Nasi Goreng Safira


Pukul 23.30 WIB.

      Tek tek tek ... Suara mesin ketik itu masih terdengar saat aku terbangun untuk melaksanakan kebiasaanku tiap malamnya, buang air kecil. Sejenak aku tertegun menatapi Safira, teman se-kosanku yang datang jauh-jauh dari Gorontalo itu masih saja sibuk mengerjakan artikel yang tak tahu juga untuk apa dikerjakannya. Aku memelas. Lalu menghembuskan nafasku ringan. Lama mengamatinya dengan seksama membuat rasa ingin buang air kecilku hilang. Akupun tersadar, astaga... aku kan mau kencing! Buat apa aku tinggal melongo di sini! . Setelah tersadar, dengan badan yang masih linglung dibuai mimpi indah yang kuharap masih continue, aku lalu beranjak menuju kamar kecil.
***
      “Tata, bangun! Sudah jam enam! Jangan bilang kamu gak shalat subuh lagi! Tata.. Tata..!” Safira meggoyang-goyangkan badanku.
      “Ahh? Kebakaran? Mana kebakaran?”
      “Aduh, siapa juga sih Ta yang bilang kebakaran! Yang ada jodoh kamu kebakar dimakan matahari yang sudah naik tuh! Cepetan shalatnya! Dosa lho.” Safira ‘menceramahiku’ dengan sedikit tersenyum. Aku hanya cengengesan dibuatnya. Sontak pipiku memerah karena malu. Safira lalu mengusap ubun-ubunku. Dia layaknya bundaku, tapi usianya malah setahun lebih muda dariku.
      “Iya deh, Fir. Makasih udah ngebangunin aku.”
      “Ok! Aku mandi duluan yah, soalnya aku ada kuliah pagi hari ini.”
      “Ya ya ya. Mandi deh sana!”
Safira dengan sigap mengambil handuk hijaunya yang ada di jemuran. Lalu aku cepat-cepat mengambil air wudhu dan sesegera mungkin shalat sebelum dosaku yang sudah numpuk bak Gunung Krakatau, bartambah lagi pagi ini karena aku telat shalat lagi, untuk yang kesekian kalinya.

Pukul 07.00 WIB.

