Lebaranku Menguap

“Sudahlah, Mawar! Kita sudah tak bisa bersatu lagi!”
    “Maksud kakak apa?!
“Saya tahu kamu sudah selingkuh dengan teman lama kamu itu!”
    “Kak, tidak mungkin saya selingkuh! Saya masih punya iman! Saya juga sekarang lagi hamil tua, Kak. Kakak tega tinggalkan saya dengan keadaan seperti ini!”
    “Kenapa tidak?! Toh, yang ada di perut kamu itu juga bukan anak aku!”
    “Kak..............”
    Sayup-sayup kudengar pertengkaran hebat kedua orangtuaku malam ini. Dari semua pertikaian hebat sebelumnya, mungkin kali ini  adalah yang terhebat dari yang terhebat. Sepersekian menit berikutnya yang kudengar hanya tangis merana ibu dan bunyi pecahan beling yang memang sengaja dihempaskan bapak ke lantai.  Malam ini, amarah bapak telah mencapai ketinggian seratus ribu kilometer di atas permukaan laut. Ya, menurutku.


    Kusampirkan sajadah cokelat yang kukenakan di kursi meja belajarku sembari menanggalkan mukena merah hati yang baru kemarin dibelikan nenek. Ya, malam ini malam ke-28 daripada bulan Ramadhan. Tak lebih dari dua malam lagi semua umat muslim sedunia akan merayakan hari kemenangan, Ied’ Mubarak pada 1 Syawal nanti. Hal-hal penuh keceriaan seperti acara bermain petasan, konvoi kendaraan keliling kota, sampai acara sungkeman selepas shalat adalah hal paling impossible yang kurasakan semenjak lima tahun terakhir ini. Umurku baru sepuluh tahun, namun setengah dari umurku telah tersisihkan untuk berbagai macam tangis, teriakan, dan ronta kemarahan yang mengangkasa. Alih-alih saling berjabat tangan dan memohon maaf atas segala khilaf dan dosa, bapak dan ibu malah pisah ranjang dan saling mengutuki dalam kamarnya masing-masing satu sama lain.
    Aku terdiam. Menunggu dan tetap menunggu. Aku bukannya menunggu kapan pertikaian ini berakhir, namun aku hanya menunggu kapan kedua orangtuaku yang masih berumur kepala tiga dapat rehat sejenak hingga terdengar suara pintu kamar yang dibanting. Bunyi pintu yang dibanting itu sendiri merupakan tanda bahwa gencatan senjata telah dimulai untuk beberapa jam. Aku sering sekali tersenyum sendiri meratapi nasib keluargaku yang tak kunjung membaik. Melihat bapak yang marah-marah setiap hari, ibu yang menangis terus sepanjang malam, dan aku sendiri yang tak pernah berani keluar kamar adalah panorama tersendiri yang tak pernah lekat dari keluargaku. Kadang aku berpikir, untung aku tak punya seorang atau beberapa orang adik sehingga mereka tak perlu merasakan kesepian sepertiku. Namun aku baru sadar, tak lama lagi adik bayi dalam perut buncit ibu akan lahir. Aku tak pernah senang ingin mengatakan hal tersebut, mengatakan bahwa aku akan punya adik baru yang mungkin saja cantik seperti ibu dan aku yang memiliki lesung pipi dengan kedalaman semeter ataupun tampan setampan bapak yag beralis tebal. Aku tak ingin melihat adikku turut merasakan penderitaan yang sama denganku. Cukup aku saja. Namun kali ini Allah mungkin tak berpihak padaku.
    Aku melangkahkan kakiku ke luar kamar setelah sepuluh menit beradu pandang dengan boneka beruang cokelatku di belakang pintu. Aman! Sahutku pada boneka beruang cokelatku yang kuberi nama Bery, bak tentara Hamas yang tengah siap siaga di lorong rahasia bawah tanah. Berjaga-jaga dengan kedatangan tentara zionis Israel sewaktu-waktu. Seandainya malam ini aku dan Bery mengenakan baju loreng-loreng, mungkin aku sudah bisa membuat film dokumenter dengan judul Pray For Gaza versi Keluarga ‘Tak Bahagia’ Tata. Namun mungkin itu keterlaluan. Ya, menurut daya nalar gadis berumur sepuluh tahunan yang mesti dewasa sebelum waktunya.
