bisa melepasku, dan mungkin hal tersebut masih terpatri sampai sekarang jika melihat tingkah dan sikapnya terhadapku. Huahh, jika memutar kembali roda masa lalu itu dalam otakku, perasaan ingin tertawa terbahak-bahak sesekali meracuni pikiranku. Masih kecil, tapi sudah belajar cinta-cinta! Ero’ mami ni pa’bunting! *kata nenekku di kampung.
Cinta bagaikan cappucino, paling enak diminum pada saat panas tapi resikonya cepat habis. Kalau gak mau cepat habis, mesti diminum pelan-pelan tapi resikonya cepat dingin. Jadi, kesimpulannya cinta itu memang serba salah (adapted from Heart 2 Heart’s film). Jika kita ingin mencoba mencintai satu orang saja, pasti ada hati yang lain yang mulai mengintai. Jika kita ingin mencintai keduanya, pasti ada yang bakal tersiksa. Cinta itu rumit, serumit ketika kamu memilih mana yang duluan ada, ayam apa telur ayam xD. Cinta itu melewati batas pikiran manusia, membuat terkadang banyak orang kepikiran kalau cinta itu sebenarnya nggak ada. Cinta itu lugu, saking lugunya banyak cinta yang berakhir munafik. Baik itu munafik kepada diri sendiri, ataupun kepada sang pujangga yang berada di sampingnya. Dan hal itu astaghfirullah-nya, pernah kucoba saat mulai merasakan manisnya lolipop cinta.
Selang setengah tahun kemudian, kebodohanku mulai muncul lagi bagai raksasa jelek yang baru terjaga dari tidurnya. Tanpa berpikir panjang kali lebar, aku dengan gampangnya mengiyakan seorang teman di sana yang meminta aku menjadi pacarnya. 12 Februari 2011, tanggal di mana aku mulai menjalani pacaran dengannya di hari pertama. Dan tanpa mengingat realita yang ada, orang yang aku pacari waktu itu merupakan teman seangkatan sang mantan! Hadooooh! :/ . Inilah salah satu hal yang membuat aku merasa begitu munafik. Aku memutuskan orang yang begitu mencintaiku ‘dulu’ dengan alasan ingin belajar baik-baik, dan sekarang aku menerima orang tanpa memikirkan bahwa aku pernah berkata sedemikan rupa. Benar-benar!
Berselang 3 bulan kemudian aku dan dia akhirnya berakhir. AKU KENA KARMA! Aku diputuskan dengan alasan yang sama, ingin belajar baik-baik dulu. Saat itulah aku mulai merasakan kecutnya permen cinta. Setelah sempat jalan ke MP dengannya dan nonton film Kuntilanak Kesurupan di TO, tiga hari sesudahnya hubungan kami lampu merah. Padahal bisa dibilang rasa sayang itu baru muncul setelah tiga bulan jalan dengan si dia, Mr.R. Saat itu aku benar-benar frustasi, belum lagi handphoneku di sita oleh pembinaku setelah sempat dilempar bersama dengan charger-nya. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Sampai sekarang aku masih menyimpan fotoku berdua dengannya saat berpegangan tangan di ruang tunggu Bioskop Twenty One. Suatu dosa besar yang dulu tak sempat terpikirkan sebelumnya. Saking dangkalnya pikiranku! Saat itu aku mulai mendapat arti, bahwa yang namanya KARMA itu belum mati. Hukum alam masih hidup sampai sekarang. Dan aku tak hentinya meminta maaf dalam hati, sambil sesekali tersenyum kecut mengingat roda masa lalu yang terus berputar ke depan. Permen loli cintaku masih tersisa setengahnya.
