Cinta itu apa?
Cinta itu yang dijual di pasar?
Harganya berapa? Oh, atau cinta itu yang dibuang tiap kali kita masuk toilet?
Ahh, shit.
Selama ini pandagan teoritis
tentang cinta memang tak jauh beda dengan sudut pandang, dengan cara
berpikirku. Ketika dua orang yang berbeda dipertemukan Allah dalam satu rasa
yang anak muda sekarang sering menyebutnya dengan ‘nyaman’, apakah itu telah termasuk
dalam definisi cinta berdasarkan rumus-rumus kehidupan yang ada?
Apa cinta itu seperti rumus
fisika yang ketika dua muatan berbeda jenis didekatkan maka akan saling tarik
menarik? Atau rumus biologi yang ketika sperma dan ovum yang masing-masing haploid
(n) jika bertemu akan menghasilkan fetus dengan kombinasi diploid (2n)? Atau
bahkan semenarik kimia di mana reaksi elektrolisis selalu melibatkan dua
pasangan berbeda, katoda dan anoda yang nantinya bakal saling melengkapi dan
menghasilkan e-sel?
ENTAHLAH!
Sampai saat inipun aku masih gila
dengan yang namanya cinta. Bukan aku gila dengan cintanya, namun aku gila
mengingat seberapa rumitnya definisi cinta yang banyak orang ‘katanya’ telah
merasakannya. Ya, banyak orang telah merasakannya. Lalu, bagaimana dengan aku?
DEG! Darahku seakan berhenti berdesir.