MOVE UP vs MOVE ON?

Move up dengan move on sama? Ah, jangan salah!

Sebagai santriwati alias murid yang sehari-harinya melanglang dengan dunia pondok, pasti ada beberapa hal yang lebih kita ketahui dibanding orang lain. Bukannya sombong, namun disinlah letak kelebihan para tilmiyzun maupun tilmiyzatun yang Insya Allah kesehariannya selalu diberkahi Allah.

Salah satunya, yaaa persepsi move on di kalangan para remaja elit dan konsumtif akan suatu hubungan 'ga jelas'  yang akrabnya disapa pacaran.

Beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan seorang teman dari Tangerang yang sedang berlibur di kampung halaman dan kebetulan dia juga adalah ekhemmmm... orang yang pernah menjadi bagian penting dalam hidup saya. Di bertanya kepada saya; Apakah saya sudah move on? Dengan tegas saya menjawab TIDAK! Dia sempat tertegun, tersentak, diam, lalu menatap mata saya dalam-dalam. Saya yang hanya duduk sambil melempar-lempar kaki  tersenyum tipis. Selang beberapa detik, saya kemudian menatap matanya yang seakan penuh tanda tanya lalu berkata pelan sambil mengernyitkan dahi; Saya tidak move on. Saya MOVE UP!

JALANI, HADAPI, SYUKURI


        “Nad, kurusanko saya lihat!”
        Yah, mungkin ini adalah kalimat pertama yang akan dilontarkan oleh teman-teman sesampainya di mahad nanti. Kurus. Ya kurus. Pada dasarnya aku memang kurus, namun mungkin kali ini kalimat kurus itu lebih menjurus pada kata ‘tidak biasanya’. Whatever-lah apa kata teman-teman nanti. Jelasnya, aku tetap sehat wal ‘afiat sampai sekarang ini. Alhamdulillah.
         Berbicara tentang kisah selama bulan puasa, Ramadhan 1435 Hijriah kali ini memiliki arti tersendiri bagiku. Mengapa? Karena pada awalnya sudah dapat kutebak aku akan menjalani puasa tahun ini kurang lebih sama dengan bulan puasa tahun lalu. Libur, pulang ke rumah, kena macet di perjalanan, ammuntuli bulang-adat doa bersama untuk menyambut 1 Ramadhan di kalangan orang Makassar-, puasa, tarwihan, privat Matematika-Fisika, ngisi ceramah, lebaran, and finally back again in our beloved campus. Tentunya pula sudah menjadi suatu kewajaran kalau tidur ‘berlebihan’ adalah salah satu absensi rutin setiap harinya. Namun kali ini semua tebakan itu salah. Salah besar.
         Hatiku sudah gusar bukan kepalang ketika bapak mengatakan “TIDAK ADA IZIN” untuk ikut pesantren Ramadhan di Enrekang. Bagaimana tidak, tahun ini adalah tahun terakhirku berstatus santriwati di IMMIM, Insyaa Allah. Namun, kedua orangtuaku tetap saja tak mau mengerti dengan hal tersebut. Alasan inilah, alasan itulah, padahal ini adalah satu-satunya kesempatanku untuk bisa merasakan yang namanya mengajar dengan teman-teman. Tahun depan? Siapa lagi yang mau ngurus ginian kalau sudah jadi maba?! Dan semenjak itu pula moodboster-ku untuk merasakan Ramadhan full experience musnah sudah. Ya, bagaikan sebuah draft autobiografi yang sebelumnya memang telah ter-save di Recycle Bin dan telah disusun seruntut mungkin namun tiba-tiba saja ter-delete tanpa sengaja. Nyessek sekali, bukan?

Lebaranku Menguap

“Sudahlah, Mawar! Kita sudah tak bisa bersatu lagi!”
    “Maksud kakak apa?!
“Saya tahu kamu sudah selingkuh dengan teman lama kamu itu!”
    “Kak, tidak mungkin saya selingkuh! Saya masih punya iman! Saya juga sekarang lagi hamil tua, Kak. Kakak tega tinggalkan saya dengan keadaan seperti ini!”
    “Kenapa tidak?! Toh, yang ada di perut kamu itu juga bukan anak aku!”
    “Kak..............”
    Sayup-sayup kudengar pertengkaran hebat kedua orangtuaku malam ini. Dari semua pertikaian hebat sebelumnya, mungkin kali ini  adalah yang terhebat dari yang terhebat. Sepersekian menit berikutnya yang kudengar hanya tangis merana ibu dan bunyi pecahan beling yang memang sengaja dihempaskan bapak ke lantai.  Malam ini, amarah bapak telah mencapai ketinggian seratus ribu kilometer di atas permukaan laut. Ya, menurutku.

Catatan Hati Seorang Jomblo Edisi “Ketika Cintaku Terbatas Oleh Sabun”



Artikel ini kutulis pada malam ke-23 Ramadhan, tepatnya tanggal 21 Juli 2014 pada pukl setengah satu dini hari. Ya, it’s so midnight, right? Benar sekali! Tapi berbekal rasa keprihatinan mendalam, akhirnya kuberanikan menulis artikel ‘serba kekurangan’ ini dan melanjutkan keesokan subuhnya karena ternyata aku ketiduran! -_-‘
    Inspirasi dari pembuatan artikel ini sendiri berdasarkan hasil perbincangan hangatku lewat sms dengan seorang saudara sehati sejiwa dan sejomblo juga *alaynya diriku u,u* siapa lagi kalau bukan Muhammad Firdaus yang akrab aku sapa dengan panggilan ‘Nyet’.
Jadi ceritanya begini,

Masih Pantaskah?

Saat ketulusan untuk mencintai itu tumbuh.
Saat keikhlasan untuk menyayangi itu mulai meranggas.
Haruskah rasa acuh tak acuh mulai berkelana dalam jiwamu yang sepi?


Entah, entah harus berapa kali kuucap kata sayang padamu.
Entah, entah harus berapa banyak perhatian berlebih yang sengaja terpatri untukmu,
Entah, entah harus berapa lembar tulisan akan rasaku tentangmu,
Namun kau tetap diam, membisu.
Namun kau tetap diam, berdiri di sana sambil berkata “Untuk saat ini kita itu teman, tidak lebih”
Tuhan pasti tahu.
Tuhan pasti tahu.
Kecintaanku padamu bukan sekedar cinta belaka.
Kecintaanku padamu bukan sekedar cerita narasi semu.
Kecintaanku padamu bukan sekedar kisah dongeng sang putri yang begitu merindukan pangerannya.
Kecintaanku padamu adalah sebuah rona kemerah-merahan,
yang akan tampak ketika kau menyadari, betapa hatiku menginginkanmu.