      Harum nasi goreng sudah tercium begitu menggiurkannya. Aku sudah tak sabaran menuju meja makan. Dipikiranku pasti yang buat ini nasi Mpok Rumina, karena siapa lagi yang bakal masak pagi-pagi begini. Safira? Ah, dia saja gak pernah sarapan di rumah. Della? Ah, anak yang malasnya hampir sekelas denganku itu kan gak tahu masak. Namun, perkiraanku itu ternyata salah total!
      “Waduh, Mpok Ina baik banget deh. Masih pagi-pagi gini udah nyiapin sarapan super lezat!” Kataku pada Mpok Rumina cengengesan, setelah sepiring nasi goreng Jakarta sudah menjadi penghuni perut buncitku.
      “Hehe, kamu salah kaprah, Ta! Yang bikin ini bukan Mpok, tapi Safira!” Perkataan Mpok Rumina sempat menghujam jantungku (uhm, lebay!). Aku gak percaya, sumpah! Masalahnya aku gak pernah ngerasain masakan buatannya Safira. Biasanya kan yang masak Mpok Ina !
      “Beneran Mpok? Mpok kagak bo’ong kan?” Tanyaku masih tidak percaya.
      “Ngapain juga Mpok mau bohong sama kalian. Benar kan, Della?” Mpok lalu memandangi Della dengan tatapan serius.
      “Iye Ta. Si Safira tadi yang bikin. Asli, gue lihat pake mata kepala sendiri!” Kata Della, meyakinkan. Masih dengan gaya super lebaynya.
Aku terdiam. Dengan mulut terkunci aku lalu meneguk segelas air dan dengan lincahnya mengambil tas selempang yang sudah dari tadi menunggu untuk diambil.
      “Aku berangkat dulu yah!” Kataku sambil berjalan menuju tempat pemberhentianku selanjutnya, rak sepatu.
      “Eh Ta, lo tau nggak si Safira tadi pergi ame siape?”
      “Nggak, so itu juga bukan urusan aku, kan?”
      “Lo saleh, jelas-jelas itu urusan lo!”
      “Maksud lo?” Pernyataan Della sentak membuat aku hampir mati kata.
      “Dia tadi dijemput sama Arsyil! Gebetan lo yang lo bilang lebih manis bin cakep daripada pangerannye putri salju!” Ah?
      “Se..se..serius lo?”
      “Ngapain juga gue bo’ong. Gak ada gunanya kali!”
Aku terdiam. Mataku membelalak. When I see your face... tiba-tiba handphoneku berdering. Belum sempat kuangkat, ternyata lagunya Bruno Mars-Just The Way You Are sudah berhenti duluan. Kuperiksa panggilanku, One Missed Call: Ibeng. Ah, Ibeng lagi Ibeng lagi! Ini anak kapan sih berhenti ngegangguin gue! (eh, kok logatku malah ikut-ikutan sama Della sih!).
      “Sopo, Ta?” Tanya Della.
      “Siapa lagi, kalau bukan si narsis Ibeng!” Jawabku dengan nada kesal.
      “Ceilah, gak papa kali! Mending lo sma Ibeng Ta daripada lo berharap terus sama yang namanye Arsyil Rahmat! Orang yang jelas-jelas dah milih si Safire daripada lo!”
      “Ahh, cerewet lo!” Nada bicaraku semakin kesal.
      “Ish, bilang aja lo cemburu. Kentara tuh!” Kata Della ketus lalu ngeloyor pergi.
Aku masih tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Apa iya? Apa iya kalau Arsyil benar-benar jadian sama Safira? Ah, kesempatan aku hilang dong. Padahal sudah dua tahun ini aku memendam perasaan itu sama Arsyil. Yang dipilihnya Safira lagi! Dia kan lebih daripada saudara aku sendiri! Apa dunia benar-benar dah mau kiamat, ya? Atau udah gejala kali! Gak tau ah! Yang penting ini hari GUE PATAH HATI! Hati ini kayak dibelah jadi tujuh bagian. Sadis.

