Jingga Biru Langit

Aku masih di sini.
Meratapi deru-deru debu yang beterbangan.
Menapaki napak tilas jejak nafasku.
Aku masih di sini.
Meratapi senja, yang terkadang meluluhkan semua egoku.
Tentang cinta, kasih, dan kedamaian di bumi.

Cinta, What Is It?

Cinta itu apa?
Cinta itu yang dijual di pasar? Harganya berapa? Oh, atau cinta itu yang dibuang tiap kali kita masuk toilet? Ahh, shit.
Selama ini pandagan teoritis tentang cinta memang tak jauh beda dengan sudut pandang, dengan cara berpikirku. Ketika dua orang yang berbeda dipertemukan Allah dalam satu rasa yang anak muda sekarang sering menyebutnya dengan ‘nyaman’, apakah itu telah termasuk dalam definisi cinta berdasarkan rumus-rumus kehidupan yang ada? 
Apa cinta itu seperti rumus fisika yang ketika dua muatan berbeda jenis didekatkan maka akan saling tarik menarik? Atau rumus biologi yang ketika sperma dan ovum yang masing-masing haploid (n) jika bertemu akan menghasilkan fetus dengan kombinasi diploid (2n)? Atau bahkan semenarik kimia di mana reaksi elektrolisis selalu melibatkan dua pasangan berbeda, katoda dan anoda yang nantinya bakal saling melengkapi dan menghasilkan e-sel?
ENTAHLAH!
Sampai saat inipun aku masih gila dengan yang namanya cinta. Bukan aku gila dengan cintanya, namun aku gila mengingat seberapa rumitnya definisi cinta yang banyak orang ‘katanya’ telah merasakannya. Ya, banyak orang telah merasakannya. Lalu, bagaimana dengan aku?
DEG! Darahku seakan berhenti berdesir.