Jingga Biru Langit

Aku masih di sini.
Meratapi deru-deru debu yang beterbangan.
Menapaki napak tilas jejak nafasku.
Aku masih di sini.
Meratapi senja, yang terkadang meluluhkan semua egoku.
Tentang cinta, kasih, dan kedamaian di bumi.
 
Senja ini aku kembali bertemu dengan sosokmu.
Sosok yang selama ini selalu menjadi keluhanku terhadap Tuhan
di setiap akhiran sujudku.
Senja ini aku kembali bersua dengan siluetmu.
Siluet yang selama ini senantiasa menghantui fatamorgana masa depanku
di setiap lamunan bebasku.
Senja ini aku kembali mendengar suara seoktafmu.
Suara yang selama ini memercikkan elektris-elektris semangat
di setiap langkahku menuju gerbang kebahagiaan
Kelak

Jingga biru langit.
Entah apa maksud Tuhan mempertemukan kita berdua.
Mempertemukan kita di ujung hari yang remang.
Mempertemukan kita di tepi kesunyian malam.
Mempertemukan kita di waktu ini.
Saat matahari mulai tersingkir oleh kerlap-kerlip bintang gemintang

Jingga biru langit.
Entah apa maksud bumi pernah mempersatukan kita berdua.
Mempersatukan kita dalam keadaan yang sama-sama haus akan ilmu dan kecakapan hidup.
Mempersatukan kita dalam situasi yang sama-sama rumit.
Mempersatukan kita dalam kondisi yang sama-sama labil.
Saat siang mengaku menyerah akan keagungan malam.

Jingga biru langit.
Ah, sudahlah! Mengapa kau terus merusak saraf-saraf minim otakku,
Meleburkan segala kewarasan yang seharusnya berjalan searah dengan nalarku
Dan memudarkan beratus romansa merah dalam tulusnya hatiku

Jingga biru langit.
Biarkan aku mundur.
Ini terlalu naif bagiku.
Jingga biru langit.
Jangan biarkan aku mundur.
Karena mundur
Ternyata lebih naif lagi bagiku.
                                                                                                               IMMIM PUTRI, 21 Januari 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tinggalkan jejak kamu dengan setidaknya mengeposkan sebuah komentar :)