Pukul 08.30 WIB. Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

      Aku masih tak berhenti memikirkan hubungan Safira dan Arsyil. Setahuku, Safira itu orangnya suci, gak mau lagi sama dengan yang namanya pacaran. Semenjak tuh calon dokter marah besar sama mantan satu-satunya waktu SMA (mereka putus gara-gara mantannya Safira yang namanya Gilang dengan lancangnya melancarkan sebuah ciuman di pipi Safira, membuat Safira shock berat dan juga langsung melancarkan sebuah tamparan yang sakitnya aduhai), dia gak mau lagi berhubungan sama yang namanya COWOK. Alasan paling sistematisnya: “Aku mau kuliah baik-baik dulu.”, sesuai dengan hipotesaku sebelumnya.
      Sumpah, dari tiga dosen yang masuk ini hari, gak ada sedikitpun pelajarannya yang masuk di otak aku. Masa sih, Arsyil suka sama Safira? Dan masa sih si Safira tega begitu sama aku? Padahal kan aku sudah sering curhat sama dia tiap malam kalau aku suka sama Arsyil! Ah, hidup ini gak adil sama aku! Kenapa mesti Arsyil? Kenapa mesti Safira? Pikiran iniyang terus merajai otakku hingga aku tak pernah memerhatikan perkataan dosen, sedikitpun! Aku juga sadar, aku salah. Mestinya aku tak boleh begitu. Mestinya aku harus merhatiin penjelasannya dosen-dosen yang dengan murah hatinya ingin membagi ilmunya denganku, dengan kami semua. Apalagi mengingat penyusunan skripsi tinggal menunggu minggu lagi. Tapi aku juga gak bisa! Oh Tuhan, tolong bantu aku! Give me a solution, without a. I can’t  living my life if I always thinking about him, and her! God, please.! Aku memohon dalam hati.
***
      Hari-hari selanjutnya aku melihat Arsyil selalu menjemput Safira tiap paginya, meskipun Safira tak punya kuliah pagi. Mereka juga selalu pulang barengan, dan itu selalu habis maghrib. Benar-benar aku melihat Ssafira sudah berubah. Dia sudah gak seperti dulu lagi. Sampai dikosan, pasti langsung tidur. Padahal biasanya, dia selalu bercanda dulu sama aku dan Della sambil menanyakan pelajaran apa yang kurang kami ketahui. Sekarang? Apa ini yang namanya dimabuk cinta? Terus terang aku cemburu berat! Namun aku tak berani mengatakan hal ini. Lagian, sudah beberapa hari ini juga aku tak pernah bicara sama dia. Bukannya aku marah, tapi dia tak pernah punya waktu untuk bicara denganku, apalagi Della. Dia pergi pagi sebelum kami sarapan dan sepulangnya dia langsung mengunci dirinya di kamar. Dan alasannya selalu sama tiap malam, aku kecapean. Aku mau tidur dulu yah! Dia juga sudah jarang membangunkanku untuk shalat subuh. Aku gak tau apa yang terjadi sama dia belakangan ini. Ahh, bukan urusanku aku! Biarin aja dia mau apa. Soal Arsyil aku sudah no comment! Aku gak mau lagi diganggu sama hal-hal sepele kayak gitu. Aku mau fokus sama kuliahku! Aku mau fokus sama skripsiku!
***
Pukul 02.15 WIB

      Seperti biasa, aku terbangun lagi malam ini. Bukan cuma sekedar mau buang air kecil, tapi aku juga terbangun mendengar suara mesin ketik, lagi. Tumben Safira belum tidur larut malam begini. Biasanya, meskipun begadang dia pasti tidurnya tidak pernah lewat dari pukul 12. Dihantui rasa penasaran yang tinggi, aku lalu nekat menahan kencingku hanya untuk ingin mengetahui apa yang dikerjakan Safira malam ini. Dengan mengendap-endap kayak kucing, aku kemudian melangkahkan kaki kecilku menuju kamar Safira. Aku lalu memperhatikan dengan seksama apa yang sedang diketik Safira, oh novel ternyata. Namun, setelah ku perhatikan kertas di sampingnya, astaga!
      “Aku kebelet pipis!” Sontak aku berteriak lalu berlari menuju kamar kecil, membuat Safira tersadar bahwa aku sudah berada di belakangnya dari tadi.
      “Tata?!”

