Catatan Hati Seorang Jomblo Edisi “Ketika Cintaku Terbatas Oleh Sabun”



Artikel ini kutulis pada malam ke-23 Ramadhan, tepatnya tanggal 21 Juli 2014 pada pukl setengah satu dini hari. Ya, it’s so midnight, right? Benar sekali! Tapi berbekal rasa keprihatinan mendalam, akhirnya kuberanikan menulis artikel ‘serba kekurangan’ ini dan melanjutkan keesokan subuhnya karena ternyata aku ketiduran! -_-‘
    Inspirasi dari pembuatan artikel ini sendiri berdasarkan hasil perbincangan hangatku lewat sms dengan seorang saudara sehati sejiwa dan sejomblo juga *alaynya diriku u,u* siapa lagi kalau bukan Muhammad Firdaus yang akrab aku sapa dengan panggilan ‘Nyet’.
Jadi ceritanya begini,

Masih Pantaskah?

Saat ketulusan untuk mencintai itu tumbuh.
Saat keikhlasan untuk menyayangi itu mulai meranggas.
Haruskah rasa acuh tak acuh mulai berkelana dalam jiwamu yang sepi?


Entah, entah harus berapa kali kuucap kata sayang padamu.
Entah, entah harus berapa banyak perhatian berlebih yang sengaja terpatri untukmu,
Entah, entah harus berapa lembar tulisan akan rasaku tentangmu,
Namun kau tetap diam, membisu.
Namun kau tetap diam, berdiri di sana sambil berkata “Untuk saat ini kita itu teman, tidak lebih”
Tuhan pasti tahu.
Tuhan pasti tahu.
Kecintaanku padamu bukan sekedar cinta belaka.
Kecintaanku padamu bukan sekedar cerita narasi semu.
Kecintaanku padamu bukan sekedar kisah dongeng sang putri yang begitu merindukan pangerannya.
Kecintaanku padamu adalah sebuah rona kemerah-merahan,
yang akan tampak ketika kau menyadari, betapa hatiku menginginkanmu.

Nad’Autobiografi xD (singkat+abal-abal)



Nahdliyati Nur Muhammad. Ya, itulah nama lengkapku. Nama yang memiliki arti ‘pembangkit cahaya Muhammad’ itu diberikan oleh ayah beberapa hari setelah aku melihat dunia yang pertama kalinya, tanggal 01 November 1996, tepatnya tujuh belas tahun yang lalu. Nama itu didedikasikan ayah saking inginnya melihat putri sulungnya menjadi umat Nabi Muhammad yang taat. Namun banyak orang yang sering mengira namaku itu adalah nama laki-laki karena memiliki kesan ‘Muhammad’ di akhirannya. Dan itu alhamdulillah tidak pernah membuatku risih karena kata ibu namaku yang juga merangkap sebagai doa sudah mulai tampak hasilnya seiring dengan berjalannya waktu. Pernah ibu ingin memberiku nama Winda Lestari, yaitu singkatan dari nama mereka berdua tapi ayah lebih memilih nama yang diberikan oleh profesornya saat beliau duduk di bangku kuliah.
Aku seorang gadis berkulit putih dengan tinggi kurang-lebih 150 cm. Perangaiku tergantung keadaan, kadang lembut, kadang juga keras. Mungkin itu semua karena didikan ayah dan ibu.
Ayah dan Ibu, Sang Penyemangat Sejati
Aku tinggal di pinggiran kota kecil nan permai di sebelah selatan Pulau Sulawesi, Bantaeng. Di sana, di Jl. H. Mangun Karim Lingkar Bissampole-lah aku, adik, beserta kedua orangtuaku tinggal di gubuk kecil yang entah mengapa selalu membuat kami merasa nyaman di dalamnya.