Tak lama berlalu, saat angkatan kami akan mengadakan bazaar masih di Mall Panakkukang, aku jadian dengan seorang sahabat yang sudah kukenal baik semenjak menginjak bangku SMP. Dan gilanya lagi, sahabatku itu juga adalah teman dari kedua mantanku! Pertanyaannya, mengapa aku sebodoh ini? Jawabannya simple, karena aku memang telah menyukainya semenjak pertama kali aku mengenalnya. He is my first love, and nobody knows I hide this feel alone. Lucu juga. Namun selama aku jalan dengannya tak ada hal yang cukup menarik. Berkali-kali handphoneku selalu hampir disita di rumah. Dan di saat ini pula akhirnya kedokku terbongkar pula. Bagaikan Detektif Conan Part II, mamaku sembunyi-sembunyi menyita handphoneku dan didapatilah semua pesan-pesan alias SMS-SMS dengan sang pujaan hati *wuekk :p. Walhasil, jadilah aku kena ceramah panjang kali lebar bertubi-tubi. Sampai-sampai ayahku mengeluarkan sebuah resolusi yang berbunyi; CEWEK MURAHAN ITU KALAU ADA PACARNYA! Hah? Gak salah? Tidak pernah dan tidak akan pernah salah, menurut ayahku. Saat dapat ceramah alias nasehat sedemikian rupa, air mataku tak terasa berlinang dengan sendirinya. Plong, aku drop. Hp-ku di ambil sampai-sampai saat berlibur ke Toraja saja aku hanya bisa ‘egal’ (ekspresi gagal) tanpa memegang handphone. Hubunganku, tergantung.
Kata mama, cinta itu cuma bikin kamu kena yang namanya virus ‘ketergantungandeficiency’. Katanya lagi, sekolah kamu gak bakal jadi-jadi kalau kerja kamu cuma pacaran. Beruntung katanya karena kamu still stay alive in the first rank ‘til now. Kalau tidak? Mama cuma mau lihat kamu bahagia, mama cuma mau lihat kamu sukses nanti di masa depan. Mama nggak mau kamu menyesal, dan bla bla bla bla. Hatiku terasa teriris-iris. Mama memberikan ceramah yang sungguh sangat menyentuh. Saking menyentuhnya aku sampai-sampai tertidur! *hek?
Setelah kembali masuk sekolah, berkat bantuan teman-teman akhirnya aku bisa kembali kontekan dengan my beloved first love. Tapi sayangnya, keesokannya kami bersama-sama memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami. Tanpa keterpaksaan, tanpa rasa sakit hati. Kami sama-sama sadar, bahwa ‘persahabatan itu lebih baik daripada menjalani hubungan yang namanya pacaran’. Apalagi, mengingat kami sudah menginjak kelas 3 SMP. Dan akhirnya perjalanan cinta kami berakhir bahagia. Cie cie.. semenjak itu aku benar-benar menikmati masa singleku. Belajar tanpa harus terganggu, ranking tetap terus meningkat, kegiatan sekolah berjalan lancar, lomba-lomba alhamdulillah membuahkan hasil yang memungkinkan. Aku benar-benar puas dengan nilai yang kudapatkan. Permen loli cinta yang kumiliki dulu sudah habis. Tak ada lagi perasaan sembarangan yang mencuri pikiranku. I’m free. Sungguh aku merasakan betapa baiknya Tuhan terhadapku. Persiapan untuk UN-ku pun berjalan lancar. Memang benar kata mama. Sampai selesai ujian sekolah, aku bebas tanpa beban.
Cinta itu masih bikin plin-plan. Saat aku sedang menikmati indahnya masa-masa tanpa keterkaitan, permen lolipop cinta yang kusangka sudah habis itu tiba-tiba muncul dalam tas ‘hatiku’ lagi. Kala itu aku betul-betul mewanti-wanti diriku untuk tidak terjatuh dalam lubang yang sama for the second time. Aku memaksakan kehendakku untuk menghalangi pikiranku untuk menjauhkan otakku dari segala hal atau urusan yang berhubungan dengan loli cinta itu. Kusimpan baik-baik loli cinta itu dalam kantong tasku yang tersembunyi dengan harapan bahwa aku sendiri ntar bisa lupa dengan sendirinya. Tapi hal-hal aneh perlahan muncul. Aku tak bisa melupakan loli itu, loli yang lebih besar dari sebelumnya. Dan lucunya, permen loli itu tiba-tiba saja langsung berada tepat di hadapanku. Aku yang tidak bisa melakukan apa-apa lagi hanya bisa menerima kenyataan yang ada dan menghadapinya sedikit demi sedikit.