      Uh, lega rasanya habis pipis. Aku lalu sesegera mungkin menuju kamar Safira. Dia melihatku, lalu langsung ingin mengunci kamarnya, namun aku masih sempat menahannya.
      “Fir, tunggu! Jangan ditutup!” Paksaku.
      “Nggak Ta, kamu nggak usah tahu!” Dia dengan kuatnya menarik gagang pintu, namun aku masih lebih kuat dibanding dia. Akhirnya Safira menyerah, lalu mempersilahkan aku memasuki kamarnya dengan wajah yang agak ketakutan.
      “Fir, apa maksud semua ini?” Tanyaku sambil memegang kuat beberapa lembar kertas di tanganku.
      “Ta, kamu jangan marah dulu! Aku gak pernah mau khianatin kamu, aku gak pernah kepikiran kayak gitu!”
      “Trus apa!” Aku membentak Safira, yang membuat dia semakin menangis.
      “Ta.. aku.. aku ngelakuin semua ini, su.. supaya aku masih bisa ngelanjutin kuliah aku.”
      “Maksud kamu?”
      “Aku bikin skripsi ini buat Arsyil, bu.. bukan karena aku pacaran sama Arsyil. Tapi tapi aku dibayar!” Jawabnya, penuh tangis.
Prak !
Pintu didorong  dengan amat kerasnya membuat aku dan Safira tersentak kaget.
      “Apa-apaan sih kamu!” Aku membentak orang yang membanting pintu tadi dan ternyata itu adalah Della.
      “Eh, dasar lo ya, Ta. Kapan sih lo bisa berhenti marah kagak jelas kayak gitu!” Della balik membentakki yang membuat mataku terbelalak.
      “ Udah, lo gak usah ikut campur!’
      “Hello? Gue gak ingat campur? Nyadar dikit dong, gue juga penghuni rumah sini. Lagian gue lebih tau semua kronologinya dibandingin lo, Tata sok tahu bin judes!” Della mengumpat.
      “Ah? Kamu tahu, Del?” Kali ini Safira yang angkat bicara.
      “Ya iyelah gue tahu. Secara lo pasti ngikut sama apa maunya Arsyil supaya beasiswa lo gak dicabut and lo bisa dapet tambahan duit buat kuliah lo. Gue tahu smua!” Jawab Della, ceplos.
      “Kamu tahu darimana, Del?” Tanya Safira, lagi.
      “Lo ingat kagak, gue kan sohibnya Fitri. Lo tahu kan Fitri itu siape? Fitri itu adek kandungnya Arsyil. Dan lo tahu kan kalau Arsyil itu anak direktur? Ya gue tahulah smua!” Nada bicara Della semakin tinggi.
      “Wait a minute, gue kagak ngerti-ngerti dari tadi. Yang jelasnya bagemana sih!” Aku bicara dengan sedikit berteriak.
      “Wets, santai mbak! Nggak pake teriak kali!” Della lagi-lagi membentakku. “Ceritain deh, Fir!”
      “Tata, sebelumnya aku minta maaf. Aku sama sekali gak punya maksud. Waktu hari itu, Arsyil nembak aku, tapi aku tolak. Sumpah! Aku gak pernah punya rasa sama dia. Aku nggak mau ngecewain kamu, Ta. Setelah aku tolak, Arsyil marah besar. Trus dia marah-marah aku. Dia malah ngolok aku dengan bilang kalau aku itu sok jual mahal tapi sebenarnya murahan. Aku nangis waktu itu.” Safira menjelaskan dengan tersungut-sungut.
      “Trus?” Della tak sabar ingin melanjutkan sementara aku hanya tinggal terdiam seakan tak menerima kenyataan bahwa Arsyil, orang yang begitu bijaksana di depanku, tega-teganya mengatakan hal yang sedemikian rupa  kepada orang yang telah kuanggap seperti saudaraku sendiri.
      “Trus dia ngejebak aku dengan ngancam kalau aku gak ikutin apa maunya, dia bakal narik beasiswa aku. Otomatis orangtua aku bakal kecewa berat. Apalagi sekarang orangtua aku lagi kena pailit. Hutang mereka di mna-mana gara hasil panen mereka musim ini gagal total!” Safira merengut.
      “Jadi, si Arsyil ngapa-ngapain lo aja?” Mulut Della seakan tidak ingin berhenti bertanya.
      “Dia gak ngapa-ngapain aku. Dia cuma suruh aku kerjain tugas sama skripsinya. Itu doang!” Safira meyakinkan.
      “Ah, bo’ong lo! Gue kenal banget sifatnya tu si Six Million Dollar Men!” Della semakin memaksa.
      “Dia nyuruh aku jadi pembokatnya, sampe aku hampir diraba-raba sama dia, tapi aku langsung teriak, jadi nggak jadi.” Safira menundukkan wajahnya.
      “Nah, Ta. Sekarang lo tahu kan, bagemana aslinya tuh cowok pujaan hati lo!” Della berkata sinis kepadaku, membuatku semakin tak tahan untuk mengumbar air mataku. Aku lalu berlari menuju kamarku sambil membanting pintu kamar Safira. Mataku sudah sembab karena banjir.
      “Tata!” Kudengar Safira memanggilku.
      “Udah, Fir. Dia bakal baik sendiri kok nanti.”
***
Pukul 09.00 WIB. Fakultas Kedokteran Psikologi, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

