Pesan 'Seekor' bintang Beralih

              Hidup itu perjuangan, kata ibu. Semua jenjang kehidupan yang kita lewati tak pernah lepas dari apa yang namanya pengorbanan. Hidup itu adalah roda berporos, kata ayah. Dia takkan berhenti berputar sampai sang empunya mengakhiri sendiri cerita novel melankolis kehidupannya. Kadang menukik ke bawah, kadang mendaki ke atas. Hidup itu dunia fantasi, bagaikan panggung sandiwara sang bidadari yang turun dari kahyangan ataupun si Hulk hijau yang tiba-tiba muncul dari perut bumi, kata adikku yang masih kelas 4 SD. Aku sendiri berpikir hidup itu adalah perlombaan. Kapan engkau telat dalam mengambil suatu keputusan yang matang, maka nantilah ketertinggalanmu sedetik setelahnya. Saat kita masih menjadi sesosok plasma nutfah dalam rahim saja, kita berlomba dengan sperma-sperma yang lain menuju sel ovum untuk menjadi pemenang dalam proses fertilisasi dalam tuba fallovi. Hidup itu, wonderful! Kesimpulannya. Tak jarang kau harus bersenang-senang ria di atas penderitaan orang lain, terkadang juga kau harus bersedih-sedih muram ketika orang lain bahagia di atasmu.
***

Love's Lollypop -_-


       Berbicara tentang anak manusia, pastinya tak pernah terlepas dari apa yang namanya cinta. Satu hal tersulit yang selalu menimbulkan satu, dua, tiga hingga seribu penafsiran atau hipotesa yang bisa dibilang semuanya benar. Katanya cinta itu indah, benar juga. Katanya cinta itu bikin kita terbang, benar juga. Katanya cinta itu cuma di awal yang WOW!, benar juga. Katanya cinta itu cuma bikin sakit, benar juga. Banyak banyak banyak sekali pernyataan yang membenarkan bahwa cinta itu plin-plan. Protes? Coba pikir secara sistematis dan logikamatis. Jangankan orang pacaran, suami istri yang telah mengikat janji setia saja masih ada yang kepikiran untuk mencari hati yang lain. Benar, tidak? Berdasarkan persepsi abal-abal ini, maka jangan heran kalau aku berinisiatif untuk membuat catatan kecil tentang perjalanan cinta super-duper ‘kuker’ku kali ini. Ya, tentunya setelah mengecap bagaimana pahit kecutnya suatu permen lolipop bernama CINTA.

DULU 'sixth note xD'

 
Jika kau pernah mencintai dan menerima aku apa adanya
Apa susahnya untuk komitmen dan konsisten dengan hal sekecil itu?
Jika kau pernah berjanji untuk menjadi seorang pahlawan
Apa susahnya untuk tetap melanjutkan perjuangan tersebut?
Jika kau pernah luruh dalam suatu rasa akan cinta pertamamu
Apa susahnya untuk terus larut dalam keluruhan indah tersebut?

Untuk Ibu

‘Alkisah ada seorang pemuda yang datang kepada gurunya, kemudian mengeluh tentang semua kejelekan ibunya. Mendengar hal itu sang guru lalu memerintahkan pemuda tersebut untuk menuliskan semua kejelekan ibunya di secarik kertas. Lalu ditulislah semua keburukan dan kejelekan ibunya tersebut, mulai dari ibunya sok tahu, pendengki, pendedam, suka menghina, dan bla bla bla. Setelah itu sang guru kemudian memerintahkan pemuda tersebut untuk menulis semua kebaikan ibunya. Tak lama berpikir, sang pemuda-pun mulai menulis lagi; sewaktu di perut ibu, sembilan bulan aku tak henti-hentinya menghisap darah ibu, saat itu beliau sangat lelah. Jangankan berjalan, berbaring-pun terasa sakit bahkan bernafas-pun sulit, dan seterusnya, dan sebagainya, dan lain-lain.
Lama menulis dengan penuh penghayatan, tak terasa berlinanglah air matanya. Ia mulai sadar bahwa apapun bentuk kejelekan ibunya tersebut, itu tak akan sebanding dengan apa yang telah ibunya lakukan terhadapnya.’

Petuah Cinta Sepucuk Angpau Merah


ü Cinta itu macam musik yang indah. Bedanya, cinta sejati akan membuatmu tetap menari meskipun musiknya sudah lama berhenti.

ü Cinta sejati laksana sungai besar. Mengalir terus ke hilir tidak pernah berhenti, semakin lama semakin besar sungainya, karena semakin lama semakin banyak anak sungai perasaan yang bertemu.

ü Cinta sejati adalah perjalanan; tidak pernah memiliki ujung, tujuan, apalagi hanya sekedar muara. Air di laut akan menguap, menjadi hujan, turun di gunung-gunung tinggi, kembali menjadi ribuan sungai perasaan, lantas menyatu menjadi sungai besar layaknya Sungai Kapuas maupun Sungai Saddang. Siklus itu tak pernah berhenti, begitu pula dengan cinta.