Dia muncul. Seseorang yang berbeda
Berawal dari temanku yang mengenalkan aku pada kenalannya di pondok lain. Ya, pastinya di masa-masa seperti ini bukan tidak mungkin untuk mencari teman ‘kerja sama’ untuk UAN nanti. Hingga akhirnya aku berkenalan dengan ITU. Ya, ITU! Dia sosok yang sangat lembut terhadapku, dan dari sikapnya kulihat dia begitu berusaha untuk mengerti dengan keadaanku. Dari pertama kenalan, aku mulai menyisihkan sedikit perhatian padanya, namun sesuai prinsip awal, aku masih tetap tidak mau untuk menjalin hubungan yang lebih jauh lagi. Tapi yang namanya cinta itu dari mata turun ke hati (kalau saya dari sms turun ke hati), lama-lama manisnya loli cinta itu makin terasa. Diam-diam secara tak sadar, CINTA yang sudah kutanam dalam-dalam dulu itu, kini kugali dengan tanganku sendiri. Bagaikan orang kesurupan yang menggali kuburan orang mati yang telah meninggal 9 bulan yang lalu. Haha, aku sering sekali menertawaiku diriku sendiri apabila mengingat hal super-duper bodoh ini. Menyembunyikan rasa cinta yang mulai tumbuh. Eits, tapi sebelumnya aku belum jujur! Jangan ribut yah, aku sempat jatuh hati pada temannya -_- . Dasar manusia yang dikasih hati minta jantung, jelas-jelas sudah ada orang yang perhatian sekali kepadamu, dengan gampangnya kau menyayangi orang lain. Itulah salah satu bukti keplin-planan cinta yang kurasakan, membuat permen loli cintaku semakin manis dan berwarna rasanya. Namun lama-kelamaan rasa itu kutepis. Sambil tetap sembunyi di balik tirai bahwa seseorang di sana, si ITU, mulai mencuri perhatianku. Hatiku.
Ada pernyataan bahwa cinta tak harus memiliki. Setuju? Itu bagiku. Tapi bagi si ITU, itu 100% salah. Tak tahu siapa duluan yang bikin panas keadaan di sini, aku memutuskan untuk menerimanya dengan syarat hal itu terjadi sehabis UN. Lucu juga diriku ini. Padahal sebulan sebelumnya gaya sms-an dan telponan kami sudah tak kurang dari orang pacaran. Teman-teman malah biasa ketawa-ketiwi menyaksikan aku yang senyam-senyum sendiri ketika membalas sms ataupun berteriak histeris ketika sedang telponan. Air terus mengalir hingga akhirnya UN-pun berakhir dengan amat sukses, bagiku. Bagi teman-teman yang lain pasti juga demikian.
Setelah kurang lebih sebulan pedekate, akhirnya kami jadian pada tanggal 21 Mei 2012. Saat itu kami sangat terbuka satu sama lain. Apa yang kuketahui, pasti diketahuinya. Apa yang diketahuinya pasti kuketahui pula. Aku mulai dekat dengan keluarganya, utamanya kedua adiknya. Aku mulai dikenal oleh orangtuanya, meskipun aku sendiri belum berani memberitahukan tentangnya kepada orangtuaku. Mungkin jika itu terjadi, aku sudah digantung baik-baik di pohon mangga depan rumahku -_-.
Namun,
Aku mesti belajar mengikhlaskan ketika dia memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya di Jakarta. Padahal sebelumnya yang kuketahui bahwa dia lulus di sekolah unggulan kabupaten Pangkep ini dan berhasil masuk kelas akselerasinya. Aku meringis, menangis dalam hati. Sebisanya aku tetap kuat, meskipun bening di pelupuk mata tak hentinya selalu ingin menetes. Ditambah lagi ketika abangku mengeluarkan persepsi; ‘tidak usah terlalu ngarep, Nad! Di Jakarta sana, banyak sekali cewek tinggi semampai nan putih bersih. Mending kamu santai saja, sebelum nantinya kamu terluka duluan’. Begitu kata abangku. Semenjak itu semangatku mulai ciut. Aku mulai berusaha melupakan semua tentang ITU, meskipun aku tahu aku tak bisa setelah menjalani berbagai macam pengalaman ‘WOW’ saat berdua dengannya dulu.