      “Eh dasar lo ya!” Plak! Tanpa sadar aku melancarkan sebuah tinjuan tepat di bawah mata kanan Arsyil, membuat semua orang serentak menatapku.
      “Eh, gue punya masalah ape ama lo!?” Arsyil membentakku sambil bersungut menahan rasa sakit.
      “Sekali lagi lo jadiin saudara gue si Safira pembokat lo, gue gak bakal takut buat laporan lo ke rektor, sekalian sama bokap lo! Jangan mentang-mentang lo anak direktur trus lo bisa lakuin semau lo!” Kali ini aku benar-benar marah tak terhingga, sampai-sampai kepalaku rasanya ingin meledak.
      “Oh, si Safira? Cewek murahan itu?” Kali ini emosiku benar-benar sampai pada titik puncaknya.
      “Ee...” Baru aku akan melayangkan tanganku lagi, tiba-tiba Prof.Anwar datang meleraiku.
      “Tata, Arsyil, kalian berdua keruangan saya!” Kata Prof.Anwar, penuh wibawa.
      “Iya, Prof.” Kataku dan Arsyil, kompak.
      Aku keluar dari ruangan Prof.Anwar dengan hati berbunga-bunga. Wajahku menampakkan raut penuh kemenangan. Akhirnya, aku berhasil! Si songong Arsyil sudah dapat ganjarannya. Dia diskors selama seminggu dan terancam bakal ngulang semester depan kalau-kalau dia kedapetan lagi berbuat kayak gini untuk kedua kalinya. Ya, meskipun aku juga harus kena skors dua hari tapi gak apalah, yang penting kebenaran tetap pada haknya (defender truth? Ci’elah!)
      “Ta, kamu diapain sama Prof? Aku khawatir banget, sumpah!” Safira dengan sigap mendekatiku lalu memelukku kencang-kencang.
      “Slow baby, slow!” Kataku menimpali.
      “Eh, gue salut ame lo! Lo berani juga ya!” Kata Della sambil menepuk bahuku.
      “Yoi dong, Tata gituh! Pokoknya kamu gak usah khawatir lagi, Fir. Urusan Arsyil gak usah dipikin. You are free now. Sekarang kamu urus aja kuliah kamu. Tapi, ada satu syarat yang mesti kamu penuhi!” Aku dengan bangganya memberikan satu persyaratan yang membuat wajah Safira yang lugu kembali memelas.
      “Bikinin nasi oreng lagi yah, aku ketagihan nih! Nasi goreng kamu enak soalnya.” Semua terdiam. Lalu serentak tawa garing menggema di angkasa.
      “Ok ok, itu gampang kok!” Safira hanya mengiyakan sambil tersenyum manis, yang membuatku terpikir betapa bangganya aku memiliki senyum semanis dia.
      “Sekarang kita ke mana?” Tanya Della.
      “Ke kantin yuk, Della yang traktir!” Safira menjawab penuh semangat.
      “Lo, kok gue?” Tanya Della, tanda tak mau nraktir.
      “Yang ultah ini hari siapa? Kamu kan, Del!” Skak Safira.
      “Ya udah deh.” Della hanya mengiyakan dengan raut pucat.
      Oh iya, aku baru ingat hari ini Della sweet seventeen. Masih muda banget umurnya, maklum SMP-SMAnya aksel semua. Aku baru menyadari betapa indahnya hidup ini jika dikelilingi oleh sahabat yang menganggap kita sebagai saudaranya sendiri. Best friend, you are myeverything.

7 Ramadhan 1433 H./27 Juli 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tinggalkan jejak kamu dengan setidaknya mengeposkan sebuah komentar :)