    Dengan berjalan jingkrak-jingkrak, aku melangkahkan kaki kecilku menuju dapur. Aku haus sekali. Selepas menunaikan shalat tarwih walau hanya delapan rakaat, rasanya tenaga itu bagai terkuras habis. Dengan sangat pelan aku mengisi gelas kecil di tanganku dengan air mineral dari dalam galon. Jika sedang termenung begini, aku biasanya melambungkan jauh pikiranku bahkan sampai ke luar daya ‘nyentrik’ sistem sarafku sendiri. Aku berpikir, kalau saja ibu dan bapak itu akurnya seperti amplop dengan prangko, mungkin mereka bakal lengket-lengket terus. Kalau saja ibu dan bapak semesra lebah dengan bunga, mungkin hanya ada kasih sayang yang tercipta di dalam rumah sederhana ini. Kalau saja ibu dan bapak.............
Tiba-tiba gelas itu terlepas dari peganganku. Tanganku basah karena keringat hingga seketika meluncurlah gelas itu dengan indah.
    PRAK!
    Atau bagaimanalah bunyinya, gelas itu kemudian menghantam lantai dengan suara nyaring yang amat keras. Aku sendiri tertegun, kaget setengah mati. Aku baru ingat kata orang-orang, kalau ada benda kaca yang jatuh itu merupakan pertanda akan datangnya hal yang buruk. Aku semakin keringat dingin. Kucoba menenangkan perasaanku dengan memeluk Bery seerat mungkin, namun hatiku masih saja gusar bukan kepalang. Akupun menunduk, mencoba memungut pecahan beling sebelum ibu dan bapak keluar dari kamar mereka dan marah sejadi-jadinya.
    Namun aku terlambat!
    Bapak sudah keluar kamar duluan dan memelototiku dengan wajah yang sangar. Betul-betul sangar.
    “Tata! Berani kamu bikin keributan malam ini! Kamu tidak tahu kalau bapak lagi tidur!” Seru bapak dengan mata merah. Aku menunduk, takut. Ya Allah.
    “Sini kamu! Sini!” Bapak mengangkat tubuhku lalu menyeretku ke dalam kamar mandi. Aku mencoba meronta, namun tenaga bapak lebih kuat dibanding aku yang baru berumur sepuluh tahun.
“Jangan, Bapak! Jangan! Tata janji tidak akan nakal lagi!” Pintaku dengan sangat memelas. Namun kulihat malam ini bapak beringas sekali. Seakan semua kebaikan yang ada di hatinya turut meluruh dalam amarahnya.
    “Bapak tidak pernah didik kamu jadi anak durhaka! Sini kamu!” Bapak menjewer telingaku dengan kerasnya. Ia menunjukiku dengan jari telunjuknya, seakan ingin menelan dan melumatku bulat-bulat. Gayung berisi penuh air telah siap di tangan kirinya.
    Baru saja bapak akan melayangkan gayung itu untuk memandikanku di malam yang dingin sekali ini, ibu langsung datang dan melerai tindakan bapak.
    “Kak, berhenti! Ini anak kita juga!” Teriak ibu sambil melerai tubuhku dengan tubuhnya sendiri.
“Makanya, ajar baik-baik anak kamu itu. Jangan tahunya menyusahkan orangtua saja!” Bapak membalas teriakan ibu. Sejenak keheningan yang mungkin baru kurasakan lima belas menit itu kembali berubah panas sepanas-panasnya magma gunung berapi yang paling panas.
“Kak, sadar! Selama ini kakak yang tidak pernah mendidik Tata! Lihat Tata, sekarang dia kurang pergaulan! Tidak punya teman! Tata begitu gara-gara kakak!” Ibu berbalik menunjuki bapak dengan kasarnya. Ya Allah.... aku semakin takut.
    “Mawar! Lancang kamu bicara seperti itu sama saya! Selama ini saya yang menyekolahkan Tata! Sementara kamu? Kerja kamu hanya selingkuh dengan Rahmat keparat itu!” Rambut-rambut kecil bapak berdiri. Seberkas gelombang elektromagnetik mungkin sudah menyetrum akson-akson sarafnya hingga menimbulkan impuls sedemikian rupa. Air mataku mulai menetes tak henti-hentinya sementara ibu masih tegang menatap lamat-lamat wajah menyeramkan bapak malam ini.
“Kak, jangan sembarang bicara ya! Saya.....
“CUKUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUP!” Belum sempat ibu menyelesaikan kalimatnya, aku langsung berteriak sekencang mungkin. Bapak berbalik memandangiku. Memandangi wajah anak sulungnya yang mungkin menurutnya betul-betul durhaka ini. Sementara ibu di sampingku, menangis sesenggukan. Secara perlahan kulepas genggaman tangan ibu. Sepersekian detik kemudian aku berlari meninggalkan ibu dan bapak yang diam melongo di dalam kamar mandi. Kugotong Bery dengan sekuat tenagaku. Aku berlari. Berlari tanpa arah. Berlari meninggalkan rumah, berlari meninggalkan ibu dan bapak yang tak hentinya membuatku muak dengan segala pertengkaran mereka. Berlari, sampai penat di dadaku terasa sirna.
Namun, ketika sesak yang kurasa mulai menguap, tiba-tiba ada sesuatu yang menghujam tubuhku. Ia mematahkan tulangku, meremukkan persendianku, membuat jantungku berdegup dengan amat kencangnya kemudian tiba-tiba terhenti seketika. Kulihat dengan samar-samar Bery terjatuh dari pelukanku, lalu dari kejauhan ia menatapku dengan sangat sedihnya. Tak sadar aku melihatnya menangis. Ya, menangis! Bery boneka beruang cokelatku menangis.
***
    ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR. LAA ILAAHA ILLALLAH HUWALLAHU AKBAR. ALLAHU AKBAR WALILLAA HILHAM.
    ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR. LAA ILAAHA ILLALLAH HUWALLAHU AKBAR. ALLAHU AKBAR WALILLAA HILHAM.
    Suara gema takbir bersahut-sahutan di pagi yang sangat ceria itu. Matahari terbit dengan malu-malu menampakkan cahaya keemasan yang sungguh menawan hati. Kokok ayam saling adu menyambut datangnya hari kemenangan yang sangat fitrah ini. Embun-embun pagi sejenak begitu mnyejukkan suasana, menghantarkan hati ini pada sebuah filosofi keajaiban Tuhan yang begitu fitri, di hari penuh canda tawa ini.
    1 Syawal. Lebaran akhirnya tiba.
    Dari kejauhan kulihat dua orang berseragam hitam-hitam menuju ke arahku. Satu orang laki-laki, satunya perempuan. Mungkin mereka adalah pasangan suami-istri. Namun, tak lama kemudian aku mulai mengenali kedua sosok ini. Itu ibu dan bapak!
    Betapa bahagianya melihat mereka berdua saling berangkulan di hari yang fitri nian ini.  Kali pertamanya semenjak lima tahun yang lalu aku kembali melihat kemesraan dan kasih sayang di antara kedua orangtuaku yang paling kusayangi. Aku tersenyum. Lalu mereka duduk di hadapanku sambil menyentuh pelan kepalaku.
    “Tata, maafkan ibu. Seandainya malam itu bapak dan ibu bisa menahan kamu, mungkin tidak bakal begini jadinya. Mungkin mobil itu tak sempat menabrak kamu.” Ibu bercerita kepadaku dengan tangis yang jatuh setitik demi setitik. Bapak, yang berjongkok di samping ibu hanya mengelus pelan punggung ibu. Ibu semakin menangis, dan tangisan ibu membuat aku juga turut terlena dalam suatu kekhidmatan sebuah ketulusan mendalam.
    “Selamat Hari Raya Idul Fitri, Ibu, Bapak! Tata sayaaaaaaaang sekali sama kalian berdua!” Bisikku. Sedetik kemudian ibu tersenyum, menanggapi kalimat manja anak sepuluh tahunan sepertiku. Ibu kemudian menyemaikan beberapa bunga di atas tubuhku yang terlentang dibalut onggokan tanah yang masih merah. Ingin sekali aku memeluk mereka.
    “Mawar, ayo kita pulang!” Bapak menyeru lembut kepada ibu. Aduh, senangnya! Ibu kemudian mengangguk lalu lamat-lamat membaca Surah Al-Fatihah sampai habis ayat ke tujuh. Setelah itu, mereka berdua beranjak pergi, dengan kembali berangkulan.
    “Ibu, bapak, jangan marahan lagi. Tata bahagia sekali melihat kalian berdua sudah akur seperti ini.  Meskipun Tata sudah tidak berada di tengah kalian lagi, semoga kalian tetap sayang sama Tata. Jangan lupain Tata. Salam Tata buat adik bayi, ya, Ibu. Sekali lagi selamat lebaran, Bapak, Ibu!”
    Awan berjalan berarak. Mentari pagi itu sempat mengedipkan matanya kepadaku, lalu kembali sibuk menyinari alam yang begitu indah ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tinggalkan jejak kamu dengan setidaknya mengeposkan sebuah komentar :)