Keputusan tersulit ketika kau sudah tak bisa untuk bertahan tetapi kau terlalu cinta untuk melepaskan, hingga akhirnya kau tersakiti dengan sendirinya. Selama 5 bulan dia di Jakarta, hubungan kami tergantung. Dia jarang memberi kabar, jika ada kesempatan chatingan sama dia, cara bicaranyapun tak seakrab dulu. Dia menjadi orang yang lebih calm down, padahal aku lebih suka dia yang dulu, yang blak-blakan.
Setelah menahan sakit selama 7 bulan, akhirnya dia meminta break. Aku shock bukan kepalang. Bukan begitunya, tapi dulu ketika aku meminta putus dia masih ragu. Dan ketika aku mulai belajar ikhlas menerima keadannya yang mulai berubah terhadapku, dia memutuskan untuk melepaskan diri dari segala tindak-tandukku. AKU SAKIT HATI! Ingin rasanya aku memberontak, namun semua sia-sia saja. Tak ada gunanya. Dia telah memutuskan, dan aku harus menerimanya. Tidak mugkin aku tetap mempertahankan status yang orangnya sendiri sudah tak ikhlas. Jadi, mau tak mau aku harus ikhlas. Single, kita bertemu lagi di penghujung tahun 2012.
Memasuki tahun 2013, permen loli cintaku berangsur-angsur habis dengan sendirinya. Kecut sekali yang kurasakan. Meskipun sepenggal rasa yang berubah jadi benci itu masih ada dan menemaniku bertahun baruan di rumah, aku tetap harus kuat. Hingga akhirnya aku sadar, mengapa aku harus mengharapkan orang yang sudah tak ingin bergantung padaku lagi? Jujur, aku masih rindu dengan kata-kata sayangnya, masih rindu mendengar celotehan abal-abalnya, masih rindu menasehati dan marah-marah ‘manja’ padanya. Apalagi, kulihat tampangnya sekarang makin acak-acakan. Namun, apa boleh dikata. Cinta tak bisa dipaksakan. Jika dipaksakan, itu bukan cinta namanya, tetapi rasa suka yang melewati batas. Dia sempat berpesan padaku untuk belajar baik-baik, mengingat dia tahu bahwa aku bercita-cita ingin menjadi dokter. Ya, aku akan belajar baik-baik. Termasuk belajar melupakanmu juga *meskipun aku tak bisa*
Permen loli cintaku telah habis. Masih ada, setangkai. Namun aku yaikin lama-kelamaan itu semua akan menepis dengan sendirinya.
Satu hal yang baru kuketahui, bahwa filsafat tentang cinta ini ternyata bukan cinta yang sesungguhnya, kata abangku. Semua itu hanya rasa suka yang disalah-artikan. Remaja seusia kita memang pantas puber, tetapi untuk mengerti cinta itu belum saatnya. Kelak kita akan mengetahui cinta itu dengan sendirinya, ketika kesuksesan telah menemani dan datang ke rumah untuk meminang kita. Tentang pacar pertamaku, Mr.R, my first love, dan si ITU yang masih menghantui otakku, ku tahu mereka semua juga belum mengerti cinta. Yang mereka rasakan hanya rasa suka dan simpati. Cinta itu rahasia Tuhan, plin-plannya pun hanya Tuhan yang tahu. Dan sekarang aku memutuskan untuk serius dalam belajar dulu, mengingat semester II akan menentukan nasib selanjutnya. Aku sudah mulai besar, kata mama. Harus berpikiran realistis. Kesempatan hanya datang satu kali, dan aku tak mau untuk menyia-nyiakan kesempatan tersebut.
Ini, hanya seluet dari kisah permen loliku. Bagaimana dengan kamu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
tinggalkan jejak kamu dengan setidaknya mengeposkan sebuah komentar :)