Satu satu, aku
sayang ibu
Dua dua, juga sayang ayah...
Sayup-sayup kudengar lagu seirama yang membuat aku semakin terhanyut dalam tidur nyenyakku. Lagu yang berbirama sama, dan endingnya dengan melodi yang sedikit naik. Lagu lama yag juga telah lama membekas di hati, yang bagai tak pernah lapuk di makan rayap jiwa yang semakin hari semakin bersemedi jauh dari titik pusaranya. Yang dulu. Ya, yang dulu. Sesuatu yang dulu yang tak akan pernah hilang dari ingatan. Yang akan selalu terpatri di benak, yang akan selalu tercantum dalam memori, yang akan selalu me-remind bahwa pernyataan ‘where there’s a will, there’s a way’ bear-benar adalah bukti yang nyata.
Dua dua, juga sayang ayah...
Sayup-sayup kudengar lagu seirama yang membuat aku semakin terhanyut dalam tidur nyenyakku. Lagu yang berbirama sama, dan endingnya dengan melodi yang sedikit naik. Lagu lama yag juga telah lama membekas di hati, yang bagai tak pernah lapuk di makan rayap jiwa yang semakin hari semakin bersemedi jauh dari titik pusaranya. Yang dulu. Ya, yang dulu. Sesuatu yang dulu yang tak akan pernah hilang dari ingatan. Yang akan selalu terpatri di benak, yang akan selalu tercantum dalam memori, yang akan selalu me-remind bahwa pernyataan ‘where there’s a will, there’s a way’ bear-benar adalah bukti yang nyata.